<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987</id><updated>2012-02-17T06:33:50.274+07:00</updated><category term='Metodologi Penelitian Agama'/><category term='Gender'/><category term='Pendidikan'/><category term='My Love'/><category term='Pengantar Filsafat'/><category term='Filsafat Islam'/><category term='Filsafat'/><category term='Hukum Islam'/><category term='Politik'/><category term='Budaya'/><category term='Cinta'/><category term='Pemikiran Modern Islam'/><title type='text'>Cahaya</title><subtitle type='html'>awal mula pengetahuan tercipta</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>55</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-701099158054421787</id><published>2010-05-30T11:27:00.004+07:00</published><updated>2010-11-10T16:53:26.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Modern Islam'/><title type='text'>MUHAMMADIYAH:  Modernisasi Gerakan dan Pemikiran Keagamaan dalam Konteks Indonesia</title><content type='html'>SEJARAH LAHIR DAN PERKEMBANGAN SINGKATNYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah adalah sebuah organisasi Islam yang besar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. sehingga Muhammadiyah juga dapat dikenal sebagai orang-orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad SAW. Atau seperti yang dikatakan oleh  H. Djarnawi Hadikusuma, penisbahan nama tersebut mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tepatnya pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H atau 18 November 1912 M, Muhammadiyah didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.  Dengan tujuan utamanya adalah mengembalikan seluruh penyimpangan yang terjadi dalam proses dakwah. Penyimpangan ini sering menyebabkan ajaran Islam bercampur-baur dengan kebiasaan di daerah tertentu dengan alasan adaptasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Ahmad Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Ahmad Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Saudi Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Ahmad Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai Ahmad Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embrio kelahiran Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi untuk mengaktualisasikan gagasan-gagasannya merupakan hasil interaksi Kyai Ahmad Dahlan dengan kawan-kawan dari Boedi Oetomo yang tertarik dengan masalah agama yang diajarkan Kyai Ahmad Dahlan, yakni R. Budihardjo dan R. Sosrosugondo. Gagasan itu juga merupakan saran dari salah seorang siswa Kyai Ahmad Dahlan di Kweekscholl Jetis di mana Kyai mengajar agama pada sekolah tersebut secara ekstrakulikuler, yang sering datang ke rumah Kyai dan menyarankan agar kegiatan pendidikan yang dirintis Kyai Ahmad Dahlan tidak diurus oleh Kyai sendiri tetapi oleh suatu organisasi agar terdapat kesinambungan setelah Kyai wafat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan Adaby Darban, ahli sejarah dari UGM kelahiran Kauman, nama ”Muhammadiyah” pada mulanya diusulkan oleh kerabat dan sekaligus sahabat Kyai Ahmad Dahlan yang bernama Muhammad Sangidu, seorang Ketib Anom Kraton Yogyakarta dan tokoh pembaruan yang kemudian menjadi penghulu Kraton Yogyakarta, yang kemudian diputuskan Kyai Ahmad Dahlan setelah melalui shalat istikharah (Darban, 2000: 34). Artinya, pilihan untuk mendirikan Muhammadiyah memiliki dimensi spiritualitas yang tinggi sebagaimana tradisi kyai atau dunia pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR-FAKTOR PENDORONG LAHIRNYA MUHAMMADIYAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Muhammadiyah dengan semangat membangun tata sosial dan pendidikan masyarakat yang lebih maju dan terdidik menampilkan ajaran Islam bukan sekadar agama yang bersifat pribadi dan statis, tetapi dinamis dan berkedudukan sebagai sistem kehidupan manusia dalam segala aspeknya. Akan tetapi, ia juga menampilkan kecenderungan untuk melakukan perbuatan yang ekstrem.&lt;br /&gt;Dalam pembentukannya, Muhammadiyah banyak merefleksikan kepada perintah-perintah Al Quran, diantaranya surat Ali Imran ayat 104:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat tersebut, menurut para tokoh Muhammadiyah, mengandung isyarat untuk bergeraknya umat dalam menjalankan dakwah Islam secara teorganisasi, umat yang bergerak, yang juga mengandung penegasan tentang hidup berorganisasi. Maka dalam butir ke-6 Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dinyatakan, melancarkan amal-usaha dan perjuangan dengan ketertiban organisasi, yang mengandung makna pentingnya organisasi sebagai alat gerakan yang niscaya. Sebagai dampak positif dari organisasi ini, kini telah banyak berdiri rumah sakit, panti asuhan, dan tempat pendidikan di seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:&lt;br /&gt;1. Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi&lt;br /&gt;2. Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat;&lt;br /&gt;3. Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman.&lt;br /&gt;4. Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;dan,&lt;br /&gt;5. Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, serta berhubung dengan kegiatan misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat&lt;br /&gt;Junus Salam, 1968: 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, jika disimpulkan, bahwa berdirinya Muhammadiyah adalah karena alasan-alasan dan tujuan-tujuan sebagai berikut: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (H.A. Mukti Ali, dalam Sujarwanto &amp; Haedar Nashir, 1990: 332).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai latarbelakang dan dampak dari kelahiran gerakan Muhammadiyah di Indonesia, berikut pandangan James Peacock (1986: 26), seorang antropolog dari Amerika Serikat yang merintis penelitian mengenai Muhammadiyah tahun 1970-an, bahwa: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;”Dalam setengah abad sejak berkembangnya pembaharuan di Asia Tenggara, pergerakan itu tumbuh dengan cara yang berbeda di bermacam macam daerah. Hanya di Indonesia saja gerakan pembaharuan Muslimin itu menjadi kekuatan yang besar dan teratur. Pada permulaan abad ke-20 terdapat sejumlah pergerakan kecil kecil, pembaharuan di Indonesia bergabung menjadi beberapa gerakan kedaerahan dan sebuah pergerakan nasional yang tangguh, Muhammadiyah. Dengan beratus-ratus cabang di seluruh kepulauan dan berjuta-juta anggota yang tersebar di seluruh negeri, Muhammadiyah memang merupakan pergerakan Islam yang terkuat yang pernah ada di Asia Tenggara. Sebagai pergerakan yang memajukan ajaran Islam yang murni, Muhammadiyah juga telah memberikan sumbangan yang besar di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Klinik-klinik perawatan kesehatan, rumah-rumah piatu, panti asuhan, di samping beberapa ribu sekolah menjadikan Muhammadiyah sebagai lembaga non-Kristen dalam bidang kemasyarakatan, pendidikan dan keagamaan swasta yang utama di Indonesia. ‘Aisyiah, organisasi wanitanya, mungkin merupakan pergerakan wanita Islam yang terbesar di dunia. Pendek kata Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang utama dan terkuat di negara terbesar kelima di dunia.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammadiyah dengan inspirasi Al-Qur‘an Surat Ali Imran 104 tersebut ingin menghadirkan Islam bukan sekadar sebagai ajaran “transendensi” yang mengajak pada kesadaran iman dalam bingkai tauhid semata. Bukan sekadar Islam yang murni, tetapi tidak hirau terhadap kehidup. Apalagi Islam yang murni itu sekadar dipahami secara parsial. Namun, lebih jauh lagi Islam ditampilkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial dalam dunia nyata kemanusiaan melalui gerakan “humanisasi” (mengajak pada serba kebaikan) dan “emanisipasi” atau “liberasi” (pembebasan dari segala kemunkaran), sehingga Islam diaktualisasikan sebagai agama Langit yang Membumi, yang menandai terbitnya fajar baru Reformisme atau Modernisme Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUHAMMADIYAH DAN IMPLIKASI GERAKANNYA DI INDONESIA&lt;br /&gt;Gagasan untuk mendirikan organisasi Muhammadiyah tersebut selain untuk mengaktualisasikan pikiran-pikiran pembaruan Kyai Ahmad Dahlan, menurut Adaby Darban (2000: 13) secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911. Sekolah tersebut merupakan rintisan lanjutan dari ”sekolah” yang dikembangkan oleh Kyai Ahmad Dahlan secara informal dalam memberikan pelajaran yang mengandung ilmu agama Islam dan pengetahuan umum di beranda rumahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan Djarnawi Hadikusuma, Sekolah/madrasah yang didirikan pada tahun 1911 di kampung Kauman Yogyakarta tersebut, merupakan ”Sekolah Muhammadiyah”, yakni sebuah sekolah agama, yang tidak diselenggarakan di surau seperti pada umumnya kegiatan umat Islam waktu itu, tetapi bertempat di dalam sebuah gedung milik ayah Kyai Ahmad Dahlan, dengan menggunakan meja dan papan tulis, yang mengajarkan agama dengan dengan cara baru, juga diajarkan ilmu-ilmu umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330 Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama ”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20 Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ”Statuten Muhammadiyah” dijelaskan maksud persyarikatan tersebut yaitu:&lt;br /&gt;1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama di Hindia Nederland,&lt;br /&gt;2. Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama Islam kepada lid-lidnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Djarnawi Hadikusuma, kata-kata yang sederhana tersebut mengandung arti yang sangat dalam dan luas. Yaitu, ketika umat Islam sedang dalam kelemahan dan kemunduran akibat tidak mengerti kepada ajaran Islam yang sesungguhnya, maka Muhammadiyah mengungkap dan mengetengahkan ajaran Islam yang murni itu serta menganjurkan kepada umat Islam pada umumnya untuk mempelajarinya, dan kepada para ulama untuk mengajarkannya, dalam suasana yang maju dan menggembirakan.&lt;br /&gt;Kelahiran Muhammadiyah sebagaimana digambarkan itu melekat dengan sikap, pemikiran, dan langkah Kyai Ahmad Dahlan sebagai pendirinya, yang mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah di kemudian hari. Kyai Dahlan, sebagaimana para pembaru Islam lainnya, tetapi dengan tipikal yang khas, memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek tauhid (‘aqidah), ibadah, mu’amalah, dan pemahaman terhadap ajaran Islam dan kehidupan umat Islam, dengan mengembalikan kepada sumbernya yang asli yakni Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shakhih, dengan membuka ijtihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai langkah pembaruan Kyai ahmad Dahlan, Adaby Darban (2000: 31) menyimpulkan hasil temuan penelitiannya sebagai berikut: ”Dalam bidang tauhid, K.H A. Dahlan ingin membersihkan aqidah Islam dari segala macam syirik, dalam bidang ibadah, membersihkan cara-cara ibadah dari bid’ah, dalam bidang muamalah, membersihkan kepercayaan dari khurafat, serta dalam bidang pemahaman terhadap ajaran Islam, ia merombak taklid untuk kemudian memberikan kebebasan dalam ber-ijtihad.”.&lt;br /&gt;Adapun langkah pembaruan yang bersifat ”reformasi” ialah dalam merintis pendidikan ”modern” yang memadukan pelajaran agama dan umum. Menurut Kuntowijoyo, gagasan pendidikan yang dipelopori Kyai Ahmad Dahlan, merupakan pembaruan karena mampu mengintegrasikan aspek ”iman” dan ”kemajuan”, sehingga dihasilkan sosok generasi muslim terpelajar yang mampu hidup di zaman modern tanpa terpecah kepribadiannya (Kuntowijoyo, 1985: 36). Lembaga pendidikan Islam ”modern” bahkan menjadi ciri utama kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah, yang membedakannya dari lembaga pondok pesantren kala itu. Pendidikan Islam “modern” itulah yang di belakang hari diadopsi dan menjadi lembaga pendidikan umat Islam secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah ini pada masa lalu merupakan gerak pembaruan yang sukses, yang mampu melahirkan generasi terpelajar Muslim, yang jika diukur dengan keberhasilan umat Islam saat ini tentu saja akan lain, karena konteksnya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan Islam yang cukup orisinal dari Kyai Ahmad Dahlan dapat dirujuk pada pemahaman dan pengamalan Surat Al-Ma’un. Gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain yang paling monumental dari pembaruan yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU). Langkah momumental ini dalam wacana Islam kontemporer disebut dengan ”teologi transformatif”, karena Islam tidak sekadar menjadi seperangkat ajaran ritual-ibadah dan ”hablu min Allah” (hubungan dengan Allah) semata, tetapi justru peduli dan terlibat dalam memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi manusia. Inilah ”teologi amal” yang tipikal (khas) dari Kyai Ahmad Dahlan dan awal kehadiran Muhammadiyah, sebagai bentuk dari gagasan dan amal pembaruan lainnya di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Ahmad Dahlan juga peduli dalam memblok umat Islam agar tidak menjadi korban misi Zending Kristen, tetapi dengan cara yang cerdas dan elegan. Kyai mengajak diskusi dan debat secara langsung dan terbuka dengan sejumlah pendeta di sekitar Yogyakarta. Dengan pemahaman adanya kemiripan selain perbedaan antara Al-Quran sebagai Kitab Suci umat Islam dengan kitab-kitab suci sebelumnya, Kyai Ahmad Dahlan menganjurkan atau mendorong ”umat Islam untuk mengkaji semua agama secara rasional untuk menemukan kebenaran yang inheren dalam ajaran-ajarannya”, sehingga Kyai pendiri Muhammadiyah ini misalnya beranggapan bahwa diskusi-diskusi tentang Kristen boleh dilakukan di masjid (Jainuri, 2002: 78).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepeloporan pembaruan Kyai Ahmad Dahlan yang menjadi tonggak berdirinya Muhammadiyah juga ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan. Langkah pembaruan ini yang membedakan Kyai Ahmad Dahlan dari pembaru Islam lain, yang tidak dilakukan oleh Afghani, Abduh, Ahmad Khan, dan lain-lain (mukti Ali, 2000: 349-353). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintisan ini menunjukkan sikap dan visi Islam yang luas dari Kyai Dahlan mengenai posisi dan peran perempuan, yang lahir dari pemahamannya yang cerdas dan bersemangat tajdid, padahal Kyai dari Kauman ini tidak bersentuhan dengan ide atau gerakan ”feminisme” seperti berkembang sekarang ini. Artinya, betapa majunya pemikiran Kyai Ahmad Dahlan yang kemudian melahirkan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam murni yang berkemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Ahamd Dahlan dengan Muhammadiyah yang didirikannya, menurut Djarnawi Hadikusuma (t.t: 69) telah menampilkan Islam sebagai ”sistem kehidupan manusia dalam segala seginya”. Artinya, secara Muhammadiyah bukan hanya memandang ajaran Islam sebagai aqidah dan ibadah semata, tetapi merupakan suatu keseluruhan yang menyangut akhlak dan mu’amalat dunyawiyah. Selain itu, aspek aqidah dan ibadah pun harus teraktualisasi dalam akhlak dan mu’amalah, sehingga Islam benar-benar mewujud dalam kenyataan hidup para pemeluknya. Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Ahmad Dahlan dalam mengajarkan Islam sungguh sangat mendalam, luas, kritis, dan cerdas. Menurutnya, orang Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehiduupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik (K.R. H. Hadjid, 2005). Kyai Ahmad Dahlan tidak ingin umat Islam taklid dalam beragama, juga tertinggal dalam kemajuan hidup. Karena itu memahami Islam haruslah sampai ke akarnya, ke hal-hal yang sejati atau hakiki dengan mengerahkan seluruh kekuatan akal pikiran dan ijtihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami Al-Quran, dengan kasus mengajarkan Surat Al-Ma’un, Kyai Ahmad Dahlan mendidik untuk mempelajari ayat Al-Qur’an satu persatu ayat, dua atau tiga ayat, kemudian dibaca dan simak dengan tartil serta tadabbur (dipikirkan): ”bagaimanakah artinya? bagaimanakah tafsir keterangannya? bagaimana maksudnya? apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan ini? apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? sudahkah kita menjalankannya?” (Ibid: 65). Menurut penuturan Mukti Ali, bahwa model pemahaman yang demikian dikembangkan pula belakangan oleh KH.Mas Mansur, tokoh Muhammadiyah yang dikenal luas dan mendalam ilmu agamanya, lulusan Al-Azhar Cairo, cerdas pemikirannya sekaligus luas pandangannya dalam berbagai masalah kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-701099158054421787?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/701099158054421787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/muhammadiyah-modernisasi-gerakan-dan.html#comment-form' title='26 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/701099158054421787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/701099158054421787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/muhammadiyah-modernisasi-gerakan-dan.html' title='MUHAMMADIYAH:  Modernisasi Gerakan dan Pemikiran Keagamaan dalam Konteks Indonesia'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>26</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6774967068164065712</id><published>2010-05-30T11:17:00.000+07:00</published><updated>2010-05-30T11:23:24.309+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Modern Islam'/><title type='text'>Nahdlatul Ulama:  Pola Pemikiran dan Gerakannya di Indonesia</title><content type='html'>A. Sejarah Nahdlatul Ulama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterbelakangan, baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana-- setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain, sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisai pendidikan dan pembebasan.&lt;br /&gt;Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon Kebangkitan Nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatut Wathan (Kebangkitan Tanah Air) 1916. Kemudian tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdlatul Fikri (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (Pergerakan Kaum Sudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagi kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal yakni mazhab wahabi di Mekah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap bi'dah. Gagasan kaum wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya, kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman, menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut.&lt;br /&gt;Karena sikapnya yang berbeda, kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al Islam di Yogyakarta 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan mengesahkan keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite Hejaz, yang diketuai oleh KH. Wahab Hasbullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia, Raja Ibnu Saud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing. Itulah peran internasional kalangan pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah serta peradaban yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagi Rais Akbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegaskan prisip dasar orgasnisai ini, maka KH. Hasyim Asy'ari merumuskan Kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khittah NU, yang dijadikan dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Paham Keagamaan&lt;br /&gt;NU menganut paham Ahlussunah waljama'ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur'an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih mengikuti satu mazhab, yaitu mazhab Syafi'i. Meskipun mengakui tiga madzhab yang lain: Hanafi, Maliki, Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.&lt;br /&gt;Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Basis pendukung&lt;br /&gt;Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas, yaitu anggota, pendukung atau simpatisan dan Muslim tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa dirujuk untuk itu. Karena sampai hari ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di tingkat apapun untuk mengelola keanggotaannya. Dari segi pendukung atau simpatisan ada dua cara melihatnya. Dari segi politik, ini bisa dilihat dari jumlah perolehan suara partai-partai yang berbasis atau diasosiasikan dengan NU, seperti PKB, PNU, PKU, Partai SUNI, PKNU dan sebagian dari PPP. Dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham kegamaan NU. Maka dalam hal ini bisa dirujuk hasil penelitian Saiful Mujani (2002) yiatu berkisar 48% dari Muslim santri Indonesia. Suaidi Asyari (Nalar Politik NU &amp; Muhammadiyah, 2009) memperkirakan ada sekitar 51 juta dari Muslim santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau pengikut paham keagamaan NU. Sedangkan jumlah Muslim santri yang disebut sampai 80 juta atau lebih merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham keagamaan NU. Belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU. Mayoritas pengikut NU terdapat di pulau jawa, kalimantan, sulawesi dan sumatera. Perkembangan terakhir pengikut NU mempunyai profesi beragam yang sebagian besar dari mereka adalah rakyat jelata, baik di kota maupun di desa. Mereka memiliki kohesifitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran ahlususunnah wal jamaah. Pada umumnya mereka memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan industrialisasi, maka penduduk NU di desa banyak yang bermigrasi ke kota memasuki sektor industri. Maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistem pendidikan, basis intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah Doktor atau Master dalam berbagai bidang ilmu selain dari ilmu ke-Islam-an baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk negara-negara Barat. Hanya saja para Doktor dan Master ini belum dimamfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Tujuan dan Usaha Organisasi&lt;br /&gt;Tujuan Organisasi&lt;br /&gt;Menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah waljama'ah di tengah-tengah kehidupan masyarakat, di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;br /&gt;Usaha Organisasi&lt;br /&gt;1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.&lt;br /&gt;2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.&lt;br /&gt;3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.&lt;br /&gt;4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang telah terbukti membantu masyarakat.&lt;br /&gt;5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Struktur Organisasi&lt;br /&gt;1. Pengurus Besar (tingkat Pusat)&lt;br /&gt;2. Pengurus Wilayah (tingkat Propinsi)&lt;br /&gt;3. Pengurus Cabang (tingkat Kabupaten/Kota) atau Pengurus Cabang Istimewa untuk kepengurusan di luar negeri&lt;br /&gt;4. Pengurus Majlis Wakil Cabang / MWC (tingkat Kecamatan)&lt;br /&gt;5. Pengurus Ranting (tingkat Desa / Kelurahan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Pusat, Wilayah, Cabang, dan Majelis Wakil Cabang, setiap kepengurusan terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Mustayar (Penasihat)&lt;br /&gt;2. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)&lt;br /&gt;3. Tanfidziyah (Pelaksana Harian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Ranting, setiap kepengurusan terdiri dari:&lt;br /&gt;1. Syuriyah (Pimpinan tertinggi)&lt;br /&gt;2. Tanfidziyah (Pelaksana harian)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Jaringan Organisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhir tahun 2000, jaringan organisasi NU meliputi:&lt;br /&gt;• 33 Wilayah&lt;br /&gt;• 439 Cabang&lt;br /&gt;• 15 Cabang Istimewa yang berada di luar negeri&lt;br /&gt;• 5.450 Majelis Wakil Cabang / MWC&lt;br /&gt;• 47.125 Ranting&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU dan Politik&lt;br /&gt;Pertama kali NU terjun pada politik praktis pada saat menyatakan memisahkan diri dengan Masyumi pada tahun 1952 dan kemudian mengikuti pemilu 1955. NU cukup berhasil dengan meraih 45 kursi DPR dan 91 kursi Konstituante. Pada masa Demokrasi Terpimpin NU dikenal sebagai partai yang mendukung Sukarno. Setelah PKI memberontak, NU tampil sebagai salah satu golongan yang aktif menekan PKI, terutama lewat sayap pemudanya GP Ansor.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6774967068164065712?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6774967068164065712/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/nahdlatul-ulama-pola-pemikiran-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6774967068164065712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6774967068164065712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/nahdlatul-ulama-pola-pemikiran-dan.html' title='Nahdlatul Ulama:  Pola Pemikiran dan Gerakannya di Indonesia'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2136009642012031473</id><published>2010-05-30T11:10:00.003+07:00</published><updated>2010-05-30T11:14:29.438+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemikiran Modern Islam'/><title type='text'>Islam dan Modernitas:  Kecenderungan Pemikiran dan Tokoh-tokoh Yang Terlibat</title><content type='html'>Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Islam dan gerakan pembaharuannya telah menjadi suatu fenomena generik dalam konteks dialektika antara Islam sebagai sebuah sistem ajaran dan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai akibat nyata dari perubahan-perubahan dan dinamika sosial-budaya. Sejak awal kemunculannya, Islam yang lahir dari marginalisasi sistem ajaran yang dominan kala itu dengan paganisme sebagai ajaran utama telah menunjukkan suatu adaptasibilitas yang luar biasa hingga akhirnya dengan mampu menunjukkan diri sebagai kekuatan dahsyat yang menciutkan nyali bangsa Arab dan sekitarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan perkembangan jaman, setelah wafatnya Nabi dan diteruskan oleh Khulafa al-Rasyidin dan kemudian digantikan oleh para tabiin dan tabi’ al-tabi’in wajah Islam semakin kompleks dengan perubahan sistem pemerintahan dan penafsiran ajaran agama yang terus berkembang. Dalam sistem pemerintahan, Islam telah beberapa kali menerapkan model-model pemerintahan mulai dari sistem teokrasi hingga oligarki. Sementara dalam sistem penafsiran ajaran, Islam telah melahirkan suatu jenis pemikiran yang tekstual dan kontekstual. Ragam dinamika ini menjadi suatu fundamen yang kokoh dikemudian hari bagi para pembaharu Islam untuk melanjutkan visi dan misi Islam guna terlibat secara secara aktif dalam menciptakan tatanan yang selaras dengan Alquran dan tradisi Rasul dan lebih konkritnya lagi adalah seperti apa yang telah Rasulullah praktekkan di Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteks Gerakan dan Pemikiran Modern Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam pemetaan Harun Nasution mengenai periodeisasi sejarah Islam, maka periode modern yang menjadi starting point bahasan kita adalah pada tahun 1800 Masehi hingga sekarang. Lebih detailnya dapat dilihat bagan di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tahun 1800 M. ini, telah terjadi benturan peradaban antara kebudayaan Islam dan Barat. Benturan ini memunculkan respons dan reaksi yang serius di kalangan Islam sendiri. Sehingga Marcel A. Boisard melihat ada 3 (tiga) fenomena yang terjadi terkait dengan persoalan ini, yaitu: reformasi, identifikasi dan afirmasi, atau dalam bahasanya Azzumardi Azra, apologetik, identifikatif, dan affirmatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya identifikasi mengarah sebagai proses pencarian otentisitas yang memberi dasar legitimasi yang membedakan diri (diferensiasi) dari kaum penjajah Barat, baik yang kapitalis maupun marxis. Sementara keniscayaan untuk melakukan reformasi yang pada mulanya secara tidak sadar cenderung dengan meniru Barat kemudian bergerak sebagai keinginan untuk mengetahui rahasia kesuksesan dunia teknis-material peradaban Barat sekaligus penegasan atas kebobrokan dunia spiritual mereka. Pada konteks ini, reaksi Islam terhadap Barat tampak mengemuka sebagai tindakan yang berorientasi ganda: satu sisi menjadikan Barat sebagai model keunggulan di bidang sains dan teknologi; dan sisi lain sebagai obyek serangan dan perlawanan. Di sini, afirmasi (peneguhan) tentang keunggulan Islam sebagai basis ideologi merupakan percampuran antara glorifikasi (ingatan akan kejayaan) masa lalu dan kesadaran terhadap perlunya pembaharuan doktrin ajaran atau pemahaman keagamaan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena responsif umat Islam tersebut sesungguhnya adalah sebuah kewajaran. Menurut ‘Abd Allah Ahmad al-Na’im, tidaklah mengherankan apabila umat Islam berupaya menegaskan identitas kulturalnya dan menggali kekuatan dari kepercayaan dan tradisi yang dimilikinya untuk memberi jawaban solutif atas persoalan sosial, ekonomi dan politik yang ada. Sehingga gerakan semacam itu kemudian dapat dibaca sebagai upaya niscaya guna menegaskan kemampuan Islam dalam melakukan reinterpretasi, mengakomodasi, bahkan mendesakkan perubahan berhadapan dengan sejarah. Suatu interpretasi strategis memang dibutuhkan untuk menyiapkan dasar pijakan yang melegitimasi klaim bahwa Islam mampu beradaptasi dan berdialog sesuai perkembangan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, gerakan pembaharuan Islam yang muncul dari berbagai aliran dan wilayah yang berbeda memiliki beberapa premis intelektual yang serupa. Pertama, Islam tidak dapat dipersalahkan atas dekadensi nyata yang diderita dunia Islam. Segala keburukan itu sepatutnya dinisbatkan kepada umat Islam yang belum dapat hidup otentik sesuai dengan ajaran agamanya. Kedua, Islam adalah agama rasional yang senantiasa menginspirasi dan menuntut kemajuan umatnya. Maka, pembaharuan menjadi niscaya untuk mengeluarkan umat dari peri kehidupan yang pasif dan statis kepada peri kehidupan Islam yang sesungguhnya yang bersifat aktif dan dinamis. Dari sinilah muncul seruan-seruan untuk melakukan gerakan pemurnian pemahaman dan praktek implementasi ajaran agama hingga ajakan untuk kembali kepada sumber otoritas agama yang asli dengan memakai pemikiran yang kritis dan merdeka. Dalam pembacaan M.C. Ricklefs, gerakan pembaharuan Islam pada mulanya memang tampil sebagai kombinasi antara ‘konservatisitas’ dan ‘progresivitas’. Yakni, perkawinan antara upaya mendobrak dominasi pemikiran madhhabi abad pertengahan melalui seruan kembali kepada sumber otentik Islam: al-Qur’an dan al-Sunnah, dengan ikhtiar berupa ijtihad baru yang secara kreatif memanfaatkan kemajuan pengetahuan modern yang telah digapai dunia Barat. Kombinasi inilah yang dipercaya bakal melempangkan jalan bagi kebangkitan kembali dunia Islam ke panggung sejarah dan peradaban.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam prakteknya, gerakan pembaharuan ini mengemuka kedalam dua aliran utama: reformis dan modernis. Kalangan reformis melihat esensialitas keterikatan gerakan dengan nilai-nilai Islam guna menentang pengaruh kebudayaan materialis asing. Anjuran kembali kepada ortodoksi ini tentu tidak menghalanginya untuk meninggalkan formulasi-formulasi klasik tertentu tentang ajaran Islam. Bagi mereka, tiap “kebangkitan” haruslah dimulai dengan reformasi keagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan modernis yang juga melihat pentingnya referensi agama bagi gerakan Islam modern yang cenderung terbuka menerima prinsip-prinsip sekuler, khususnya dalam pemikiran politik mereka. Gerakan pembaharuan Islam ini dapat dikatakan merambah hampir seluruh dunia Islam, tetapi pusat pembiakan ide-ide pembaharuan sejauh ini erat dihubungkan dengan tokoh-tokoh dari wilayah Mesir, India dan Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pembaruan”: Kata Kunci Bagi Para Pembaharu Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah “pembaruan”, sebagai terjemahan dari bahasa Inggris renew (atau istilah-istilah sejenis lainnya; purefication, reformulation, contextualisation, modernization) sebagaimana digunakan dalam wacana Islam modern mengandung pengertian yang sangat luas. Harun Nasution, misalnya, cenderung menganalogikan istilah tersebut dengan modernisme, karena istilah ini di dunia Barat mengandung pengertian arti “pikiran, aliran, gerakan dan usaha mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi lama dan sebagainya untuk disesuaikan dengan suasana baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Tujuan dari modernisme ini adalah untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama Katolik dan Protestan dengan ilmu pengetahuan modern. Gagasan ini akhirnya akan mengarah pada faham sekularisme di dalam masyarakat Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, penggunaan istilah pembaruan memiliki konotasi yang berbeda pada masing-masing tokoh yang terlibat, misalnya; Harun Nasution lebih sreg menggunakan istilah terjemahan modernisme yaitu “pembaruan”. Azzumardi Azra lebih nyaman menggunakan istilah “modernisme” itu sendiri dengan segala konotasinya. Fazlur Rahman mengkatagorikan gerakan pembaruannya dengan “neo-modernisme”. Pada kutub yang lain ada gerakan “revivalisme”, suatu faham yang bertujuan membangkitkan kembali ajaran Islam yang murni sebagaimana pernah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad dan kaum Salaf. Terdapat lagi istilah “liberalisme Islam” seperti yang digandrungi di beberapa wilayah Islam termasuk di Indonesia. Dan pada kutub selanjutnya ada “fundamentalisme Islam” yang berseberangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa istilah yang digunakan di atas, secara umum para pembaharu Islam semuanya sepakat bahwa untuk merespons perubahan-perubahan yang terjadi satu hal yang perlu dilakukan oleh umat Islam yaitu membuka kembali pintu Ijitihad yang dianggap telah ditutup pada masa periode pertengahan Islam. Menurut mereka, isu penutupan pintu ijtihad ini telah menjadikan umat Islam mandeg dan tertinggal dari dunia Barat. Padahal, menurut Muhammad Iqbal, ijtihad merupakan “prinsip gerak dalam struktur Islam” yang menjadi ruh/semangat bagi eksistensi Islam di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-Tokoh Pembaharu Islam: Suatu Pengantar Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan pembaharuan dan pemikiran Islam tersebar luas di wilayah-wilayah Islam. Di wilayah Mesir, ada nama-nama seperti Muhammad ‘Ali Pasya (1765-1849), at-Tahtawi (1801-1873), Jamaluddin al-Afgani (1839-1897), Muhammad Abduh ((1849-1905), dan Rasyid Ridha (1865-1935). Di wilayah Turki, ada Sultan Mahmud II (1785-1839), Tokoh-tokoh Tanzimat (Mustafa Rasyid Pasya, Mustafa Sami dan Mehmed Sadik Rifat Pasya), Para pemikir Usmani Muda (Ziya Pasya, dan Namik Kemal), Para pemikir Turki Muda ( Ahmad Riza, Pangeran Sabahuddin, dan Mehmed Murad), dan Mustafa Kemal (1881-1938). Di India-Pakistan, ada Syah Waliyullah, Gerakan Mujahidin, Sayid Ahmad Khan (1817-1898), Tokoh-tokoh Aligarh, Sayid Amir Ali (1849-1928), Muhammad Iqbal (1876-1938), Ali Jinnah (1876-1948), dan Abul Kalam Azad. Dan kemudian di Indonesia, kita mengenal nama, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Abdurrahman Wahid, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, memainkan peran yang strategis dalam menyebarkan faham-faham atau ide-ide baru pemikiran dan gerakan Islam. Mengenai kontribusi mereka dapat di lihat pada pembahasan-pembahasan selanjutnya. []&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2136009642012031473?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2136009642012031473/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/islam-dan-modernitas-kecenderungan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2136009642012031473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2136009642012031473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/05/islam-dan-modernitas-kecenderungan.html' title='Islam dan Modernitas:  Kecenderungan Pemikiran dan Tokoh-tokoh Yang Terlibat'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-3283091154829744660</id><published>2010-03-11T15:30:00.002+07:00</published><updated>2010-03-11T15:35:51.783+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>TEOLOGI PEMBEBASAN: RENUNGAN UNTUK AKSI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sejarah Teologi Pembebasan: Pembacaan Teoritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Juan Luis Segundo , munculnya teologi pembebasan di Amerika Latin berawal dari sebelum terbitnya buku Gustavo Gutierrez, A Theology of Liberation (1971).  Karena sejak saat itu teologi pembebasan banyak dibicarakan, dikritik, dan diagung-agungkan hingga saat ini; juga teologi yang paling tidak dimengerti. Asumsi dasar munculnya teologi pembebasan adalah kedudukan manusia sebagai makhluk yang bebas dan merdeka.  Dengan asumsi ini teologi pembebasan hendak menegaskan bahwa segala bentuk penindasan baik bersifat fisik maupun mental, dalam segala aspek kehidupan, bertentangan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Guiterrez, seperti dijelaskan dalam buku tersebut, ada tiga cara berteologi. Pertama, teologi sebagai sumber hidup rohani. Kedua, teologi sebagai pengetahuan rasional, dan ketiga, teologi sebagai refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praksis hidup orang Kristen. Guiterrez menekankan teologi pembebasan dengan cara yang ketiga, yaitu sebagai refleksi kritis dalam terang Sabda Allah atas praksis hidup orang Kristen yang ikut melibatkan diri dalam pembebasan.  Dengan demikian, hal pokok  yang harus ada adalah praksis orang Kristen sebagai langkah pertama, sementara refleksi teologis merupakan langkah kedua. Karena itu, praksis Gereja merupakan locus theologicus. Dengan kata lain, Guiterrez memahami iman sebagai realitas historis yang menjadi nyata dalam praksis sehingga refleksi atas iman adalah juga refleksi atas praksis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun praksis merupakan titik tolak refleksi teologis, hal ini tidak berarti bahwa refleksi teologis dimaksudkan sebagai justifikasi praksis yang sudah ada. Sebaliknya, refleksi teologis, menurut Guiterrez, harus menunjukkan nilai positif dan nilai negatif yang ada dalam praksis pembebasan. Bahkan dari refleksi teologis diharapkan adanya koreksi atas kesalahan-kesalahan yang mungkin ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guiterrez menjelaskan bahwa pilihan terhadap term “pembebasan” –-dari pada term “perkembangan”-- didasarkan pada pertimbangan bahwa term tersebut lebih mengungkapkan perlunya perubahan secara radikal, suasana konflik, dan kesukaran-kesukaran yang ada. Di samping itu, term “pembebasan” digunakan karena sejarah manusia merupakan sejarah pembebasan.  Karena itu, term “pembebasan” lebih dapat mengungkapkan gagasan Kitab Suci.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Term “pembebasan” (liberation), yang muncul khas Amerika Latin baru muncul pada Dokumen Medellin (1968), semula merupakan term yang dibakukan sebagai reaksi terhadap term “pembangunan” (development) yang hidup subur baik di Amerika Latin maupun di bagian bumi lainnya. Term “pembangunan” membawa misi sistem ekonomi politik liberal kapitalis. Sistem tersebut mengetengahkan dalil bahwa ekonomi politik akan meratakan hasilnya kepada semua pihak yang berperan serta di dalamnya baik dengan modal maupun tenaga yang diberikan, apabila mekanisme pertukaran pasar dibiarkan berjalan dengan sendirinya. Sistem ekonomi semacam ini justru menimbulkan jurang yang semakin dalam antara yang kaya dan yang miskin, antara negara yang kaya dan yang miskin. Situasi ini oleh CELAM II di Medellin dianggap sebagai institutionalized violence (kekerasan yang menginjak si miskin yang telah terlembagakan). Oleh karena itu, term “pembangunan” dianggap telah menjadi milik kaum penindas dan penguasa untuk membenarkan praktik penindasannya. Term yang cocok untuk kaum tertindas adalah “pembebasan”.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai counter balik terhadap ideologi globalisasi yang merusak tatanan kehidupan, dan didukung oleh struktur kekuasaan negara yang hegemonik dan otoriter serta institusi kuat seperti militer dan institusi agama (Gereja Kristen), Wahono Nitiprawiro menempatkan teologi pembebasan sebagai upaya mensiasati globalisasi dengan menawarkan paradigma dan cara bertindak yang membebaskan manusia tanpa kekerasan, atau disebut praksis, dari segala macam kedosaan yang merambah sistem kehidupan dengan segala dimensinya. &lt;br /&gt;Secara historis, menurut Segundo dan Pieres, munculnya teologi pembebasan di Amerika Latin dianggap sebagai gebrakan baru dalam berteologi. Terlebih ketika teologi ini dihadapkan pada realitas di mana teologi yang ada tidak lagi berpihak kepada manusia. Hal ini pertama-tama tidak terletak pada objek kajian dan isi, tetapi pada metodenya, cara berteologi, analisis kemasyarakatan, dan locus-theologicus-nya. Sesuatu yang sama sekali berbeda dengan metode berteologi di Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teologi pembebesan dengan jelas menggunakan metode analisis sejarah perjuangan kelas yang dimulai dengan praksis untuk mengubah basis hubungan sosial ekonomi. Dengan metode materialisme sejarah, praksis tersebut mengubah refleksi teologis yang mandeg (superstruktur). Berteologi adalah langkah kedua setelah praksis. Bagi Guiterrez, teologi bukan merupakan kebijaksanaan, bukan pula pengetahuan rasional, melainkan refleksi kritis atas praksis yang diterangi oleh Sabda Injil. Di Amerika Latin, itu berarti refleksi kritis atas praksis sejarah pembebasan.  Jadi, teologi pembebasan a la Guiterrez dapat dikatakan bukan bersifat ortodoksi (memantapkan ajaran) dan bukan pula hanya ortopraksis (menuntut aspek praksis semata), tetapi bersifat heteropraksis, yaitu ortodoksi sejauh bersumber pada ortopraksis (rumusan ajaran sejauh berpangkal dari pengalaman konkret dan kembali secara baru kepada tindakan yang dituntut oleh rumusan ajaran tersebut).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Teologi Pembebasan Dalam Islam: Suatu Telaah atas Pemikiran Farid Essack&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tentang Farid Esack&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid Esack lahir pada tahun 1958 di pinggiran kota Cape Town, tepatnya di Wymberg, dari seorang ibu yang ditinggal suaminya bersama lima orang anaknya yang lain di Wynberg. Sepeninggal sang ayah yang raib, Esack bersama saudara kandung dan saudara seibu hidup terlunta-lunta di Bonteheuwel, kawasan pekerja miskin untuk orang hitam dan kulit berwarna. Dalam buku Quran Liberation and Pluralism, Esack banyak mengulas kisah pahit keluarganya yang pada akhirnya sangat mewarnai cara pandang pemikiran Esack di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Afrika Selatan secara keseluruhan, tempat Esack dilahirkan dan dibesarkan, adalah wilayah di mana pluralitas agama tumbuh dan berkembang. Sejak kecil Esack sudah bersentuhan  dengan tetangga-tetangganya yang Kristen baik di rumah maupun di sekolah. Di sekolah, ia berteman dengan seorang Yahudi bernama Frank, dan Tahirah seorang perempuan Baha’i.  Di wilayah Wynberg dan Bounteheuwel, kelompok-kelompok suku asli Khoikhoin, Nguni, San dan lainnya dikenal dengan kepercayaan yang berbeda-beda, di samping penduduk asli Muslim dan pendatang baru dari Indonesia pada pertengahan abad ke-17. Ada juga penganut agama Hindu dan Yahudi yang sudah masuk pada pertengahan kedua abad ke-19, serta orang-orang Yahudi dari Eropa Timur pada awal abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keterhimpitan hidup, Esack tetap rajin bersekolah meski tanpa alas sepatu dan buku-buku yang memadai. Namun, di atas segalanya, tiada pengalaman traumatik yang menggores luka keluarga Esack, kecuali tatkala ia menyaksikan ibunya menjadi korban pemerkosaan. Sebuah kenyataan pahit yang dialami keluarganya itu menjadi salah satu inspirasi penting dalam perkembangan pemikiran Esack yang meyakini bahwa berteologi bukan berarti mengurusi “urusan” Tuhan semata: neraka, surga dan lain-lain.  Bagi Esack, teologi yang terlalu mengurusi Tuhan, sementara Tuhan adalah zat yang tidak perlu diurus dan dibela, adalah teologi mubazir yang terlalu banyak menyedot energi umat. Esack meyakini bahwa teologi harus dipraksiskan, bukannya digenggam erat-erat untuk tujuan kesalehan personal (individual piety). Dengan mendekati dan mengasihi makhluk-Nya, demikian Esack, maka kita sama saja telah mengabdi kepada Tuhan.  Satu pengalaman eksistensial lainnya yang berkaitan dengan berteologi praksis di atas, yang melampaui batas demarkasi ideologis sempat dialami Esack dan keluarganya. Yaitu tatkala kesulitan hidup makin mendera, keluarga Esack sangat bergantung kepada para tetangga Kristen yang selalu rutin memberi makanan ala kadarnya. Hubungan sosial yang begitu harmonis yang bahkan mengatasi sekat agama itulah yang mendorong Esack lebih supel dalam bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Konsep Teologi Pembebasan Essack&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Essack, cara berteologi yang dikembangkan para teolog pembebasan Amerika Latin menemukan relevansinya dalam konteks perjuangan rakyat Afrika Selatan. Di bawah kekuasan politik apartheid (white tribe) yang minoritas, rakyat Afrika Selatan (black tribe) sebagai warga mayoritas harus menerima kenyataan menjadi objek penindasan dan perlakuan yang bersifat rasialis, yang tidak jarang mendapatkan legitimasi jargon-jargon agama (Islam) oleh elit agama yang akomodasionis. Karena itu, Esack memaknai iman sebagai suatu keyakinan yang lahir dari perjuangan menegakkan keadilan dan kesetaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sejarah teologi pembebasan ini, Esack memaknai teologi dalam Islam dalam kerangka pembebasan manusia dari penindasan. Untuk merumuskan konsep teologinya tersebut, Essack menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan argumentatifnya. Penjelasan konsepnya tersebut dapat dilihat di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep-Konsep Pokok Teologi Pembebasan dalam Al-Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai pedoman dasar bagi umat Islam, memiliki konsep-konsep kunci yang menurut Essack merupakan landasan berpijak bagi teologi pembebasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun konsep-konsep kunci tersebut adalah takwa (al-taqwa), tauhid (al-tawhid), manusia (al-nas), kaum tertindas (al-mustad’afuna), keadilan (‘adl dan qisth) dan perjuangan (jihad). Dua konsep pertama, takwa dan tauhid, meskipun terfokus pada pembangunan kriteria moral dan doktrinal-teologis, namun keduanya lebih dipahami dalam konteks histotis-politik tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua konsep berikutnya, manusia dan kaum tertindas, menetapkan pada aktifitas dan lokasi sosial seorang penafsir. Konteks sosial seorang penafsir sangat berperan terhadap hasil interpretasi. Dan, seorang penafsir mempunyai kebebasan memposisikan dirinya dalam suatu lokasi dan episode tertentu untuk menghasilkan jenis dan hasil interpretasi tertentu. Dua konsep terakhir, keadilan dan perjuangan (jihad), merefleksikan suatu metode dan etos yang membentuk dan menghasilkan pemahaman kontekstual tentang teks-teks al-Qur’an dalam masyarakat yang diwarnai ketidakadilan.&lt;br /&gt;Eksodus (Hijrah) sebagai Paradigma Teologi Pembebasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci pokok lainnya bagi teologi yang membebaskan adalah fenomena eksodus.  Fenomena eksodus dalam al-Qur'an ini bagi kalangan Islamis Afrika Selatan merupakan cermin dalam memaknai kembali ajaran-ajaran al-Qur'an. Pemaknaan ini tidak hanya terjadi dalam situasi sejarah aktual mereka, tetapi juga di dalam konteks perkembangan berbagai ideologi yang saling berkembang dalam gerakan pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Esack, menggunakan paradigma religius-historis pra-Mekkah adalah sama tuanya dengan Islam itu sendiri. Beberapa tema dalam paradigma eksodus lebih terkait langsung dengan dengan situasi umat Islam Afrika Selatan daripada peristiwa Mekkah dan Madinah generasi awal.  Meskipun paradigma ini tidak dapat dianggap sebagai skema dasar pemikiran teologi Islam progresif, tetapi ia merupakan contoh penting dari teologisasi yang membebaskan. Esack menggarisbawahi dua tema pokok paradigma eksodus dan bagaimana keduanya digunakan selama perjuangan. Pertama, sebuah visi masa depan yang didasarkan atas pemenuhan janji Allah kepada kaum mustad'afin. Kedua, legitimasi bagi prinsip-prinsip dan strategi politik di dalam perjuangan untuk pembebasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema kematian tirani yang tak terhindarkan dan sebuah visi pembebasan dari beberapa teks pertama surat Qashash, menghasilkan tiga elemen utama sebagai konsep pembebasan baru dari hermeneutika al-Qur'an. 1) Allah dengan sengaja berpihak kepada kaum tertindas dan marjinal; 2) Pembebasan selalu didasarkan atas penghapusan penindasan dan terkadang atas penghancuran kaum penindas; dan 3) Visi pembebasan diberikan kepada mereka yang tertindas dan tidak harus kepada mereka yang beriman atau hidup dalam kebajikan. Elemen pertama dijelaskan Esack dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Realitas di mana kita hidup dicirikan oleh penindasan, kemiskinan, ekploitasi bumi dan manusia, perjuangan di antara kelas, dan oleh ketiadaan komitmen jenis apapun kepada Allah sebagai Sang Pemelihara. Lebih dari dua pertiga umat manusia sengsara karena mereka berasa di dasar sistem, tempat kaum tak berdaya. Kita mesti menemukan sebuah pemahaman tentan Islam yang berhubungan dengan realitas ini."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esack melihat tiang fondasi hermeneutika pembebasan sedang diperkenalkan. Perbedaan pemahaman tentang Islam diakui dan sebuah pilihan sadar dibuat untuk menerima pemahaman tertentu dan menolak pemahaman yang lain. Esack memiliki pilihan: memilih sistem nilai yang menindas dengan mengabaikan Allah dan kaum tertindas, atau memilih mereka dan mencari jalan serta alat untuk menerobos dan pergi melampaui sistem yang belaku. Menurut Esack, Allah memilih yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan penafsir klasik sepakat bahwa janji keutamaan (al-immah) ada di dalam dunia dan agama (fi al-dunya wa al-aldin). Mayoritas mereka juga berpendapat bahwa pewarisan bermakna pemerintahan dan kerajaan (wulatan wa mulkan). Di sini, visi dengan kesalehan yang berlebihan, yang membatasi pemenuhan janji Allah secara esensial pada masa depan eskatologis, secara tidak langsung ditolak. Dengan demikian, versi ortodoks doktrin Sunni yang sering memfasilitasi sebuah persetujuan diam-diam yang fatalistik atas penindasan dibalik. Penolakan ini terlihat dalam kutipan yang dimuat dalam Seruan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terdapat beberapa... yang mengatakan bahwa penindasan berada dalam takdir kita... apabila penindasan berada dalam takdir kita maka pembebasan juga merupakan takdir kita..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen kedua, seperti dijelaskan Esack, adalah bahwa ayat-ayat ini mendasarkan pembebasan pada penghancuran kaum penindas dan menyokong tujuan ganda perjuangan Afrika Selatan; mengakhiri apartheid dan penciptaan sebuah masyarakat yang bebas. Terhadap orang-orang yang menginginkan kebebasan tetapi tanpa banyak pengorbanan, ayat-ayat ini berperan sebagai pengingat bahwa penghancuran penindasan adalah prasyarat dari restrukturisasi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen ketiga dijelaskan Esack sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penindasan adalah kejahatan pada dirinya dan pembebasan adalah kebajikan dalam dirinya –terlepas dari bagaimana kaum tertindas memperlakukan pembebasan. Nabi Musa membebaskan rakyatnya dari penindasan Fir'aun...terlepas dari kenyataan bahwa mereka jelas tidak siap untuk kebebasan mereka." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir dari tema pertama ini, Esack menggarisbawahi bahwa identifikasi Allah dengan kaum tertindas –-yang tidak harus muslim—- merupakan embrio untuk sebuah teologi agama-agama, yang menerima keabsahan keyakinan (non-Islam) kaum tertindas. Teologi yang seperti ini akan muncul dari sebuah teologi pembebasan. Hassan Solomon, yang saat itu merupakan tokoh Seruan, menjelaskan bahwa persatuan kaum tertindas adalah yang paling pokok. Semua utusan Allah berada dalam satu persaudaraan. Pesan mereka pada dasarnya adalah satu dan ajaran mereka adalah satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Qashash dan paradigma eksodus menjadi penting bagi pembentukan atau keabsahan wacana ini, seperti tercermin dalam beberapa prinsip di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, prinsip non-kolaborasi. Prinsip ini berarti penolakan untuk berpartisipasi di dalam struktur politik rezim apartheid. Dari perspektif Islam, seperti dikutip Esack dalam terbitan Qiblah, tidak akan pernah ada kehidupan yang damai di antara penindas dan tertindas, Musa dan Fir'aun. Umat muslim juga tidak akan berkompromi dengan penindasan, eksploitasi, dan ketidakadilan. Namun demikian, lanjut Esack, tidak hanya penentang apartheid yang menggunakan beberapa aspek dari paradigma eksodus untuk legitimasi teologis. Pendukung kolaborasi juga mencari dukungan dari paradigma eksodus. Apabila pembangunan politik adalah penyebab dari semua penindasan ini, maka bukankah kita seharusnya menjadi bagian dari pemerintahan untuk menyelesaikan masalah ini? Bukankah al-Qur'an memerintahkan Musa untuk berbicara dengan Fir'aun mengenai kebebasan kaum Israel?. Terhadap pertanyaan ini, Esack memberi penjelaslan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meskipun memang benar Musa pergi untuk menuntut kebebasan bagi umatnya, tetapi ia tidak menjadi bagian dari sistem mereka, (juga tidak) tinggal di sana. Ia hanya menyatakan tuntutannya dan pergi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, berkolaborasi dengan apartheid atas dasar interaksi Musa dengan Fir'aun tidak dapat diterima. Meskipun surat Qashash juga memuat kisah tentang prinsip kolaborasi, namun ia tidak dilambangkan oleh Musa, tetapi oleh Qarun, yang dalam bahasa perjuangan disebut sebagai "pengkhianat". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, prinsip perjuangan lintas-kelas/ warna-kulit. Mengutip pernyataan Ibrahim Rasool, Sekretaris Nasional Seruan, Esack menjelaskan bahwa perjuangan ini tidak mengenal demarkasi atau garis pembeda kelas atau ras yang jelas. Konsep bahwa semua orang kulit putih adalah jahat dan semua elemen borjuis tidak dapat dipercaya, ditolak sebagai tidak Islami. Untuk menyatakan penolakan ini, sebuah dokumen Seruan menyatakan bahwa Islam tidak menilai orang atas dasar ras dan warna kulit atau asal kelas sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan Seruan ini didasarkan pada penggunaan paradigma eksodus secara luas dan merujuk ke hal-hal berikut: Islamnya Aisyah binti Mazahim, istri Fir'aun, yang dalam al-Qur'an digambarkan sebagai seorang yang beriman dan memiliki spiritualitas yang tinggi. Kemudian, Islamnya para penyihir. Meskipun mereka mendapatkan keuntungan dari kedekatan mereka dengan istana Fir'aun, tetapi mereka masih menerima pesan Islam dan, secara tidak langsung, juga menerima pembebasan Bani Israil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan rujukan terakhir adalah Musa dibesarkan sebagai seorang anak kelas penguasa. Merujuk pada cara Musa dibesarkan di istana Fir'aun, AH Johns mengatakan bahwa kehidupan di istana memiliki gayanya sendiri, dan tanpa bisa dihindari, hal itu berpengaruh pada individu yang tumbuh menjadi dewasa di lingkungan tersebut, tidak peduli seberapa besar pengertian dan sensitifitas individu tersebut.  Atas pernyataan ini Esack meyakini bahwa asal kelas sosial Musa nampaknya tidak menghalangi pemilihan dirinya sebagai pembebas umatnya. Gagasan yang disebut Rasool sebagai kebaikan potensial yang inheren dalam diri manusia, terlepas dari apa asal kelas sosial dan ras mereka, terikat rapi dengan ideologi ND yang menyatakan bahwa semua kekuatan terlepas dari ras atau warna kulit adalah sekutu di dalam perjuangan melawan apartheid.()&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-3283091154829744660?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/3283091154829744660/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/03/teologi-pembebasan-renungan-untuk-aksi.html#comment-form' title='9 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3283091154829744660'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3283091154829744660'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/03/teologi-pembebasan-renungan-untuk-aksi.html' title='TEOLOGI PEMBEBASAN: RENUNGAN UNTUK AKSI'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2738420276422915781</id><published>2010-03-11T09:18:00.004+07:00</published><updated>2010-03-11T12:11:00.278+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cinta'/><title type='text'>ADA APA DENGAN CINTA?</title><content type='html'>Diskursus cinta adalah tema abadi yang senantiasa tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Ia sesuatu yang fitri sekaligus manusiawi. Artinya, setiap dari kita mesti akan mengalami apa yang namanya cinta, entah mencintai ataupun juga dicintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara cinta dalam ranah remaja seringkali tema ini menjadi hal yang complicated (begitu jelemet) karena biasanya bercampur baur dengan dimensi lainnya, seperti nafsu birahi, fantasi-fantasi (auham) dan gejolak-gejolak yang sering kali destruktif. Pertanyaan mengenai apakah cinta (sebagai kata benda) dapat memotivasi seseorang meraih prestasi atau bahkan menjerumuskannya pada kegagalan adalah persoalan-persoalan yang sering menimpa para remaja kita ketika sedang menempuh pendidikannya. Di akui atau tidak, fakta atau fenomena sosial yang terjadi akhir-akhir ini begitu menggelisahkan kita semua khususnya dikalangan pelaku pendidikan. Berapa banyak kasus siswa/siswi dengan atas nama cinta merelakan kehormatannya demi “cinta” yang katanya fitri itu, atau atas nama “cinta” pula sering juga mereka putus sekolah untuk mengejar mimpi-mimpi sesaat. Yah.. begitulah cinta dimaknai, ditafsiri, dipraktekkan oleh mereka yang memuja cinta sekaligus menghempaskannya pada kuburan sejarah yang kelabu. Kita merenung, apakah itu yang namanya Cinta !&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaknai cinta seperti di atas, tentu jauh api dari panggang. Cinta membutuhkan kesiapan, cinta membutuhkan mental kedewasaan, dan tentunya cinta membutuhkan pengorbangan. Karena cinta bukan barang biasa maka semestinyalah ia juga diperlakukan secara istimewa. Di antara kita, banyak yang mengartikan cinta hanya sebatas hasrat untuk memiliki pasangan jenis kita (baca: pacar). Ataupun yang lebih parah, cinta hanya untuk cipika-cipiki agar tampak bahwa kita saling mencinta. Dan ada banyak lagi hal-hal yang lainnya. Tapi menurut saya, cinta dalam pengertian itu adalah cinta dalam maknanya yang sangat umum –bahkan bisa jadi itu bukan cinta– makanya, pacaran atas dasar cinta demikian tidak jarang membunuh pemiliknya sendiri, menggagalkan cita dan masa depannya. Sementara cinta pada dimensinya yang dalam (substansial), senantiasa menginspirasi seseorang untuk melakukan hal-hal positif, berfikir logis ataupun memperkaya intuitifnya untuk lebih mengenal sesama atau bahkan mengenalkannya pada sang “pemilik hakiki” dari cinta itu sendiri; yaitu, Tuhan. Nah.. mungkin pada makna cinta yang kedua inilah, ia menjadi motivator untuk meraih prestasi dan cita-citanya. Kalaupun istilah “pacaran” harus ada, tentunya harus didasarkan pada model makna cinta yang kedua ini; mencerahkan (enlightment), menginpirasikan (inspiration), dan mencerdaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran pada model cinta yang kedua, adalah ta’aruf  dalam konteks Islam jika kaitannya dengan sesama makhluk. Ta’aruf  dilakukan untuk penjajakan, saling mengenal. Tujuannya agar terjadi kehamonisan dan kebahagiaan dikemudian hari jika biduk rumah tangga telah terajut. Ta’aruf adalah solusi bagi kita untuk memastikan dan menguji cinta itu apakah cinta-birahi atau cinta-suci. Kita percaya bahwa cinta suci tak ada dibelakangnya nafsu kotor yang hanya biologis-oriented. Mengejar kenikmatan sesaat dan mengorbankan kebahagian abadi. Opini saya tentang pacaran yang membawa mashlahah pada prestasi harus dilihat dalam kontek cinta model apa yang dianutnya. Cinta madhhab birahi atau cinta madhhab ilahi/suci? Dimanakah cinta kita ![]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2738420276422915781?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2738420276422915781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/03/ada-apa-dengan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2738420276422915781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2738420276422915781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2010/03/ada-apa-dengan-cinta.html' title='ADA APA DENGAN CINTA?'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6563077021822391212</id><published>2009-09-08T20:01:00.004+07:00</published><updated>2009-09-08T20:20:30.385+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>PARA FILSUF JAMAN HELLENISTIS (Jaman Yunani-Romawi)</title><content type='html'>(Pokok Bahasan VIII)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGERTIAN HELLENISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Helenisme adalah istilah modern yang diambil dari bahasa Yunani kuno &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hellenizein&lt;/span&gt; yang berarti “berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to speak or make Greek&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggunaan Istilah Hellenisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Helenisme Klasik&lt;/span&gt;: Yaitu kebudayaan Yunani yang berkembang pada abad ke-5 dan ke-4 SM. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Helenisme Secara Umum&lt;/span&gt;: Istilah yang menunjuk kebudayaan yang merupakan  gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir yang lebih tua.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rentang Waktu Masa Hellenis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama periode ini kurang lebih 300 tahun, yaitu mulai 323 SM (Masa Alexander Agung atau Meninggalnya Aristoteles) hingga 20 SM (Berkembangnya Agama Kresten atau Jaman Philo)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Hellenisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Helenisme ditandai dengan fakta bahwa perbatasan antara berbagai negara dan kebudayaan menjadi hilang. Kebudayaan yang berbeda-beda yang ada pada jaman ini melebur menjadi satu yang menampung gagasan-gagasan agama, politik, dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;2. Secara umum, ditandai dengan keraguan agama, melarutnya kebudayaan, dan pesimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fenomena Hellenisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam Konteks Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ciri umum pembentukan agama baru sepanjang periode Helenisme adalah muatan ajaran mengenai bagaimana umat manusia dapat terlepas dari kematian. Ajaran ini sering kali merupakan rahasia. Dengan menerima ajaran dan menjalankan ritual-ritual tertentu, orang yang percaya dapat mengharapkan keabadian jiwa dan kehidupan yang kekal. Suatu wawasan menyangkut hakikat sejati alam semesta dapat menjadi sama pentingnya dengan upacara agama untuk mendapatkan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam Konteks Filsafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Filsafat bergerak semakin dekat ke arah ‘keselamatan’ dan ketenangan. Filsafat juga harus membebaskan manusia dari pesimisme dan rasa takut akan kematian. Dengan demikian batasan antara agama dan filsafat lambat laun hilang.&lt;br /&gt;Secara umum, filsafat Helenisme tidak begitu orisinal. Tidak ada Plato baru atau Aristoteles baru yang muncul di panggung. Sebaliknya, ketiga filsuf besar itu menjadi sumber ilham bagi sejumlah aliran filsafat yang akan kita kemukakan secara ringkas setelah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam Konteks Ilmu Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan Helenistik pun terpengaruh oleh  campuran pengetahuan dari berbagai kebudayaan. Kota Alexandria memainkan peranan penting di sini sebagai tempat pertemuan antara Timur dan Barat. Sementara Athena tetap merupakan pusat filsafat yang masih menjalankan ajaran-ajaran filsafat Plato dan Aristoteles, Alexandaria menjadi pusat ilmu pengetahuan. Dengan perpustakaannya yang sangat besar, kota itu menjadi pusat matematika, astronomi, biologi, dan ilmu pengobatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Para Filsuf Jaman ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. EPIKUROS&lt;/span&gt;: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenikmatan adalah Awal dan Akhir Hidup yang Bahagia&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, tujuan hidup ini adalah untuk mencapai kebahagiaan. Sesuatu dapat dianggap bahagia bila itu terkait dengan KENIKMATAN. Karena segala macam keutamaan hanya akan mempunyai arti sejauh membawa orang pada rasa nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dimaksud rasa nikmat oleh Epikuros?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenikmatan, baginya, diartikan sebagai keadaan negatif; yaitu tidak adanya rasa sakit dan kegelisahan hidup. Kenikmatan ini tentunya mencakup kenikmatan indrawi dan batin/ketenangan jiwa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ataraxia&lt;/span&gt;). Dan epikuros memberikan prioritas pada kenikmatan yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai ketenangan jiwa ini, Epikuros menganjurkan:&lt;br /&gt;1. Agar orang menjauhkan diri dari kesibukan ber polis karena kegiatan ini berisiko tinggi terhadap ketenangan jiwa. Berkumpul dengan sahabat-sahabat karib dan membina hubungan dengannya jauh lebih menguntungkan dan membantu kita mencapai ketenangan jiwa.&lt;br /&gt;2. Mengusahakan sikap ugahari dan menahan diri dalam memuaskan kenikmatan indrawi yang sementara. Atau dengan kata lain, orang harus pandai melakukan kalkulasi kenikmatan, dan juga rasa sakit, dengan berpatokan pada kenikmatan jangka panjang yang akan diraih dikemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. ZENON (333-262 SM)&lt;/span&gt; “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tujuan Terakhir Adalah Hidup Sesuai Dengan Alam&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zenon adalah pendiri madzhab Stoa (Stoisisme) yang berseberangan pahamnya dengan Epikuras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari rasa takjubnya pada segala keteraturan dan keindahan dunia, seluruh fondasi filsafatnya dibangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keyakinannya,  keteraturan dunia yang menakjubkan  ini bukanlah suatu kebetulan belaka melainkan sesuai dengan rencana bijaksana dari logos. (logos: dalam ajaran Stoa miliki arti tidak hanya rasio manusia tapi juga rasio dunia yang kreatif yang sejajar dengan Allah, Zeus,) Ajaran ini selanjutnya disebut panteisme, yakni pandangan bahwa Allah dan Alam merupakan kenyataan yang satu dan sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan  pandangan di atas, maka apa yang ditentukan oleh logos haruslah diusahakan dan diikuti oleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konsep etikanya; “Manusia hendaknya mengikuti saja suratan takdir dan penentuan alam baginya. Dengan demikian, ia akan mencapai harmoni dengan alam yang akan membawanya kepada kebahagiaan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;eudaimonia&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, hukum alam harus ditaati terlepas dari perasaan senang atau tidak, menguntungkan atau merugikan, mengenakkan atau menjengkelkan. Soalnya bagi Zenon, kebahagiaan terletak dalam tekad keras menjalankan kewajiban demi hukum alam yang objektif, bukan demi perasaan atau selera subjektif orang perorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. PLOTINUS(204-270 SM)&lt;/span&gt;: "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang Esa&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plotinus adalah filsuf pada puncak jaman Yunani Kuno yang merangkum dan mensintesakan dari berbagai aliran filosofis pada masanya, termasuk aliran pemikiran filsafat timur (persia dan India). Namun karena inspirasi utama filsafat Plotinus adalah pemikiran Plato, maka filsafatnya disebut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;NEO-PLATONISME&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pokoknya, seluruh sistem filsafat Plotinus berpusat pada Yang Esa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to hen&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the one&lt;/span&gt;), yang terkadang juga ia sebut sebagai Yang Baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG ESA dalam pandangan Plotinus adalah kenyataan atau realitas negatif. Yaitu, Yang Esa tidak dapat dibicarakan, tidak dapat dipikirkan, dan tidak dapat diidentifikasikan. Ia bukan sesuatu dan bukan roh. Yang Esa yang Yang Esa. Tanpa atribut apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Plotinus, Semua yang ada berasal dari dan menuju kepada Yang Esa. Ia adalah dan tujuan segala sesuatu. Dalam menjelaskan proses berasal dan menuju kepada Yang Esa ini, Plotinus menggunakan konsep &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Emanasi&lt;/span&gt; pelimpahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai Emanasi ini, Muhammad Hatta melukiskan demikian:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Yang Esa (The One) itu adalah sumber semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar yang banyak tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalah Yang Esa. Di dalam Yang Esa itu yang banyak belum ada, sebab di dalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Esa itu sempurna, tidak memerlukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. Di dalam filsafat klasik Yang Asal itu dikatakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai Penggerak Pertama. Di situ selalu dikemukakan dua hal yang berlawanan, seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan. Penggerak Pertama itu berada di luar alam nyata, sifatnya transendens.&lt;/blockquote&gt;Sementara yang berkaitan dengan konsep emanasinya Plotinus, Hatta menjelaskan lebih lanjut:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;... Tidak ada (dua hal) yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang itu tetap menjadi bagian dari Yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada di dalam alam, melainkan alam berada di dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin tidak sempurna ia. Alam ini bayangan Yang Asal, tetapi tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan Yang Asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari Yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6563077021822391212?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6563077021822391212/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/para-filsuf-jaman-hellenistis-jaman.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6563077021822391212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6563077021822391212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/para-filsuf-jaman-hellenistis-jaman.html' title='PARA FILSUF JAMAN HELLENISTIS (Jaman Yunani-Romawi)'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2818076743203264280</id><published>2009-09-03T16:35:00.003+07:00</published><updated>2009-09-03T17:19:59.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>JAMAN PENCERAHAN (AUFKLARUNG)</title><content type='html'>(Pokok Bahasan XI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENCERAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Aufklärung, Jerman; Enlightenment, Inggris; eclaircissement, Prancis) berlangsung selama abad ke-17 dan ke-18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ini terjadi dua peristiwa penting, yaitu: The Glorious Revolution di Inggris tahun 1688 dan Revolusi Prancis tahun 1789.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;sapare aude !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;beranilah berpikir sendiri&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semboyan di atas menandai dimulainya jaman pencerahan. Immanuel Kant (1724-1804) menegaskan bahwa “pencerahan” merupakan sikap pembebasan manusia dari ke-tidak-dewasa-an (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;unmündigkeit&lt;/span&gt;) akibat kesalahannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan itu terletak dalam keengganan atau ketidak-inginan manusia untuk memamfaatkan rasionya; orang lebih suka berpaut pada otoritas lain di luar dirinya (wahyu ilahi, nasihat para ahli, otoritas agama, atau negara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan pencerahan akan masa depan yang cerah mendapat dukungan kuat dari ilmu pengetahuan yang berkembang pesat kala itu, terutama ilmu pengetahuan alam dan teknik. Misalnya di Inggris, muncullah Isaac Newton (1643-1727) dengan hukum gravitasinya yang tidak mengijinkan segala macam spekulasi atau hipotesis atas fenomena dunia, melainkan menjamin kepastian. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hypotheses non fingo&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan penyair, Newton dipuja sebagai pembawa terang: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nature and nature’s laws lay hid in night. God said, “Let Newton be!” and all was light&lt;/span&gt;. (Pada awalnya alam dan hukumnya tersembunyi dalam kegelapan malam. Allah berfirman “Jadilah Newton !”, maka segala sesuatunya menjadi terang).&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENCERAHAN DI TIGA KAWASAN PENTING&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam wilayah sosial-politik, dihasilkanlah naskah-naskah penting yang menjamin kebebasan warga, mislahnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Habeas Corpus&lt;/span&gt; (1679) yang menetapkan bahwa seorang tahanan harus dihadapkan kepada seorang hakim dalam waktu tiga hari dan diberi tahun atas tuduhan apa ia ditahan. Hal ini menjadi dasar prinsip hukum bahwa seseorang hanya boleh ditahan atas perintah hakim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah lainnya, Undang-undang Pers tahun 1693 menjamin kebebasan berpendapat bagi segenap warga. Ini berarti bahwa setiap orang memiliki hak untuk mengajukan kritik terhadap otoritas gereja atau negara tanpa perlu merasa takut. John Locke (1632-1704) mendesak agar dalam pemerintahan perlu ada pembagian kekuasaan dan memberikan jaminan atas hak kelompok minoritas mengadakan oposisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prancis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencerahan di Prancis berlangsung secara liberal dan radikal –dengan sentimen anti-Gereja. Voltaire (1694-1778) menyerukan pemusnahan gereja “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ecrasez l’infâme !&lt;/span&gt;” (luluh lantakkan yang buruk). Contoh lainnya, adalah pendirian patung Dewi Rasio di dalam katedral Notre Dame, tahun 1793.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncaknya adalah manakala Prancis mencapai Revolusi Prancis yang diawali dengan penyerbuan penjara Bastille, tempat para tahanan politik dikurung, tanggal 14 Juli 1789.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jerman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencerahan di Jerman lebih fokus pada persoalan moral dan upaya untuk menemukan hubungan antara rasio dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gotthold Ephrain Lessing (1729-1781) dalam bukunya  Pendidikan Bangsa Manusia melihat bahwa dengan dorongan semangat Pencerahan kelak akan tiba suatu jaman ketika kebenaran-kebenaran wahyu Allah dalam kitab suci akan digantikan dengan kebenaran-kebenaran berdasarkan akal budi, suatu jaman ketika orang “melakukan yang baik, karena hal itu adalah sesuatu yang baik, bukan karena adanya semacam ganjaran yang datang daripadanya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ‘otonomi manusia’ menjadi proyek besar di sini.  Suatu otonomi dalam berpikir dan menentukan tindakannya sesuai dengan prinsip-prinsip yang ia yakini sebagai sesuatu yang baik, benar, dan tahan uji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pulalah yang kita dapati dalam filsafatnya Kant. Bagi Kant, sudah tiba saatnya untuk menyatakan bahwa akal budi manusia adalah ukuran dan prinsip untuk segala-galanya; untuk apa saja yang ia ketahui (segi epistemologi), untuk apa saja yang ia perbuat (segi moral), dan untuk apa saja yang ia harapkan (segi teleologis).&lt;br /&gt;Pandangan Kant di atas, mengarah pada ‘subjektivitas’ manusia. Berkat rasionya, sang ‘Aku’ menjadi pusat pemikiran, pusat pengetahuan, pusat perasaan, pusat kehendak, dan pusat tindakan sehingga manusia bukan lagi sebagai viator mundi (peziarah di dunia), melainkan sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;faber mundi&lt;/span&gt; (pembuat dunia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARA FILOSOF JAMAN PENCERAHAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan pada jaman ini, yaitu rasionalisme dan empirisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RASIONALISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Khususnya di Prancis dan Jerman) adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa sumber pengetahuan sejati adalah akal budi atau rasio, bukan pengalaman. Pengalaman hanya dapat dipakai untuk menegaskan pengetahuan yang telah didapatkan dari rasio. Rasio sendiri tidak memerlukan pengalaman; ia dapat menurunkan kebenaran-kebenaran dari dirinya sendiri berdasarkan asas-asas yang pasti. Metode kerjanya bersifat deduktif. Contohnya Matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA FILSUF RASIONALISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filsuf Rasionalisme sepakat bahwa rasio manusia mampu mengenal dan menjelaskan seluruh realitas berdasarkan asas atau prinsip pertama. Hanya mereka tidak sepakat mengenai jumlahnya. Menurut Descartes, prinsip pertama itu memiliki dua (atau lebih tepat tiga) substansi. Adapun Spinoza mengatakan hanya ada satu substansi. Sementara Leibniz mengatakan ada banyak substansi yang disebutnya sebagai monade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Descartes: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cogito, ergo sum&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rene Descartes (Nama Latinnya, Renatus Cartesius, 1596-1650) dijuluki Bapak Filsafat Modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat Descartes berawal dari satu pertanyaan: Apakah ada metode yang pasti sebagai dasar untuk melakukan refleksi filosofis? Untuk menjawabnya, Descartes melakukan apa yang kemudian dinamakan sebagai sikap keragu-raguan radikal. Ia menganggap bahwa segala sesuatu yang ada hanyalah tipuan, dan tidak ingin menerima apapun sebagai  ssesuatu yang benar, jika kita tidak memahaminya secara jelas dan terpisah. Hanya yang bisa dipahami dengan jelas dan terpisah itulah yang menjadi norma untuk menentukan kepastian dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika segala sesuatu diragukan keberadaannya, ada satu hal yang sama sekali tidak bisa diragukan lagi sehingga harus diterima secara mutlak, yakni kenyataan bahwa Aku yang sedang meragukan segala sesuatu ini ada! Orang bisa menyangkal segala sesuatu, namun ia tidak bisa menyangkal keberadaan dirinya sendiri. “Saat aku mencermati dan berpikir bahwa segala sesuatu adalah salah…, pada saat itu aku menyadari kebenaran ini:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Aku berpikir, maka aku ada”. Kebenaran ini tampak sangat jelas dan pasti, sehingga anggapan kaum Skeptis tida bisa mengguncangkannya. Sehingga aku merasa yakin aku bisa menerima kebenaran ini sebagai prinsip pertama filsafat yang tengah aku cari ”&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;Ungkapan Descartes mengisyaratkan satu hal bahwa pemikiran atau kesadaran tidak bisa dipisahkan dari diri seseorang. Hakikat manusia adalah pemikiran (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;res cogitans&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;“Benar, aku hanyalah makhluk yang berpikir … Makhluk yang bisa meragukan, mengamati, membenarkan, menolak, menginginkan, tidak menginginkan, berimajinasi, dan merasakan”&lt;br /&gt;Bagi Descartes, kesadaran diri seseorang harus diterima sebagai kebenaran karena saya memahaminya dengan jelas dan terpisah. Dan inilah kerangka-bangun filsafat Descartes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kesadaran diri yang diperoleh dari refleksi atas keraguan radikal, Deskartes  membangun suatu jalan kepastian intuitif yaitu dengan cara dua langkah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Arah “ke dalam” atau pada kesadaran individu bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Descartes, karena segala sesuatu dari luar tidak bisa dipercaya, manusia perlu mencari kebenaran dalam dirinya sendiri, sambil menggunakan kriteria di atas (jelas dan terpisah). Sebagai hasilnya, Descartes menemukan bahwa dalam diri manusia ada tiga hal yang disebutnya “ide-ide bawaan” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ideae innatae&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;a. Ide pemikiran (cogitatio)&lt;br /&gt;b. Ide Allah (deus)&lt;br /&gt;c. Ide keluasan (extentio)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Arah “ke luar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari adanya kesadaran diri (cogito), Descartes berusaha memahami realitas alam-dunia. Seperti halnya para pemikir Yunani dan Skolastik, Descartes juga sampai pada kesimpulan bahwa apa yang ada merupakan suatu substansi, yakni “ada” yang berdiri sendiri. Menurut Descartes, selain (1) Allah, masih ada dua substansi lain, yakni (2) jiwa yang dalam hal ini adalah pemikiran, (3) materi atau keluasaan. Namun, karena Descartes meragukan keberadaan segala sesuatu, maka ia kesulitan untuk menerima adanya suatu realitas lain di luar kesadaran, yakni realitas alam-dunia material yang mempunyai kejelasan dan keterpisahan tersendiri. Saat menghadapi hal ini, Descartes menemukan jalan keluarnya pada  Allah sebagai penyebab pandangan kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Descartes, Allah sebagai wujud sempurna tidak mungkin menipu. Disinilah, Descartes menjadikan Allah sebagai penjamin kepastian pengetahuan kita mengenai realitas material-empiris atau alam dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pengetahuan di awali dari “Aku” melalui Allah menuju dunia. Dilihat dari sisi objek-materialnya (dunia), Allah adalah yang pertama, segala sesuatu berdasar kepada-Nya. Namun, dilihat dari sudut proses pengetahuan, kesadaran manusialah yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas filsafat adalah:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Mendapatkan pandangan yang menjadikan hidup ini bisa menghasilkan buah bukan mengusahakan pegetahuan yang bersifat teoritis (Skolastik), filsafat harus mengusahakan pengetahuan praktis yang memungkinkan kita mengenali daya dan kekuatan dari api, air, udara, bintang, dan segala sesuatu di sekitar kita –seperti halnya pekerjaan yang dijalani oleh para pengrajin. Dengan demikian, filsafat haruslah mampu memanfaatkan daya dan kekuatan dari semua unsur tersebut untuk segala macam keperluan praktis manusia sehingga menjadikan kita sebagai tuan dan pemilik alam ini”&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;EMPIRISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengalaman (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;empeiria&lt;/span&gt;, Yunani) merupakan sumber utama pengetahuan, baik pengalaman lahiriah ataupun pengalaman batiniah. Rasio bukan sumber pengetahuan, tetapi ia bertugas untuk mengolah bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman untuk dijadikan pengetahuan. Metodenya bersifat induktif. Contohnya Ilmu Pengetahuan Alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PARA FILSUF EMPIRISME&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasionalisme dianut oleh para filsuf di wilayah Eropa, sedangkan Empirisme berasal dari Inggris. Empirisme  dirintis oleh Francis Bacon yang menekankan metode empiris-eksperimental dalam menyelidiki apa yang bisa diketahui manusia. Setelah Bacon, Hobbes mendasarkan filsafat politiknya pada penelitian empiris atau motivasi-motivasi manusia yang dibandingkannya dengan sebuah arloji. Locke membangun epistemologinya dengan didasarkan pada anggapan bahwa semua pengetahuan manusia berasal dari pengalaman indrawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Locke: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Anggap saja, pikiran itu … seperti selembar kertas putih&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Locke (1632-1704), lahir di Wrington dekat Briston. Persahabannya dengan Robert Boyle,  seorang ahli kimia Inggris, membangkitkan minatnya pada pendekatan empiris. Sejak tahun 1691, Locke yang menderita penyakit asma akut ini, hidup di pedesaan hingga wafatnya pada tahun 1702. Pada batu nisannya terdapat kata-kata yang ditulis oleh Locke sendiri saat masih hidup:&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Wahai para pejalan kaki, berhentilah sejenak ! Di sini terbaring John Locke. Kalau Anda bertanya, orang seperti apa dia, ia akan menjawab: seorang yang hidupnya puas dengan hal-hal sederhana, ia memang dibesarkan oleh ilmu pengetahuan, namun apa yang telah dijalankan seluruh hidupnya adalah pengabdian pada kebenaran. Pelajarilah ini dari tulisannya-tulisannya !”&lt;/blockquote&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tentang Pengetahuan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari manakah sumber pengetahuan yang bisa dipercaya?  Dari mana pengetahuan itu berasal? Locke menjawabnya, “Pengalaman. Semua pengetahuan kita berdasarkan pengalaman; dan dari pengalaman inilah pengetahuan itu berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengalami  sesuatu, pikiran atau rasio kita seperti tabula rasa atau kertas kosong. Baru kemudian kertas itu mendapat isinya dari pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua macam pengalaman yang bisa dibedakan, yaitu ;&lt;br /&gt;1. “Pengalaman lahiriyah” (sense atau external sensation) atau pengalaman indrawi, yang berhubungan dengan realitas material yang ditangkap dengan pancaindra kita, dan&lt;br /&gt;2. “Pengalaman batiniah” (internal sense atau reflection) yang terjadi apabila kesadaran melihat aktivitasnya sendiri dengan cara “mengingat”, “menghendaki”, “meyakini”, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua macam pengalaman ini diperoleh “pandangan-pandangan sederhana” (simple ideas), yakni isi kesadaran yang berfungsi sebagai data-data empiris. Pandangan ssederhana ini masih bisa dibedakan menjadi empat jenis, yaitu pandangan yang:&lt;br /&gt;1. Diterima hanya oleh satu indera kita, misalnya warna diterima oleh indera mata, bunyi diterima oleh indra telinga;&lt;br /&gt;2. Diterima melalui beberapa indra, misalnya ruang dan gerak;&lt;br /&gt;3. Dihasilkan berkat refleksi kesadaran, misalnya kenangan atau memori;&lt;br /&gt;4. Yang menyertai saat-saat terjadinya proses penerimaan atau refleksi, misalnya rasa tertarik, minat, dan waktu.&lt;br /&gt;5. Dalam menerima pandangan ini, pemikiran atau rasio sama sekali pasif. Baru kemudian, setelah pandangan sederhana ini tersedia, rasio bekerja membentuk “Pandangan Kompleks” (Complex Ideas) dengan cara membandingkan, mengabstraksi, dan menghubungkan pandangan-pandangan sederhana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini ada tiga jenis pandangan kompleks yang bisa dibedakan, yaitu:&lt;br /&gt;1. Substansi atau sesuatu yang berdiri sendiri, misalnya manusia atau tumbuhan;&lt;br /&gt;2. Modi atau pandangan kompleks yang keberadannya bergantung kepada substansi, misalnya siang adalah modus dari hari;&lt;br /&gt;3. Hubungan sebab-akibat, misalnya pandangan kausalitas dalam pernyataan: “air mendidih karena dipanaskan dengan api hingga 100 celsius”.&lt;br /&gt;4. Kalau “Pandangan Sederhana” berasal secara langsung dari pengalaman indrawi, maka “Pandangan Kompleks” tidak bisa diamati secara langsung, tetapi diketahui melalui kombinasi-kombinasi dari berbagai pandangan tunggal.&lt;br /&gt;5. Demikianlah, Locke merasa yakin telah dapat menjelaskan terjadinya pengetahuan manusia.[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2818076743203264280?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2818076743203264280/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/jaman-pencerahan-aufklarung.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2818076743203264280'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2818076743203264280'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/jaman-pencerahan-aufklarung.html' title='JAMAN PENCERAHAN (AUFKLARUNG)'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6004963881455935152</id><published>2009-09-02T15:44:00.003+07:00</published><updated>2009-09-02T16:06:13.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Merenungkan Pendidikan Yang Kita Peroleh Dengan Tindakan Yang Kita Lakukan</title><content type='html'>GAGASAN tulisan ini berawal dari SMA al-Hikmah Surabaya. Hikmah yang bisa dipetik adalah begitu pentingnya&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/Sp40pOsg3sI/AAAAAAAAACI/KFwgVvpPGsA/s1600-h/SMA+foto.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 214px; height: 161px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/Sp40pOsg3sI/AAAAAAAAACI/KFwgVvpPGsA/s200/SMA+foto.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376792888051031746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; posisi guru di sekolah dalam membentuk kepribadian anak didik yang berakhlakul karimah dan memiliki segudang prestasi. "Apapun jenis lembaga pendidikan yang dikelola, pilar yang paling penting adalah sosok gurunya." Demikian ungkapan kata-kata yang masih segar dalam ingatan penulis. Guru merupakan sosok yang digugu dan ditiru. Keberhasilan anak didik tergantung bagaimana guru mendidiknya. Baik tidaknya prilaku anak didik, guru pulalah barometernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah maklum, selain keluarga, sekolah adalah tempat yang sangat efektif dalam membentuk karakter (character building) anak didik. Selain membekali anak didik dengan perangkat pengetahuan (tools of knowledge), sekolah juga dapat membentuk kepribadian dan kedisiplinan anak didiknya. Tesis ini bertolak belakang dengan statemen yang menyatakan bahwa Sekolah Itu Candu. Gagasan ini mengasumsikan bahwa sekolah telah menggerus bahkan mematikan "bakat" asasi yang ingin dicapai oleh anak didik. Alhasil, sekolah tak lebih sebagai penjara yang sebenarnya bagi anak didik ketimbang tempat yang dapat membantu dirinya mengembangkan minat dan bakat yang hendak diraihnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikitnya ada tiga sekolah yang pernah penulis kunjungi (SMA Dwiwarna [Boarding School] Parung Jawa Barat, SMA Labschool Jakarta, dan SMA Al-Hikmah Surabaya), terlepas dari kelebihan dan kekurangan dari masing-masing lembaga tersebut, satu pelajaran yang dapat diambil bahwa sekolah atau lembaga pendidikan merupakan media yang paling efektif dalam mengenalkan anak didiknya tentang sesuatu yang "baik" dan dapat ditransformasikan di dalam kehidupan masyarakat. Dan pada tahap ini –ketika mereka baru lulus dari sekolah masing-masing– dapat dikatakan SUKSES. Namun, cerita pendidikan tidak berhenti di sini. Mereka akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Perguruan Tinggi. Di sinilah mereka mengenal lingkungan yang "beda" dengan apa yang pernah mereka alami dulu. Dunia kampus yang lebih menjanjikan kedewasaan karena mereka rata-rata sudah memasuki gerbang peralihan dari masa remaja ke dewasa. Plus jenis pendidikan yang ditempuh pun semakin kompleks dengan logika akademis yang tak cukup hanya dengan "ya" saja ketika belajar, tapi sudah "tidak", "mengapa", "bagaimana" dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menuntut refleksi filosofis dan metodologs. Intinya, cara mereka belajar, cara mereka memahami, ataupun cara mereka menafsirkan telah menginjak tingkat kognitif kelas tinggi (highest cognitive level) dalam kerangka Bloom. Karenanya, apa yang mereka peroleh di bangku sekolah, terkadang, tak mempunyai bekas ketika sudah kuliah. Penulis melihat, ada mata rantai yang terputus di sini dalam kronologi pendidikan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat fenomena yang santer beberapa tahun terakhir ini, yaitu mengenai tindakan korupsi, penulis berpikir (walau ini masih berupa asumsi aksiomatik saja) di mana letak efektif pendidikan yang mereka peroleh di bangku sekolah dengan tindakan [korupsi] yang mereka lakukan di tempat kerja? Kalau memang benar bahwa apa yang kita lakukan berasal dari apa yang kita baca dan kita dengar, bukankah di sekolah dulu kita membaca tentang sesuatu yang 'baik' sekaligus juga kita mendengar 'nasehat' dari guru kita yang baik-baik. Di manakah sesuatu yang 'baik' yang pernah kita peroleh dulu itu dalam tindakan kita hari ini? Pertanyaan ini lama berkecamuk dalam diri penulis. Suatu saat penulis teringat kata-kata mutiara dalam bahasa Inggris; "experience is the best teacher" [pengalaman adalah guru yang paling bijak". Mutiara ini sedikit memberi jawaban. Apakah pengalaman yang mereka peroleh setelah bangku sekolah itu, telah sedemikian hebatnya mempengaruhi cara berpikir dan bertindak mereka? Apakah pengalaman-pengalaman bersama komunitas telah merubah cara pandang mereka? Kalau pertanyaan ini semakin diperluas, apakah pengalaman bangsa ini dengan korupsi yang telah diwarisi dari kakek moyangnya telah juga sedemikian akutnya menjangkiti generasi muda saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, deskripsi di atas mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan sederhana; kita memiliki dua sosok guru. Guru di ruang-ruang sekolah kita, dan guru di ruang-ruang kehidupan nyata kita yang berupa pengalaman. Pertanyaan untuk diri kita, guru manakah yang paling mempengaruhi kita? &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6004963881455935152?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6004963881455935152/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/gagasan-tulisan-ini-berawal-dari-sma-al.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6004963881455935152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6004963881455935152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/gagasan-tulisan-ini-berawal-dari-sma-al.html' title='Merenungkan Pendidikan Yang Kita Peroleh Dengan Tindakan Yang Kita Lakukan'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/Sp40pOsg3sI/AAAAAAAAACI/KFwgVvpPGsA/s72-c/SMA+foto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-5167016890332846352</id><published>2009-09-02T14:16:00.004+07:00</published><updated>2009-09-02T15:06:31.969+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Islam'/><title type='text'>Titik Temu Pemikiran Islam dan Hellenisme</title><content type='html'>(Pokok Bahasan III)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melacak Jejak-Tapak Sejarah Pertemuan Kebudayaan Yunani Vs Islam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara Umum:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa Syria, Mesir, dan Persia.&lt;br /&gt;Interaksi itu berlangsung setelah adanya pembebasan-pembebasan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-futuhat&lt;/span&gt;) atas daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi s.a.w., di bawah para khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah-daerah yang segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah-daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu Palestina.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi proses itu berjalan dalam jangka waktu yang panjang, selama berabad-abad, dan secara damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu indikasi yang menarik dari pembebasan-pembebasan (futuhat) yang dilakukan oleh orang-orang Arab-Islam terhadap bangsa-bangsa non-Muslim itu adalah sikap-sikap penuh penghargaan dan pengertian kepada bangsa-bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama-agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti dikatakan Halkin sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“...It is to the credit of the Arabs that although they were the victors militarily and politically, they did not regard the civilization of the vanquished lands with contempt. The riches of Syrian, Persian, and Hindu cultures were no sooner discovered than they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, and others patronized scholars who did the work of translation, so that a vast body of non-Islamic learning became accessible in Arabic. During the ninth and tenth centuries, a steady flow of works on Greek medicine, physics, astronomy, mathematics, and philosophy, Persian belles-lettres, and Hindu mathematics and astronomy poured into Arabic.” &lt;/blockquote&gt;Interaksi intelektual orang-orang Muslim dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan Jundisapur (Persia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat-tempat itulah lahir dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian didukung dan disponsori oleh para penguasa Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gelombang Hellenisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang Pertama (tahun 130 H/750 M - tahun 340 H/950 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gelombang pertama ini, ada dua tokoh filosof Islam yang lahir, yaitu; Al-Kindi (801 M -873 M) dan Al-Farabi (870 M – 950 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal pertemuan ini, unsur-unsur Neoplatonisme yang menyusup ke dalam alam pikiran Islam, baik yang sejalan ataupun tidak dengan Alquran berkisar pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penegasan akan transendensi Asal Pertama (الاصل الاول) atau Tuhan;&lt;br /&gt;2. Emanasi segala yang ada daripadaNya;&lt;br /&gt;3. Peranan Akal sebagai perantara penciptaan oleh-Nya dan merupakan letak bentuk benda-benda serta sebagai sumber penerangan jiwa manusia;&lt;br /&gt;4. Kedudukan Jiwa pada perbatasan dunia intelek dan sebagai sambungan atau cakrawala antara dunia intelek dan dunia indera; dan&lt;br /&gt;5. Sikap merendahkan materi sebagai ciptaan atau emanasi paling hina dari Yang Maha Esa dan tingkat paling bawah dalam susunan kosmis. (Majid Fakhry:&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejarah Filsafat Islam&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelombang Kedua (tahun 340 H/950 M - tahun 660 H/1260 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika gelombang pertama Hellenisme terjadi pada saat-saat kemunduran rezim Umayyah di Damaskus dan permulaan kebangkitan kaum ‘Abbasiyyah, maka gelombang kedua ini berlangsung ketika kekuasaan Baghdad itu mulai merosot dan situasi politik intern Dunia Islam menjadi tidak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap ini muncullah tokoh-tokoh falsafah seperti; Ibn Sina (980 M – 1037 M) hingga Quthb al-Din al-Syirazi (1236 M – 1311 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aliran-Aliran Filsafat Islam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terdapat, sedikitnya, lima aliran dalam filsafat Islam:&lt;br /&gt;1. Teologi Dialektik (‘ilm al-Kalam)&lt;br /&gt;2. Peripatetisme (Masysya’iyyah)&lt;br /&gt;3. Iluminisme (Isyraqiyyah)&lt;br /&gt;4. Sufisme/Teosofi (Tashawwuf atau ‘Irfan), khususnya yang dikembangkan Ibn ‘Arabi&lt;br /&gt;5. Filsafat Hikmah (al-Hikmah al-Muta’aliyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan:&lt;br /&gt;Metode epistemologi yang digunakan oleh Teologi Dialektik hampir sama dengan metode Peripatetisme, yaitu bersifat deduktif-silogistik. Yakni, prosedur untuk mendapatkan kesimpulan (silogisme) dari mempersandingkan dua premis. Dalam silogisme Aristotelian, dua premis itu masing-masingnya adalah premis mayor dan premis minor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan silogistik antara peripatetisme dan Teologi Dialektik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan:&lt;br /&gt;Sementara metode epistemologi yang digunakan oleh iluminisme dan sufisme atau Teosofi (‘irfan) adalah metode intuitif atau eksperiensial.  Intuisi ini, dalam khazanah Islam, diidentikkan dengan hati (qalb atau fu’ad) atau bahkan dengan ruh, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip dasar iluminisme, seperti juga Sufisme, adalah bahwa : “mengetahui sesuatu adalah untuk memperoleh suatu pengalaman tentangnya, yang berarti intuisi langsung atas hakikat sesuatu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan Iluminisme dengan Sufisme –dalam hal ini ‘irfan (teosofi)– antara lain bahwa, meskipun sama-sama mengandalkan pada pengalaman langsung, iluminisme percaya pada kemungkinan pengungkapan pengalaman tersebut melalui bahasa-bahasa diskursif-logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah ontologi.&lt;br /&gt;Peripatetisme Islam tak secara khusus memberikan perhatian pada aspek ontologi. Di luar aspek epistemologi, aliran peripatetisme banyak membahas tentang kosmologi.&lt;br /&gt;Sementara aliran ‘irfan, iluminisme, dan filsafat hikmah memberikann perhatian yang cukup jelas pada wilayah ontologi.&lt;br /&gt;1. ‘irfan :&lt;br /&gt;Menekankan pada prinsip kesatuan wujud segala sesuatu dan tingkatan-tingkatan (hierarkhi) nya.&lt;br /&gt;2. Iluminisme&lt;br /&gt;Menekankan pada filsafat cahaya (nur), yakni pengidentikkan wujud dengan cahaya, dan non-wujud/nirwujud dengan kegelapan. Di antara keduanya terdapat lapisan-lapisan wujud antara cahaya dan kegelapan.&lt;br /&gt;3. Filsafat Hikmah&lt;br /&gt;Menekankan prinsipialitas (fundamentalitas) eksistensi terhadap esensi. Yakni bahwa yang real –yang memiliki korespondensi dengan realitas– adalah eksistensi. Sedangkan esensi –penampakan atau atribut-atribut lahiriyah dan mental– sebenarnya tidak real dan hanya merupakan bentukan (keterbatasan) persepsi manusia (I’tibari).&lt;br /&gt;Mengembangkankan juga prinsip ambiguitas (tasykik) wujud.  Yakni bahwa wujud bersifat tidak tetap, melainkan berpindah-pindah dalam hierarki wujud sejalan dengan gerak substansial. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-5167016890332846352?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/5167016890332846352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/titik-temu-pemikiran-islam-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5167016890332846352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5167016890332846352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/titik-temu-pemikiran-islam-dan.html' title='Titik Temu Pemikiran Islam dan Hellenisme'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-5903412476512337335</id><published>2009-09-02T12:35:00.004+07:00</published><updated>2009-09-02T13:53:59.028+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan X</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Renaissance Dan Humanisme; Awal Perkembangan Filsafat Modern&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Kearah Filsafat Modern: Suatu Pengantar Singkat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Modern ditandai dengan adanya berbagai perkembangan baru dan luar biasa pesat dalam berbagai bidang kehidupan manusia Barat, khususnya bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sejarah filsafat Barat, masa modern adalah suatu periode saat aliran pemikiran baru mulai muncul dan beradu dalam kancah pemikiran filosofis Barat. Para filsuf tampil dengan gaya dan argumentasinya yang khas. Kadang kasar dan sinis, kadang tajam dan sangat pragmatis, namun ada juga yang sentimental.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Filsafat Modern Barat bisa dibagi ke dalam tiga jaman/periode:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1.Jaman Renaissans (Renaissance)&lt;br /&gt;  2.Jaman Pencerahan Budi (Aufklarung)&lt;br /&gt;  3.Jaman Romantik (khususnya Idealisme Jerman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jaman Renaissans&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman Renaissans adalah jaman kelahiran-kembali (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;renaissance&lt;/span&gt;) kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa pada abad ke-15 dan ke-16. Kebudayaan klasik tersebut dipuja dan dijadikan model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Yunani-Romawi adalah kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai subjek utama. Misalnya, Filsafat Yunani menampilkan manusia sebagai makhluk yang berpikir senantiasa memahami lingkungan alamnya dan juga menentukan prinsip-prinsip bagi tindakannya sendiri demi mencapai kebahagiaan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dalam bidang kesusastraan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diceritakan oleh Homeros, seorang penyair ternama dengan karyanya Odisei, tentang keberanian manusia menjelajahi suatu dunia yang penuh dengan berbagai tantangan dan pengalaman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dalam bidang Arsitektur:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsitektur Yunani-Romawi mencerminkan kemampuan manusia dalam menciptakan harmoni dari aturan hukum, kekuatan, dan keindahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dalam bidang teknik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teknik pembangunan akuaduk, pembuatan jalan, rumah tinggal, sampai teknik berperang dan kemampuan berorganisasi (hukum, tentara, senat, tata kota) pantas mendapat acungan jempol. Semua itu menunjukkan bahwa kebudayaan Yunani-Romawi memberikan tempat utama bagi manusia dalam kosmos. Suatu pandangan yang biasa disebut dengan Humanisme Klasik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Renaissans yang coba dibangun ditujukan untuk menghidupkan kembali Humanisme Klasik yang sempat tertunda oleh gaya berpikir tokoh-tokoh Abad Pertengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sedikit perbedaan dalam konteks Humanisme pada jaman klasik dan Renaissans. Humanisme Klasik menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara-kota / masyarakat Yunani Kuno), sementara Humanisme Renaissans menekankan pada individualisme, yaitu paham yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu diperhatikan (kesanggupan dan kebutuhannya tidak boleh disamaratakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan-Kutipan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kita bukan hanya umat manusia, kita adalah individu-individu unik yang bebas untuk berbuat sesuatu dan menganut keyakinan tertentu&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemuliaan manusia terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam&lt;/span&gt;."(Pico Della Mirandola)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa yang kamu pikir bisa kamu lakukan, Wujudkanlah&lt;/span&gt;!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua kutipan di atas, pemahaman yang bisa kita peroleh adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Munculnya sikap pemujaan tidak terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal;&lt;br /&gt;2. Manusia yang dicita-citakan oleh Humanisme Renaissans adalah "manusia universal"(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Homo Universale&lt;/span&gt;), yakni manusia yang berkat kecerdasannya bisa maju dan berkembang penuh dalam seluruh aspek kehidupannya, khususnya dalam aspek ilmu pengetahuan, kesenian, dan kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf-Filsuf Abad ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Filsuf dari Itali: Campaneila, Patrizi, Bruno, Pompanazzi, Telesio, Ficino, dan Pico.&lt;br /&gt;2. Filsuf IPA: Galilei, Kepler, Bacon, Kopernikus&lt;br /&gt;3. Filsuf Humanisme: Montaigne, Erasmus, Morus, Alberti, Vaila, Salutati, dan Petrarca&lt;br /&gt;4. Filsuf Negara dan Hukum: Althusius, Grotius, Bodin, dan Machiavelli&lt;br /&gt;5. Filsuf Reformasi: Melanchthor, Calvin, Luther, dan Zwingli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tiga Pandangan tentang Takdir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf yang akan kita kemukakan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Francesco Petrarca&lt;br /&gt;2. Geovanni Pico Della Mirandola, dan&lt;br /&gt;3. Francis Bacon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga filsuf di atas, concern terhadap manusia dan posisinya dalam kosmos. Bukan alam yang menakdirkan manusia akan menjadi apa, melainkan manusia yang berkat akal budinya mentakdirkan alam akan berbentuk apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Petrarca:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menghendaki yang baik lebih berharga dari pada mengenal yang benar&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francesco Petrarca (1304-1374) bukan saja seorang filsuf tapi juga sastrawan Itali. Pada tahun 1326, ia berkenalan dengan seorang wanita yang sudah bersuami. Seumur hidupnya, Petrarca mencintai wanita ini dari kejauhan dan menulis sajak-sajak tentangnya dengan nama samaran Laura. Katanya: "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku tidak ingin berdusta: Aku menjadi seperti aku yang sekarang karena wanita itu&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petrarca dikenal sebagai Bapak Humanisme dan tokoh jaman Renaissans. Perannya dalam filsafat terletak pada kritikan-kritikannya terhadap cara belajar para filsuf skolastik yang dinilainya hanya mengandalkan karya terjemahan untuk memahami pemikiran Aristoteles dan Plato bukan karya asli mereka. Selain itu, usaha para filsuf skolastik mempelajari filsafat Aristoteles juga dikritik. Menurutnya, Aristoteles hanya bisa membantu orang "mengetahui" apa yang disebut sebagai keutamaan, tetapi tidak mampu "memotivasi" jiwa dan kemampuan untuk memperoleh keutamaan tersebut, padahal yang lebih bernilai bukanlah pengetahuan tentang "yang baik", melainkan keinginan untuk melaksanakannya. Kata-kata Petrarca :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Adalah suatu perbedaan besar, apakah saya tahu tentang sesuatu, atau apakah saya mencintai sesuatu: apakah saya memahami sesuatu, atau apakah saya mengusahakan sesuatu. Aristoteles mengajarkan apa yang disebut sebagai keutamaan –saya tidak menolaknya. Namun, ia tidak mengenal kata-kata yang bisa meyakinkan dan memberi semangat: kata-kata yang bisa menghidupkan dan mengobarkan api dalam jiwa kita. Sementara itu, di pihak lain, yang terjadi adalah sebaliknya. Para tokoh-tokoh kita, khususnya pada Cicero dan Annaeus (Seneca) sering menggunakan kata-kata tersebut&lt;/span&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Petrarca, seorang filsuf sejati adalah seorang filsuf yang mempertimbangkan konteks, sebab filsafat sendiri bukanlah seni kata-kata abstrak dan kosong; melainkan seni tentang hidup yang baik dan berkeutamaan. Filsafat harus bersifat praktis. Filsafat ada untuk manusia, bukan manusia ada untuk filsafat !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pico:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kita dilahirkan… untuk menjadi apa yang kita kehendaki&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pico merasa yakin bahwa ada banyak pandangan para filosof dan teolog yang bisa diselaraskan. Namun pihak otoritas gereja tidak tidak sependapat dan menilainya sesat. Akhirnya Pico melarikan diri ke Prancis, tetapi tertangkap. Berkat perlindungan bangsawan Lorenzo de Medici, Pico boleh kembali ke Italia dan tinggal di Lorenzo hingga wafat pada usia 31 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pico bertanya, di mana posisi istimewa manusia di alam semesta? Tuhan menciptakan manusia sebagai pencipta bagi dirinya sendiri dengan kebebasannya. Manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri dan mewujud-nyatakan hakikatnya seperti yang ia kehendaki. Masalah akan jadi apa manusia di kemudian hari ditentukan oleh keputusan-keputusan dan tindakan-tindakannya saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegaskan apa yang diyakininya, Pico mengacu pada Kisah Penciptaan dalam Kitab Kejadian yang telah digubah dalam versinya sendiri: "Kondrat semua makhluk lain dibatasi oleh hukum-hukum yang telah Kutetapkan untuk mereka. Namun, engkau (Adam) harus menentukan kodratmu menurut keputusan yang telah Kuberikan kepadamu. Aku telah menempatkan engkau di tengah-tengah dunia, agar engkau bisa mengenal dengan lebih mudah segala sesuatu yang tersebar di dunia ini. Aku telah menciptakan engkau bukan sebagai sesuatu yang surgawi atau duniawi, yang fana atau yang baka, melainkan Kuciptakan engkau sebagai makhluk bebas yang berkat kekuatannya sendiri mampu membentuk dan menentukan diri sendiri. Engkau bisa saja merosot ke tingkat hewani. Namun, jika memang kau kehendaki, engkau dapat dilahirkan kembali ke tingkat surgawi mendapai keilahian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pico, hubungan antara manusia dan hidupnya bisa digambarkan dengan kerja seorang seniman yang tengah menggarap bahan untuk karya seninya. Akan menjadi apa material itu nantinya ditentukan oleh rancangan dan pola yang telah dimiliki oleh seniman tersebut dalam benaknya. Allah Pencipta telah menciptakan manusia sebagai pencipta juga, yang sesuai dengan citra-Nya. Dan kepada manusia sebagai makhluk bebas, Allah telah menyerahkan dunia ini untuk ditaklukan dan dibentuk menurut pola yang ia miliki. Karenanya, keberadaan atau esensi manusia ditentukan oleh tindakan kreatifnya dalam bekerja dan mengelola dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prancis Bacon:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengetahuan adalah kekuasaan&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Francis Bacon (1561-1626) bukan seorang filosof, ia tidak mau dikatakan demikian. Ia seorang sarjana hukum lulusan Trinity College of Cambrige University. Pemikiran Bacon ditujukan pada pertanyaan-pertanyaan seperti: Bagaimanakah ilmu pengetahuan bisa diperbarui? Metode apakah yang tepat bagi suatu penelitian ilmiah? Apakah tujuan ilmu pengetahuan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ajaran Skolastik dan pandangan Aristotelian dinilai Bacon tidak ada gunanya. Persoalannya bukanlah mengalahkan lawan dengan argumentasi logis, melainkan menaklukkan alam dengan kerja. Sedikit bicara, banyak kerja. (talk less, do more). Bagi Bacon, pengetahuan yang pantas diupayakan adalah pengetahuan yang bertujuan menguasai alam demi kepentingan manusia. Pengetahuan seperti ini memberikan kekuatan kepada manusia untuk menjadi penguasa atas alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, jika semua ilmupengetahuan diarahkan kepada tujuannya yang sejati, maka diperlukan suatu pembaruan metode untuk semua ilmu pengetahuan. Dalam upayanya membarui metode itu, Bacon mengusulkan pelurusan asumsi lama yang tidak benar. Ada 4 anggapan yang menurutnya perlu diluruskan, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. "idola umat manusia" (idola tribus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idola ini muncul dari kodrat manusia sendiri yang memahami realitas dengan bantuan panca indera dan akalnya. Idola ini mengatakan bahwa akal manusia ibarat cermin yang memantulkan realitas sebenarnya. Namun, menurut Bacon, idola ini menyesatkan. Sebab, akal manusia itu memang ibarat sebuah cermin, namun sebuah cermin yang tidak rata. Akal terlalu ikut campur dalam pengenalan kita terhadap benda-benda yang diamati. Akibatnya, pengetahuan kita atas keadaan benda-benda itu sendiri menjadi rancu dan tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. "Idola sebagai kurungan" (idola specus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idola ini ada pada sudut pandang tiap-tiap individu yang bersangkutan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. "Idola Pasar" (idola fori).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idola pasar terungkap dalam gejala bahasa. Bahasa yang menjalin penghubung antar manusia sering menyesatkan kita dengan berbagai tambahan arti dari banyak hal yang belum ada, atau bahkan pasti tidak ada (misalnya kata "nasib", "substansi"). Akibatnya, orang sering berdebat kusir tentang makna suatu kata atau istilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. "Idola Teater" (idola theatri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai ajaran filsafat dan teologi mengklaim telah membantu manusia memahami diri dan dunianya. Namun, semua itu hanya dongeng belaka, suatu cerita fiksi. Jauh dari realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya menurut Bacon, kalau kita ingin memperoleh pengetahuan sejati, maka kita harus "dimurnikan" dari semua. Bacon menawarkan suatu metode yang ia beri nama metode induksi. Namun induksi ini bukanlah sekedar generalisasi dari berbagai hal khusus untuk memperoleh hal yang umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Induksi tersebut adalah metode pengetahuan yang diawali dengan pengumpulan dan perbandingan data-data hasil pengamatan atas eksperimen-eksperimen yang kita buat, untuk selanjutnya –melalui proses generalisasi- menghasilkan pola atau prinsip umum dari objek pengamatan tersebut. Jadi induksi tidak diawali dengan sembarang data empiris yang diterima oleh panca indera kita, melainkan diawali terlebih dahulu dengan apa yang ingin diselidiki, selanjutnya diolah secara metodis dan bertahap dengan malaksanakan eksperimen yang telah ditetapkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, dalam induksi ini terdapat dua unsur dalam satu proses pengetahuan: Pengalaman Indrawi dan Akal Budi. Bacon merasa optimis dan berharap kuat bahwa masa depan umat manusia akan cerah berkat ilmu pengetahuan tersebut. Ia menuliskan: "Semoga pada akhirnya umat manusia bisa berkuasa atas alam, sebagaimana ditetapkan Tuhan. Semoga banyak hal yang bisa kita kuasai terlebih dahulu. Selanjutnya, adalah urusan agama dan akal budi yang sehat untuk menerapkannya secara tepat." &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-5903412476512337335?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/5903412476512337335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/pokok-bahasan-x.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5903412476512337335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5903412476512337335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/pokok-bahasan-x.html' title='Pokok Bahasan X'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-1315327647590865827</id><published>2009-09-02T02:20:00.002+07:00</published><updated>2009-09-02T02:27:15.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Islam'/><title type='text'>Filsafat Islam: Suatu Penjelajahan Konsep</title><content type='html'>APAKAH FILSAFAT ISLAM ITU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang dikemukakan oleh Oliver Leaman dalam bukunya A Brief Introduction to Islamic Philosophy bahwa perlulah kiranya kita merumuskan secara jelas tentang apa sebenarnya Filsafat Islam itu. Pemahaman terhadap konsep filsafat Islam ini akan memudahkan kita untuk mengekplorasi lebih jauh tentang arti hakiki dari keberadaannya. Oleh karena itu, Leaman menawarkan tentang pentingnya mengupas tuntas definisi dari Filsafat Islam tersebut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyimak dari istilahnya, Filsafat Islam terdiri dari gabungan dua kata yaitu kata Filsafat dan Islam. Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau hikmah. Dengan demikian secara lughawi filsafat berarti cinta terhadap ilmu atau hikmah. Selanjutnya kata Islam berasal dari bahasa Arab aslama, yuslimu islaman yang bermakna patuh, tunduk, berserah diri, serta memohon selamat dan sentosa. Kata tersebut berasal dari salima yang berarti selamat, sentosa, aman dan damai. Kemudian Islam menjadi suatu istilah atau nama diri (proper name) dari agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada umat manusia melalui ajaran-ajaran Nabi Muhammad Saw. Dalam pengertian ini, Islam pada hakikinya membawa ajaran-ajaran yang bukan hanya mengenai satu segi, namun mengenai berbagai segi dari kehidupan manusia dengan merujuk pada Alquran dan Hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FILSAFAT ISLAM: SEBUAH PERDEBATAN ISTILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Filsafat Islam, bukanlah sebutan yang telah disepakati oleh para pengkaji filsafat Islam. Beberapa pernyataan itu berkisat pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Ada yang mengatakan bahwa filsafat dan Islam adalah dua entitas yang berbeda dan bahkan sulit untuk disatukan, sehingga nama filsafat Islam tidaklah cocok (oximoron). Mereka menawarkan istilah FILSAFAT MUSLIM, karena para pendukungnya adalah para filosof muslim.&lt;br /&gt;   * Ada lagi yang lebih sreg menggunakan istilah FILSAFAT ARAB, karena merujuk pada karya-karya filosof muslim yang ditulis dalam bahasa Arab.&lt;br /&gt;   * Namun, banyak juga yang mendukung lahirnya FILSAFAT ISLAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan yang mendukung lahirnya Filsafat Islam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mulyadi Kartanegara, ada 3 alasan: (1) Terjadinya Islamisasi Filsafat Yunani di dunia Islam, (2) Adanya transformasi radikal yang memberikan warna tersendiri bagi filsafat Islam yang disebabkan oleh daya kritis dan kritik yang dilontarkan oleh para filosof muslim, dan (3) Adanya perkembangan yang unik dalam filsafat Islam karena interaksinya dengan Islam sebagai sebuah agama. Pengembangan ini salah satunya melahirkan filsafat kenabian yang hampir sebagian besar filosof muslim mengupasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Mulyadi di atas, sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Oleaver Leaman bahwa konflik istilah antara filsafat dan agama tidak seharusnya menghilangkan kemungkinan adanya sebuah filsafat Islam. Seseorang dapat dikatakan sebagai seorang filosof bukan karena kekhawatiran mereka akan keberadaan keimanan terhadap agama tapi kemampuan memakai argumen-argumen rasional guna mempertahankan atau menyerang suatu pandangan (keagamaan). Pendapat Leaman ini dikuatkan oleh begitu tingginya apresiasi terhadap peran dan fungsi akal dalam Islam seperti yang termaktup dalam Alquran. Jadi mempertentangkan keberadaan filsafat dan agama tidak cukup memiliki argumen yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI FILSAFAT/FALSAFAH MENURUT PARA FILOSOF MUSLIM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. ABU YA'QUB AL-KINDI, dalam kitabnya Fi Al-Falsafah Al-Ula, mendefinisikan falsafah adalah: "Pengetahuan tentang realitas atau hakikat segala sesuatu sebatas yang memungkinkan bagi manusia, karena sesungguhnya tujuan filosof secara teoritis adalah untuk mencapai kebenaran dan secara praktis adalah bertingkah laku sesuai dengan kebenaran"&lt;br /&gt;  2. IBN SINA, dalam kitab 'Uyun al-Hikmah mendefinisikan Al-Hikmah (yang baginya sama dengan filsafat)&lt;br /&gt;     adalah: "Usaha untuk mencapai kesempurnaan jiwa melalui konseptualisasi (tashawwur) atas segala hal dan pembenaran (tashdiq) realitas-realitas teoritis dan praktis berdasarkan ukuran kemampuan manusia"&lt;br /&gt;  3. IKHWAN AL-SHAFA, sekelompok pemikir muslim Syi'ah Isma'iliyyah yang memiliki tendensi ke arah tasawuf atau sufisme, mereka menyatakan bahwa: "Permulaan falsafah adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentang realitas wujud sesuai ukuran kemampuan manusia, dan pamungkasnya adalah kata dan perbuatan yang sesuai dengan pengetahuan itu"&lt;br /&gt;  4.&lt;br /&gt;     MULLA SHADRA, dalam kitab Al-Asfar Al-Arba'ah mendefinisikan Falsafah sebagai: "Upaya penyempurnaan atas jiwa manusia dan, dalam beberapa hal, atas kemampuan manusia melalui pengetahuan tentang realitas esensial segala sesuatu sebagaimana adanya, dan melalui pembenaran terhadap eksistensi mereka yang ditetapkan atas dasar demonstrasi (burhan) dan bukan diturunkan dari opini atau dugaan"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI FILSAFAT ISLAM MENURUT PEMERHATI FILSAFAT ISLAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sejumlah definisi yang diberikan oleh para pakar, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Musa Asy'ari, mengatakan bahwa filsafat Islam itu pada dasarnya merupakan pemikiran yang terus berkembang dan berubah. Dalam kaitan ini, diperlukan pendekatan historis terhadap filsafat Islam yang tidak hanya menekankan pada studi tokoh, tetapi yang lebih penting lagi adalah memahami proses dialektik pemikiran yang berkembang melalui kajian-kajian tematik atas persoalan-persoalan yang terjadi pada setiap zaman. Oleh karena itu perlu dirumuskan prinsip-prinsip dasar filsafat Islam agar dunia pemikiran Islam terus berkembang sesuai dengan perubahan zaman. Lebih jauh, menurut Musa, filsafat Islam dapatlah diartikan sebagai kegiatan pemikiran yang bercorak Islami. Islam di sini menjadi jiwa yang mewarnai suatu pemikiran. Filsafat disebut Islami bukan karena yang melakukan aktivitas kefilsafatan itu orang yang beragama Islam atau orang yang berkebangsaan Arab atau dari segi obyeknya yang membahas mengenai pokok-pokok keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Damardjati Supadjar, berpendapat bahwa dalam istilah filsafat Islam terdapat dua kemungkinan pemahaman konotatif. Pertama, filsafat Islam dalam arti filsafat tentang Islam yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Philosophy of Islam. Dalam hal ini Islam menjadi bahan telaah, obyek material suatu studi dengan sudut pandang atau obyek formalnya, yaitu filsafat. Jadi di sini Islam menjadi genetivus objectivus. Kemungkinan kedua, filsafat Islam dalam arti Islamic Philosophy, yaitu suatu filsafat yang Islami. Di sini Islam menjadi generativus subjektivus, artinya kebenaran Islam tersebar pada dataran kefilsafatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Ahmad Fuad al-Ahwani, berpendapat bahwa filsafat Islam ialah pembahasan meliputi berbagai soal alam semesta dan bermacam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan yang turun bersama lahirnya agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Amin Abdullah, berpendapat bahwa Filsafat Islam merupakan hasil proses panjang asimilasi dan akulturasi kebudayaan Islam dan kebudayaan Yunani lewar karya-karya filosof Muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, al-Ghazali, dan Ibn Rusyd. Filsafat profetik (kenabian), sebagai contoh, tidak dapat kita peroleh dari karya-karya Yunani. Filsafat profetik adalah trade mark filsafat Islam. Juga karya-karya Ibn Bajjah, Ibn Tufail adalah spesifik dan orisinal karya filosof Muslim. Memang Alquran membawa cara yang sama sekali baru untuk melihat Tuhan dan Alam, dan juga membahas hukum-hukum yang tidak dapat diredusir dalam filsafat Yunani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Haidar Bagir, Filsafat Islam bisa dilihat sebagai gabungan antara pemikiran liberal dan agama. Ia bisa disebut liberal dalam hal pengandalannya pada kebenaran-kebenaran primer dan metode demonstrasional untuk membangun argumen-argumentasinya. Dan pada yang sama, pengaruh keyakinan religius atau quasi religius amat dominan, baik dalam penerimaan kesepakatan mengenai apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran primer tersebut, maupun dalam pemilihan premis-premis lanjut dalam silogisme mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan beberapa pandangan di atas, filsafat Islam dapat diketahui melalui lima cirinya seagai berikut. Pertama, dilihat dari segi sifat dan coraknya, filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Alquran dan Hadis. Dengan sifat dan coraknya yang demikian itu, filsafat Islam berbeda dengan filsafat Yunani atau filsafat Barat pada umumnya yang semata-mata mengandalkan akal pikiran (rasio). Kedua, dilihat dari segi ruang lingkup pembahasannya, filsafat Islam mencakup pembahasan bidang fisika atau alam raya yang selanjutnya disebut bidang kosmologi; masalah ketuhanan dan hal-hal lain yang bersifat non materi, yang diselanjutnya disebut bidang metafisika; masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akhirat; masalah ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya; kecuali masalah zat Tuhan. Ketiga, dilihat dari segi datangnya, filsafat Islam sejalan dengan perkembangan ajaran Islam itu sendiri, tepatnya ketiga bagian dari ajaran Islam memerlukan penjelasan secara rasional dan filosofis. Keempat, dilihat dari segi yang mengembangkannya, filsafat Islam dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejarahnya, disajikan oleh orang-orang yang beragama Islam, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Miskawaih, Ibn Sina, al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn Bajjah, Ibn Tufail dan lain sebagainya. Kelima, dilihat dari segi kedudukannya, filsafat Islam sejajar dengan bidang studi keislaman lainnya seperti fikih, ilmu kalam, tasawuf, sejarah kebudayaan Islam dan pendidikan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODEL-MODEL PENDEKATAN DALAM FILSAFAT ISLAM: BEBERAPA KECENDERUNGAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model pendekatan yang dimaksud di sini adalah suatu konsep paradigmatik yang dikembangkan oleh para pakar dalam kaitannya dengan penelitian filsafat. Beberapa model yang akan dikemukakan di sini merupakan suatu usaha progresif untuk melihat filsafat Islam sebagai alternatif pemecahan masalah bagi mandeg nya pemikiran keilmuan Islam yang selama ini terasa kering karena miskinnya metodologi yang dikembangkan. Selain itu, model-model ini juga merupakan tawaran alternatif untuk melihat persoalan filsafat Islam dalam konteks yang lebih komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Pertama. Model ini menawarkan suatu pendekatan Filsafat Islam dengan melakukan kajian terhadap materi filsafatnya itu sendiri. Munculnya pendekatan ini didasarkan pada suatu konsep umum yang melanda cara berpikir (ways of thought) dan cara pandang (world views) umat Islam, yaitu kesulitan untuk membedakan antara filsafat dan sejarah filsafat; antara filsafat Islam dan sejarah filsafat Islam. Biasanya yang terjadi adalah kita sering mengorbankan kajian filsafat, karena kita selalu dihantui oleh trauma sejarah abad pertengahan ketika sejarah filsafat Islam diwarnai oleh pertentangan pendapat dan perhelatan pemikiran antara al-Gazali dan Ibn Sina, yang menentukan jalannya sejarah pemikiran umat Islam. Terhadap kecenderungan model pertama ini ada dua karya yang dapat dijadikan rujukan yaitu karya Sheila McDonough berjudul Muslim Ethic and Modernity: A Comparative Study of The Ethical Thought of Sayyid Ahmad Khan dan Mawlana Mawdudi dan karya Amin Abdullah berjudul The Idea of University Ethical Norm in Ghazali and Kant dan Studi Agama Normativitas atau Historisitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Kedua. Model pendekatan yang ditawarkan adalah dengan mengekplorasi pemikiran para tokoh filosofnya. Yang terkait dengan model ini adalah karya Otto Horrassowits berjudul History of Muslim Philosophy. Dengan menggunakan suatu pendekatan penelitian kualitatif Otto Horrassowits menelaah para filosof muslim dengan mengemukakan riwayat hidup, karya tulis dan percikan-percikan pemikirannya. Hal senada juga bisa kita dapatkan dalam karya Majid Fakhry yang berjudul A History of Islamic Philosophy. Majid Fakhry selain menyajikan hasil penelitiannya tentang ilmu Kalam, Mistisisme dan kecenderungan-kecenderungan modern dan kontemporer juga berbicara tentang filsafat. Khusus dalam bidang filsafat, ia berbicara tentang al-Kindi, ibn al-Rawandi, al-Razi, Abu Hayyan al-Tauhidy, Ibn Miskawaih, Yahya bin 'Adi, Ibn Massarah, al-Majrithi, Ibn Bajjah, Ibn Tufail, ibn Rushd, al-Suhrawardi dan Shadr al-Din al-Syirazi. Majid Fakhry selain mengemukakan riwayat hidup dan karya-karya dari masing-masing tokoh tersebut juga mengemukakan pemikirannya dalam bidang filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model Ketiga. Dalam buku yang berjudul Filsafat Islam, Ahmad Fuad al-Ahwani selain menyajikan sekitar problem filsafat Islam ia juga menyajikan tentang zaman penerjemahan, dan filsafat yang berkembang di kawasan masyriqi dan maghribi. Di kawasan maghribi ia kemukakan nama al-kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina. Sedangkan di kawasan maghribi ia kemukakan Ibn Bajjah, Ibn Tufail dan Ibn Rusyd. Selain dengan mengemukakan riwayat hidup serta karya dari masing-masing tokoh filosof tersebut, juga dikemukakan tentang jasa dari masing-masing filosof tersebut serta pemikirannya dalam bidang filsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian metode penelitian yang ditempuh Ahmad Fuad al-Ahwani adalah penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan lahan-lahan kepustakaan. Sifat dan coraknya adalah penelitian deskriptif-kualitatif. Sedangkan pendekatannya adalah pendekatan yang bersifat campuran, yaitu pendekatan historis, pendekatan kawasan dan tokoh. Melalui pendekatan historis, ia mencoba menjelaskan latar belakang timbulnya pemikiran filsafat dalam Islam. Sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh-tokoh filosof menurut tempat tingggal mereka, dan dengan pendekatan tokoh, ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya.[]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-1315327647590865827?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/1315327647590865827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/filsafat-islam-suatu-penjelajahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1315327647590865827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1315327647590865827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/filsafat-islam-suatu-penjelajahan.html' title='Filsafat Islam: Suatu Penjelajahan Konsep'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-5881392747574497148</id><published>2009-09-02T01:57:00.003+07:00</published><updated>2009-09-02T02:06:01.795+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat Islam'/><title type='text'>Pokok Bahasan II</title><content type='html'>PEMIKIRAN FILSAFAT HELLENISME&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Hellenisme adalah istilah modern yang diambil dari bahasa Yunani kuno hellenizein yang berarti berbicara atau berkelakuan seperti orang Yunani (to speak or make Greek). Dalam pengertian yang lebih luas, Helenisme adalah istilah yang menunjuk kebudayaan yang merupakan gabungan antara budaya Yunani dan budaya Asia Kecil, Syiria, Mesopotamia, dan Mesir yang lebih tua. Gabungan itu terjadi selama tiga abad setelah meninggalnya Alexander Agung pada tahun 323 SM.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Aristoteles, pemikiran filsafat Yunani tidak mengalami perkembangan yang cukup berarti. Bahasan-bahasan yang diwacanakan hanyalah pengulangan-pengulangan (reproductived discourse) dari para filsuf sebelumnya. Tidak ada filsuf yang berhasil menggali dan membuahkan pemikiran yang cemerlang, sampai akhirnya muncul seorang Plotinus sebagai filsuf yang genial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman ini, terjadi pergeseran pemikiran filsafat, yaitu dari yang bersifat teoritis ke wilayah praktis. Ada banyak aliran yang muncul, yang masing-masing berusaha menentukan cita-cita hidup manusia dengan warnanya sendiri-sendiri. Termasuk aliran-aliran yang memiliki kaitannya penting dengan pemikiran filsafat Islam adalah Neo-Platonisme dan Neopytagoras. Mengenai kedua aliran ini akan dijelaskan kemudian secara rinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, sejarah filsafat Barat dimulai di Yunani. Sifat-sifat filsafat Yunani sangatlah mempengaruhi seluruh alam pikiran Barat; melepaskan diri dari mitos-mitos dan mencari pertanggungjawaban yang rasional dari kenyataan; mencari apa yang tetap dan kekal dalam kenyataan-kenyataan yang berubah-ubah, realistis, terang, tajam dalam perumusan-perumusan, teratur, rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, tahapan-tahapan sejarah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. KELAHIRAN: (Pra-Sokrates: Filsafat alam, mencari penjelasan dari alam, khususnya terjadinya segala-galanya dari Prinsip Pertama (arche).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.Mazhab Miletos: Thales (625-545), Anaximandros (610-540), Anaximenes (585-528)&lt;br /&gt; 2.Pythagoras (580-500)&lt;br /&gt; 3.Herakleitos (540-480)&lt;br /&gt; 4.Mazhab Elea: Parmenides (530-540), Zeno (490)&lt;br /&gt; 5.Yonisi: Empedokles (483), Anaxagoras (499-428), Demokritos (460-370)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. PERKEMBANGAN: Memusatkan penyelidikan pada manusia. Filsafat alam tak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka timbullah sikap kaum sofis ("pedagang pengetahuan").&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.Kaum Sofis: Pythagoras (481-411), Gorgias (483-375).&lt;br /&gt; 2.Sokrates (470-400)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. JAMAN KEEMASAN: Mencari sintesis antara filsafat alam dan filsafat tentang manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.Plato (429-347), meneruskan dan menyempurnakan ajaran Sokrates. Inti ajarannya: ajaran ide-ide, tentang pengetahuan, prinsip pertama, kesusilaan, jiwa, alam, dan negara.&lt;br /&gt; 2.Aristoteles (384-322), murid Plato, filsuf pertama yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar dari filsafat, yang dipersatukannya dalam satu system, meliputi: logika, filsafat alam, ilmu jiwa, metafisika (sebab Pertama), etika, ilmu politik. Hasil-hasil pemikirannya sekarang masih berlaku (Hylemorfisme).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. JAMAN KERUNTUHAN - Sistem-sitem Etika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1.Stoa (300 SM – 200 SM) hendak memberikan ajaran-ajaran hidup praktis, agak materialistis; memperkenalkan logika lebih lanjut. Yang terkenal: Zeno (336-264), Seneca, Empitektus (50-117).&lt;br /&gt; 2.Epikurus (341-271), materialistis dan "aku-istis": kebahagiaan adalah kepuasaan diri, "permulaan dan akar kebaikan ialah kenikmatan perut".&lt;br /&gt; 3.Skeptisis: Kesangsian, tak mungkin orang mencapai kepastian. Pyrrho (360-270), Sextus Empiricus (150).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. PERKEMBANGAN BARU : Neo-Platonis, bersikap religious, kebatinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Plotinos (205-270)&lt;br /&gt; 2. Porphyrius (232-315), muridnya. Buku yang terkenal: Enneaden (9 buku), ajaran emanasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah deskripsi singkat mengenai tahapan-tahapan awal sejarah filsafat barat. Keberadaan filsafat barat tersebut, dalam beberapa hal, mempengaruhi pemikiran-pemikiran Islam. Terutama dua aliran yang akan dijelaskan berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Neo-Platonisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliran ini muncul kira-kira lima abad setelah Aristoteles. Pemikiran filsafatnya disusun secara sistematis. Kebangkitan pemikiran filsafat kuno ini bersamaan waktunya dengan kelahiran agama Kristen, sehingga terjadi pergumulan yang dahsyat antara keduanya. Tokoh yang sering dihubung-hubungkan dengan aliran ini adalah Ammonius Sakkas dan Platinos. Ammonius Sakkas tidak meninggalkan tulisan apapun, sehingga pemikiran filsafatnya hampir tidak dapat diketahui. Kita dapat mengetahui tentang pemikiran filsafatnya melalui Plotinus (204-270) yang hasil karyanya dibukukan oleh muridnya, Porphyrios.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ringkas Plotinus adalah filsuf pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta yang dikenal dengan teori emanasi. Teori ini banyak diikuti oleh para filsuf Islam. Teori emanasi ini sebenarnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan Thales, ± 8 abad sebelumnya, yang menanyakan apa bahan alam semesta ini. Plotinus menjawab: bahannya adalah Tuhan. Filsafat Plotinus kebanyakan bernapas mistik, bahkan tujuan filsafat menurutnya adalah mencapai pemahaman mistik. Yang paling menarik dari seluruh gagasan pemikiran filsafat Plotinus adalah tentang Metafisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai hal, Plotinus banyak bersandar pada doktrin-doktrin Plato. Artinya ia menganut realitas idea. Sistem metafisika Plotinus ditandai oleh konsep transendens. Menurutnya, di dalam pikiran terdapat tiga realitas, yaitu; The One, The Mind, dan The Soul. Realitas yang pertama, The One, yang bisa kita artikan sebagai Tuhan adalah suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Ia berada di luar eksistensi, di luar nilai. The One itu adalah puncak semua yang ada; Ia itu maha mutlak, cahaya di atas cahaya. Kita tidak mungkin mengetahui esensinya; kita hanya mengetahui bahwa Ia itu pokok atau prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa. Ia adalah pencipta semua yang ada. The One itu tidak dapat didekati melalui penerimaan panca indra dan juga tidak dapat dipahami lewat pemikiran logis. Kita hanya dapat menghayati adanya; artinya kita tidak dapat memikirkannya seperti ketika kita memikirkan sesuatu yang ada definisinya. Ia transenden terhadap segala makhluk. Ia hanya dapat didekati lewat tanda-tanda dalam alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas kedua, The Mind, atau dalam istilah latinnya Nous merupakan gambaran tentang Yang Esa (The One) yang di dalamnya mengandung ide-ide Plato. Idea-idea itu merupakan bentuk asali objek-objek. Kandungan Nous adalah benar-benar suatu kesatuan. Untuk menghayatinya dibutuhkan suatu permenungan/penghayatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas ketiga, The Soul, merupakan arsitek semua fenomena yang ada di alam ini, The Soul mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dalam dua aspek, iada adalah energi di belakang dunia, dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang penciptaan, Plotinus berpendapat bahwa alam semesta ini diciptakan melalui proses emanasi (al-fâid). The One (Yang Esa) adalah yang paling awal dan merupakan Sebab Pertama. Emanasi itu berlangsung tidak di dalam waktu. Emanasi itu laksana cahaya yang membias (emanation) dari matahari. Dengan beremanasi itu The One tidak mengalami perubahan. Mengenai Emanasi ini, Muhammad Hatta melukiskan demikian:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Esa (The One) itu adalah sumber semuanya, tetapi tidak mengandung di dalamnya satu pun dari barang yang banyak (makhluk). Dasar yang banyak tidak mungkin yang banyak itu sendiri, dasar yang banyak adalah Yang Esa. Di dalam Yang Esa itu yang banyak belum ada, sebab di dalam-Nya yang banyak itu tidak ada, tetapi yang banyak itu datang dari Dia. Karena Yang Esa itu sempurna, tidak memerlukan apa-apa, tidak memiliki apa-apa, maka beremanasilah dari Dia yang banyak itu. Di dalam filsafat klasik Yang Asal itu dikatakan sebagai Yang Bekerja atau sebagai Penggerak Pertama. Di situ selalu dikemukakan dua hal yang berlawanan, seperti yang bekerja dan yang dikerjakan, idea dan benda, pencipta dan ciptaan. Penggerak Pertama itu berada di luar alam nyata, sifatnya transendens.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah konsep emanasi yang berasal dari filsafat timur. Sementara yang berkaitan dengan konsep emanasinya Plotinus, Hatta menjelaskan lebih lanjut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;... Tidak ada (dua hal) yang bertentangan. Padanya alam ini terjadi dari Yang Melimpah, yang itu tetap menjadi bagian dari Yang Melimpah itu. Bukan Tuhan berada di dalam alam, melainkan alam berada di dalam Tuhan. Hubungannya sama dengan hubungan benda dengan bayangannya. Makin jauh yang mengalir itu dari Yang Asal, makin tidak sempurna ia. Alam ini bayangan Yang Asal, tetapi tidak sempurna, tidak lengkap, tidak cukup, tidak sama dengan Yang Asal. Kesempurnaan bayangan itu bertingkat menurut jaraknya dari Yang Asal. Sama dengan cahaya, semakin jauh dari sumber cahaya, semakin kurang terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran Emanasi di atas, menegaskan bahwa kemutlakan Sang Maha Tunggal(The One;Yang Esa) tak terbanding dengan lainnya. Ia transenden. Dan yang perlu diingat lagi adalah bahwa dalam Emanasi itu proses-proses di dalamnya terjadi tidak dalam ruang-waktu . Ruang dan waktu terletak pada tingkat yang paling bawah dalam proses emanasi. Ruang dan waktu adalah suatu pengertian tentang dunia benda. Untuk menjadikan alam, The Soul mula-mula menghamparkan sebagian dari kekekalan-Nya, lalu membungkusnya dengan waktu. Selanjutnya energi-Nya bekerja terus, menyempurnakan alam semesta itu. Waktu berisi kehidupan yang bermacam-macam waktu bergerak terus hingga menghasilkan waktu lalu, sekarang, dan akan datang. Waktu, dalam pemikiran filsafat Plotinus, tidak terpisah dari jiwa, ia merupakan suatu yang inheren dalam jiwa. Bila mencapai kesatuannya yang asli, artinya bila ia terpisah dari jiwa, waktu akan hilang, misalnya bila ia menyatu dengan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Neo-Pythagoras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun bernama Neo-Pythagoras, aliran ini bukanlah kelanjutan yang murni dari filsafat Pythagoras. Sebenarnya, ajaran aliran ini bersumber dari ajaran Plato yang dicampur dengan ajaran dari Aristoteles dan Kaum Stoa. Tokoh yang terkenal dari aliran ini adalah Appolonius dar Tyana yang hidup pada abad pertama sebelum masehi. Isi ajarannya dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Ilahi atau Yang Ada merupakan suatu realitas sempurna yang tidak bergerak dan tidak berjasad, sedangkan benda mengandung di dalam dirinya gerak yang tidak beraturan, yang merupakan kemungkinan murni pengandaian eksistensi segala yang ada. Yang Ilahi ini merupakan sumber idea yang merupakan gagasan-gagasan Yang Ilahi, yang menjadi pola dasar dari segala kenyataan. Segala yang ada terbentuk sesuai dengan gagasan Ilahi. Idea-idea juga merupakan bilangan. Penciptaan dunia dengan segala keanekaragamannya tidak dilakukan oleh Yang Ilahi, melainkan hasil karya dari "jiwa dunia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara manusia memiliki dua macam daya, yaitu daya untuk mengenal dunia rohani yang merupakan daya intuitif, yang timbul karena kerja sama dengan akal, dan daya pengamatan. Manusia terdiri dari jiwa dan tubuh yang saling terpisah satu dari yang lain. Jiwa terbelenggu dalam tubuh, sehingga hanya kematianlah yang dapat membebaskan diri dari pengaruh tubuhnya dengan berpantang tidak makan daging dan tidak melakukan persetubuhan misalnya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-5881392747574497148?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/5881392747574497148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/pokok-bahasan-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5881392747574497148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5881392747574497148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/09/pokok-bahasan-ii.html' title='Pokok Bahasan II'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-800505563985075203</id><published>2009-04-05T15:03:00.002+07:00</published><updated>2009-04-05T15:15:37.844+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN KITA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/SdhnoZC_2uI/AAAAAAAAABY/FvQhf7pvLCU/s1600-h/PIC017.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 283px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/SdhnoZC_2uI/AAAAAAAAABY/FvQhf7pvLCU/s320/PIC017.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321116903354129122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdaman%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;o:officedocumentsettings&gt;   &lt;o:relyonvml/&gt;   &lt;o:allowpng/&gt;  &lt;/o:OfficeDocumentSettings&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdaman%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdaman%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:1; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:"Trebuchet MS"; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:Arial; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0cm; 	mso-para-margin-right:0cm; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Pendidikan adalah salah satu persoalan paling kompleks yang dihadapi oleh bangsa kita. Kompleksitasnya tak pernah berhenti dari dulu hingga sekarang. Masalahnya bukan hanya pada sarana, prasarana, dana serta tenaga pengajar tetapi inti soalnya adalah perdebatan tentang &lt;i&gt;tujuan &lt;/i&gt;pendidikan nasional Indonesia yang tak kunjung menemukan titik kesepakatan antara pemerintah sebagai komponen utama dalam sistem pendidikan kita dan berbagai kelompok masyarakat serta antar berbagai komponen masyarakat sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Bicara tentang tujuan pendidikan di Indonesia seperti yang termaktup dalam Undang Undang adalah mencetak manusia yang beriman dan berilmu, cerdas tapi juga bermoral. Kalau ini yang menjadi target &lt;i&gt;terjauh &lt;/i&gt;dari pendidikan maka sudah seharusnya tahapan-tahapan pendidikan mulai mengarah dan fokus di sini. Tapi apakah sudah demikian kenyataannya? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Melanjutkan pertanyaan di atas, saya cukup pesimis target itu bisa dicapai. Hal ini dilihat dari sistem pendidikan yang diusung oleh pemerintah. Saat ini kita melihat paradigma yang digunakan oleh pemerintah adalah paradigma penyeragaman dalam melihat pendidikan. Misalnya yang disebut pendidikan itu adalah penyelenggaraan pendidikan formal seperti di tingkat SD, SLTP, SLTA, Akademi, Perguruan Tinggi. Hal ini juga dikuatkan dengan subsidi pemerintah yang mengalokasikan dana 20 persen dari APBN bagi pendidikan yang berdampak pada kenaikan rata-rata 50 persen dari bantuan sebelumnya. Tidak cukup dari kebijakan 20 persen subsidi tersebut, pemerintah juga gencar menyuarakan pendidikan gratis melalui intruksi menteri pendidikan nomor 186/MPN/KU/2008. Atau belum lagi kita bicara tentang standar kualitas lulusan untuk tingkat SD, SLTP dan SLTA dan yang sederajat melalui kebijakan yang tertuang dalam kebijakan Ujian Nasional yang lagi-lagi mengedepankan aspek kuantitas ketimbang kualitas yang sebenarnya dari pendidikan kita atau dengan kata lain, lebih menganggap penting aspek formalitasnya ketimbang substansinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Problem-problem di atas akan menjadi pijakan kita dalam melihat lebih jauh persoalan yang sebenarnya dari mutu atau kualitas pendidikan ke depan. Hemat saya, bicara tentang kualitas pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dua faktor yang saling mendukung. Faktor&lt;i&gt; internal &lt;/i&gt;yang meliputi instansi pemerintah, sekolah, madrasah dan faktor&lt;i&gt; eksternal &lt;/i&gt;yang mencakup keterlibatan masyarakat dalam mengontrol, menilai, dan memberi masukan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Mendasarkan pada pola pengembangan di atas, dua ranah tersebut dapat berjalan secara sinergis dan saling mendukung bahwa kesuksesan sekolah juga akan berimbas pada kesuksesan masyarakat. Artinya, apa yang menjadi masalah masyarakat dapat dijawab oleh sekolah dengan melahirkan lulusan yang siap pakai. Bukan lulusan yang banyak menguasai teori tapi kesulitan mempraktekkannya di dalam kehidupan masyarakat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Ada sebuah cerita mengenai kualitas pendidikan di Indonesia dan negara lain. Pada era 60-an hingga 80-an, banyak orang Malaysia yang kuliah di berbagai perguruan tinggi Indonesia baik di PTN maunpun IAIN. Tapi akhir-akhir ini terjadi arus balik: orang Indonesia belajar ke Malaysia. Pada tahun-tahun 1970-an Vietnam belajar mengembangkan pendidikan dasar dari Indonesia. Sekarang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Vietnam mengungguli kita. Pada tahun-tahun 1970-an Vietnam belajar bercocok tanam padi, sekarang menjadi eksportir beras untuk Indonesia. Masih tentang Indonesia dan Vietnam, semangat membaca masyarakatnya ternyata lebih bagus Vietnam. Hal ini dibuktikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk 225 juta jiwa setiap tahun memproduksi 8000 judul buku. Sementara Vietnam dengan 80 juga penduduk memproduksi 15000 judul. Vietnam baru merdeka tahun 1968, Indonesia tahun 1945.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Selain cerita suram keberadaan pendidikan kita dibanding negara lain, ada cerita lain dari Kalibening, Salatiga tepatnya sekolah berbasis komunitas &lt;i&gt;Qoryah Tayyibah&lt;/i&gt;. Sekolah dengan biaya terjangkau mampu melahirkan lulusan-lulusan yang “berkualitas”. Kualitas di sini sebenarnya adalah penilaian dari sisi kebutuhan masyarakat, bukan penilaian dari sisi pemerintah yang mengedepankan formalitas dengan gedung sekolah yang mentereng, satpam yang gagah, pagar sekolah yang kokoh dan semacamnya. Bagi &lt;i&gt;Qoryah Tayyibah, &lt;/i&gt;keberhasilan itu diukur dengan seberapa besar keterlibatan masyarakat bagi komunitas sekolah. Dan seberapa jauh sekolah mampu menerjemahkan proses perubahan jaman bagi kebutuhan masyarakat. &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: 150%;font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;font-size:100%;" &gt;Sekali lagi bicara kualitas pendidikan berarti juga bicara tentang kebutuhan masyarakat. Sangat naif misalnya, masyarakat Indonesia dianggap sebagai masyarakat agraris tapi soal sembako kita masih impor dari negara lain. Di mana peran sekolah dan kepedulian pemerintah dalam hal ini?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-800505563985075203?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/800505563985075203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/04/menakar-kualitas-pendidikan-kita.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/800505563985075203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/800505563985075203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/04/menakar-kualitas-pendidikan-kita.html' title='MENAKAR KUALITAS PENDIDIKAN KITA'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/SdhnoZC_2uI/AAAAAAAAABY/FvQhf7pvLCU/s72-c/PIC017.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-3602976109198342981</id><published>2009-03-08T22:05:00.002+07:00</published><updated>2009-03-21T21:35:31.547+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan IX</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;(FILSAFAT PATRISTIK DAN FILSAFAT SKOLASTIK)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Istilah Abad Pertengahan merupakan istilah untuk menunjuk suatu jaman peralihan atau jaman tengah antara dua jaman penting sesudah dan sebelumnya; yakni Jaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Jaman Modern yang diawali dengan masa Renaissans pada abad ke-17.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Sejarah Abad Pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 sampai awal abad ke-17.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;table style="BORDER-COLLAPSE: collapse" border="0"&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style="WIDTH: 213px"&gt;&lt;col style="WIDTH: 213px"&gt;&lt;col style="WIDTH: 213px"&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign="top"&gt;&lt;tr style="BACKGROUND: black"&gt;&lt;td style="BORDER-RIGHT: medium none; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: medium none; PADDING-LEFT: 7px; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: white 2.25pt solid" colspan="3"&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: center"&gt;&lt;span style="font-size:14;color:white;"&gt;&lt;strong&gt;Peta Kronologis&lt;br /&gt;Sejarah Filsafat Barat&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="BACKGROUND: #76923c"&gt;&lt;td style="BORDER-RIGHT: white 2.25pt solid; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: medium none; PADDING-LEFT: 7px; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: medium none"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;600 SM – 500 M&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;&lt;strong&gt;Jaman Kuno &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;Yunani-Romawi &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="BORDER-RIGHT: medium none; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: medium none; PADDING-LEFT: 7px; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: medium none"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;500 M – 1700 M&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;&lt;strong&gt;Abad Pertengahan &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;Dimulai tahun 476 M, yaitu masa berakhirnya Kerajaan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, berakhir 1492 penemuan benua Amerika oleh Columbus &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="BORDER-RIGHT: medium none; PADDING-RIGHT: 7px; BORDER-TOP: medium none; PADDING-LEFT: 7px; BORDER-LEFT: medium none; BORDER-BOTTOM: medium none"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;1700 M – SEKARANG&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;&lt;strong&gt;Jaman Modern &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;color:white;"&gt;Masa Renaissans pada abad ke-17 &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Ciri Filsafat Abad Pertengahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Adanya hubungan erat antara Agama Kristen dan Filsafat. Dengan kata lain, filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat Kristiani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Tema Filsafat Abad Pertengahan adalah hubungan antara iman yang berdasarkan wahyu-Ilahi dan pengetahuan yang berdasarkan kemampuan rasio-manusia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Dapatlah dikatakan bahwa Filsafat Abad Pertengahan adalah filsafat agama dengan agama kristiani sebagai basisnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Dua Jaman Penting Abad Pertengahan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Sejarah Abad Pertengahan dibagi menjadi dua jaman, yakni JAMAN PATRISTIK dan JAMAN SKOLASTIK&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Jaman Patristik &lt;/strong&gt;[Abad ke-2 sampai Abad ke-7]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Istilah "Patristik" (&lt;em&gt;Patres, &lt;/em&gt;Latin) yang menunjuk pada Bapa-bapa Gereja, dan juga berarti pujangga-pujangga Kristen dalam abad pertama Masehi yang meletakkan dasar intelektual untuk agama Kristen. Dalam konteks saat itu, agama Kristen juga dihadapkan pada kebudayaan Yunani terutama pikiran-pikiran filosofis yang beredar dalam masyarakat. Di sinilah muncul pro dan kontra terhadap penerimaan filsafat. Karenanya, Jaman Patristik ditandai dengan usaha keras para Bapa Gereja untuk mengartikulasikan, menata, dan memperkuat isi ajaran Kristen serta membelanya dari serangan kaum kafir dan bid'ah kaum Gnosis. Menurut pendapat mereka, sesudah manusia berkenalan dengan Wahyu Ilahi yang tampak dalam diri Yesus Kristus, filsafat sebagai kecerdikan manusiawi belaka merupakan sesuatu yang berlebihan saja, bahkan suatu bahaya yang mengancam kemurnian iman kristiani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Sebagai contoh, sebut di antaranya seperti;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;1. YUSTINUS MARTIR melihat "Nabi dan Martir" Kristus dalam diri Sokrates. Dan dikenal sebagai Filsuf Kristen pertama.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;2. TERTULIANUS mengatakan tidak ada hubungan antara Athena (simbol Filsafat) dan Yerussalem (simbol teologi ajaran kristiani).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;3. ORIGENES berpendapat wahyu Ilahi adalah akhir dari filsafat manusiawi yang bisa salah. Orang hanya boleh mempercayai sesuatu sebagai kebenaran bila hal itu tidak menyimpang dari tradisi Gereja dan ajaran para rasul.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Kemudian pada abad ke-5, Augustinus muncul. Ajarannya yang kuat dipengaruhi oleh neo-Platonisme merupakan sumber inspirasi bagi pemikir Abad Pertengahan sesudah dirinya selama sekitar 800 tahun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang Augustinus&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;"Jiwa Resah Mendambakan Istirahat"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Kesan yang kita tanggap bagi seorang Agustinus bahwa hidup, berpikir, dan mencintai adalah satu kegiatan dalam iman. Dia dilahirkan di Tagaste tahun 354.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Agustinus muda adalah lelaki yang suka foya-foya dan menikmati kesenangan duniawi yang kelak perbuatannya itu dianggap sebagai "kebejatan nafsu daging", "kegilaan nafsu birahi yang liar". Yang khas dalam pandangan Agustinus adalah mengenai pengenalan diri adalah keterarahannya pada Tuhan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;"&lt;em&gt;Aku mengenal diriku hanya di dalam terang kebenaran dari Dia, yang selalu mengenal (menciptakan) aku&lt;/em&gt;" Dengan iman, manusia dapat mengembangkan berbagai kemungkinan pengetahuannya. Begitu juga sebaliknya, dengan pengetahuan, manusia dapat meneguhkan imanya! Maka, "&lt;em&gt;percayalah untuk bisa mengetahui, dan upayakanlah pengetahuan agar dapat percaya&lt;/em&gt;" (&lt;em&gt;Crede ut intelligas, intellige ut credas&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;strong&gt;Ajaran Mengenai Iluminasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ajaran ini terkait erat dengan penolakannya pada SKEPTISISME; yaitu suatu faham yang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mencapai kepastian pengetahuan. Dulunya, Agustinus menganut paham ini tapi kemudian menolaknya. Alasannya, memang tentang segala sesuatu di luar aku, aku bisa menyangsikan kepastiannya. Akan tetapi, dengan menyangsikan kepastian segala sesuatu, ada satu kepastian yang tidak dapat aku sangsikan lagi, yakni kepastian bahwa aku ini tengah menyangsikan segala sesuatu. Dengan kata lain, harus diterima bahwa pasti ada Aku yang tengah sangsi, keliru, bingung, ragu-ragu, dan seterusnya: "&lt;em&gt;Jadi, kalau aku keliru, aku ada&lt;/em&gt;" (&lt;em&gt;Si enim fallor, sum&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Atas dasar pemikiran di atas, Agustinus mengemukakan jalan menuju kepastian pengetahuan. Namun, bukan di luar, melainkan di dalam, pada batin atau jati diri manusia itu sendiri. Kata-katanya yang terkenal:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;"Janganlah pergi ke luar, kembalilah ke dalam dirimu sendiri; di dalam batin manusia tinggal kebenaran" (&lt;em&gt;noli foras ire, in te ipsum redi; in interiore homine habitat veritos&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Di dalam batinnya, manusia menemukan kebenaran-kebenaran yang niscaya dan berlaku di mana-mana. Kebenaran ini tidak berasal dari pengalaman inderawi, karena pengalaman indrawi sendiri mengandaikan adanya ide-ide tertentu. &lt;em&gt;Pertanyaannya&lt;/em&gt;? Bagaimana kita bisa mendapatkan ide-ide mengenai sesuatu, tanpa tergantung pada pengalaman indrawi?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Manusia dapat mencapai kebenaran-kebenaran yang abadi dan sejati berkat terang (&lt;em&gt;lumen&lt;/em&gt;, Latin) dari Allah. Karena dalam keyakinan Agustinus, manusia secara alamiah sudah terdapat suatu benih kebenaran yang tidak dapat padam atau mati. Inilah ajaran Agustinus tentang ILUMINASI.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Proses ilumniasi dapat dianalogkan dengan akibat yang dihasilkan Sang Surya pada penglihatan kita. Mata kita adalah daya / kekuatan manusia (yakni rasionya, di mana ada "benih kebenaran"), benda yang diterangi merupakan objek-objek pengetahuan kita, sedangkan Sang Surya sendiri adalah sumber kebenaran pengetahuan kita (Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Dalam analog yang lain, Agustinus mengambil contoh dalam dunia pendidikan. Bahwa proses belajar-mengajar hanya mungkin karena adanya "dasar pengetahuan" atau "pengertian" dalam diri manusia. Ini tinggal dihidupkan saja dengan perkataan dan penjelasan bapak guru. Tindakan "menghidupkan" ini tentu sama sekali berbeda, misalnya, dengan sekedar "memberikan" pengetahuan seperti memberikan sebuah jeruk kepada seorang anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Jaman Skolastik &lt;/strong&gt;[Abad ke-9 sampai Abad ke-14]&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Para sejarawan filsafat membagi Jaman Skolastik ini ke dalam tiga periode;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Periode Skolastik Awal (800-1200 M)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Periode Skolastik Puncak (1200-1300 M)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Istilah Skolastik erat kaitannya dengan didirikannya banyak sekolah (&lt;em&gt;schola, &lt;/em&gt;Latin) pada Abad Pertengahan. Namun dalam arti yang lebih khusus, kata "Skolastik" menunjuk pada suatu metode tertentu, yakni "metode skolastik". Dengan metode ini, berbagai masalah dan pertanyaan diuji secara tajam dan rasional, ditentukan &lt;em&gt;pro-kontra &lt;/em&gt;nya untuk kemudian ditemukan pemecahannya. Karenanya, ciri filsafat skolastik adalah "tuntutan ke-masuk-akal-an dan pengkajian yang teliti dan kritis atas pengetahuan yang diwariskan".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;strong&gt;1. Periode Skolastik Awal (800-1200 M)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Ajaran Agustinus dan neo-Platonisme banyak berpengaruh. Pada periode ini, diupayakan misalnya, pembuktian Tuhan berdasarkan rasio murni tanpa berdasarkan Kitab Suci. Tokohnya adalah ANSELMUS.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Selain para pemikir dari kristen, jangan pula dilupakan peran filosof Islam seperti IBN SINA dan IBN RUSHD. Keduanya berperan hebat dalam memperkenalkan pemikiran Aristoteles dan neo-Platonis sehingga juga mempengaruhi Abad Pertengahan. IBN SINA misalnya, berusaha mensintesiskan neo-Platonisme dan Aristotelianisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;strong&gt;2. Periode Skolastik Puncak (1200-1300 M)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Filsafat Aristoteles memberikan pengaruh yang besar. Universitas-universitas pertama didirikan di Bologna (1158), Paris (1170), Oxford (1200). Pada periode ini pula, terjadi kontrontasi dua golongan rohaniawan (ordo) antara ordo Fransiskan (berorientasi pada filsafat Agustinus) dan ordo Dominikan (berorientasi pada filsafat Aristoteles).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Pada abad ke-13, terjadi sintesis besar dua khazanah pemikiran antara kristiani (ajaran Augustinus) dan filsafat Yunani (Plato, neo-Platonisme, dan Aristoteles). Tokohnya, Yohanes Fidanza (Bonaventura), Albertus Magnus, dan Thomas Aquinas. Hasil sintesis ini disebut &lt;em&gt;Summa &lt;/em&gt;(keseluruhan, Latin).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;strong&gt;Periode Skolastik Lanjut/Akhir (1400 M)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Kepercayaan orang pada kemampuan rasio dalam memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Timbullah semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat dipersatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja. Dan hanya iman yang dapat menerimanya. Kesalehan dan hidup mistik mendapatkan perhatian istimewa. Tokohnya seperti THOMAS A. JEMPIS. Dan muncul tokoh lainnya di Jerman, NICOLAUS CUSANUS. Ia menampilkan "Pengetahuan mengenai Ketidaktahuan" ala Socrates dalam pemikiran kristianinya: "Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dapat kuketahui bukanlah Tuhan."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Setelah periode ini, filsafat mulai memasuki periode jaman modern yang diawali dengan jaman Renaissans, jaman "Kelahiran Kembali" kebudayaan Yunani-Romawi di Eropa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;strong&gt;Tentang Thomas Aquinas&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Filsuf Sekaligus Teolog&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Tidak dapat dibantah bahwa Thomas Aquinas adalah tokoh terpenting kala itu pada jaman Skolastik. Ia berjasa dalam memadukan secara orisinil pemikiran Augustinus dengan filsafat Aristoteles. Lewat sebuah ensiklik (surat edaran dari kepausan). Ajaran Thomas Aquinas dinyatakan sebagai dasar bagi filsafat kristiani dan wajib diajarkan pada semua sekolah filsafat dan teologi Katolik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Menurut Thomas, iman dan akal budi tidak mungkin bertentangan karena keduanya berasal dari Allah. Maka baik teologi maupun filsafat pada akhirnya akan sampai pada kebenaran hakiki yang sama. Hanya saja keduanya menggunakan metode yang berbeda. Filsafat memulai penyelidikannya dari benda-benda ciptaan (dalam kawasan yang alamiah), dan dari sinilah dapat mencapai Allah. Sementara teologi justru sudah menerima Allah sebagai asal dan fundamen untuk penyelidikannya atas benda-benda alamiah. Maka, teologi memerlukan wahyu Allah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;Dengan beriman, ia dapat mencapai pengetahuan adikodrati yang disampaikan wahyu kepadanya (misalnya pengetahuan tentang misteri trinitas, inkarnasi, sakramen). Semua pengetahuan ini memang berada di luar batas-batas akal budi, namun sama sekali tidak boleh dikatakan bahwa pengetahuan itu bersifat irasional atau bertentangan dengan prinsip-prinsip akal budi, melainkan jauh melampaui dan mengatasinya. Dengan kata lain, semua pengetahuan yang berasal dari wahyu bersifat metarasional (&lt;em&gt;meta,&lt;/em&gt; Yunani: sesudah, di atas).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-3602976109198342981?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/3602976109198342981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-ix.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3602976109198342981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3602976109198342981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-ix.html' title='Pokok Bahasan IX'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-913783821399030663</id><published>2009-03-01T22:10:00.002+07:00</published><updated>2009-03-01T22:22:16.322+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan VII</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:16;"  &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;REALISME ARISTOTELES&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Biografi Aristoteles &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dikalangan Islam,  Aristoteles dikenal sebagai si Guru Pertama (&lt;em&gt;al-Mu'allim al-Awwal&lt;/em&gt;). Putra Negara Yunani yang termasyhur ini dilahirkan di Stagyra di daerah Thrakia, Yunani Utara tahun 384 SM.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Delapan belas tahun kemudian, Aristoteles masuk &lt;em&gt;Akademia&lt;/em&gt; di Athena dan selama 20 tahun mengikuti kuliah-kuliah Plato. Namun kemudian ia meninggalkan ajaran gurunya itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;"&lt;em&gt;Amicus Plato, magis amica veritas"&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;[Plato memang sahabat karibku, tetapi kebenaran jauh lebih akrab denganku], demikian kata-kata Aristoteles.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Tahun 335 SM, Aristoteles mendirikan sekolah yang diberi nama &lt;em&gt;Lykaion&lt;/em&gt;, nama salah satu gelar dewa Apolo. Karena caranya mengajar dan caranya bertukar pikiran dengan kelompok-kelompok kecil, berlangsung sambil berjalan-jalan, maka sekolahnya dijuluki dengan &lt;em&gt;Peripatetik&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akhirnya, pada tahun 322 SM Aristoteles meninggal dunia di kota Chalcis (di pulau Eubua). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt;Percikan Pemikiran Filsafat Aristoteles&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Seperti halnya Plato, Aristoteles juga senang menulis. Diogenes Laertius, seorang sejarawan filsafat abad ke-3, menyebut 146 judul tulisan. Seorang yang banyak berjasa menyelamatkan dan menyebarkan ajaran Aristoteles ke dunia Barat adalah tokoh filsuf Islam, Ibnu Rushd. Hingga akhirnya dunia Barat mengakui &lt;em&gt;sang guru pertama &lt;/em&gt;dengan sebutan Filosof.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemikiran filsafatnya meliputi banyak hal, mulai soal Metafisika, Logika, Etika, Politik, hingga ilmu pengetahuan umum seperti Biologi, fisika, dan psikologi. Sekedar catatan, tulisan Aristoteles dikenal sangat kering dan kaku. Tidak seperti Plato yang bergaya sastra dan memuat mite-mite.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tentang Metafisika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Asal muasal lahirnya pemikiran metafisika Aristoteles ini terkait dengan banyak hal, yaitu terkait dengan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Pertama, &lt;/em&gt;idea-idea Plato yang dianutnya, kemudian dikritik, ditentang, dan dilepaskan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kosmos. Bagaimana adanya aturan yang pasti dalam kosmos itu dapat diterangkan? Dari manakah aturan itu? Dengan demikian, permenungan Aristoteles berkisar pada "arche" atau "purba" (dasar yang pertama).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dalam pemikiran Plato, terdapat dualisme realitas yaitu antara &lt;strong&gt;dunia ide-ide&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;dunia benda-benda&lt;/strong&gt; konkret.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Aristoteles mengkritik pandangan tersebut, dengan berkata: "&lt;em&gt;Hakikat suatu benda itu berada dalam benda itu sendiri bukan dalam segala macam ide ala Plato&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Solusinya &lt;/em&gt;! Aristoteles mengemukakan suatu ajaran tentang &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Hylemorfisme&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Hylemorfisme&lt;/strong&gt; : Setiap benda selalu merupakan pengejewantahan dari materi (&lt;em&gt;hyle&lt;/em&gt;) dan bentuk (&lt;em&gt;morphe&lt;/em&gt;). Keduanya merupakan prinsip-prinsip metafisik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Contoh &lt;strong&gt;telephon&lt;/strong&gt;, dapat dijelaskan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Menurut ajaran Aristoteles: dalam &lt;strong&gt;telephon&lt;/strong&gt; dari plastik itu, terdapat dua unsur yang menyatu sekaligus yakni &lt;strong&gt;plastik &lt;/strong&gt;dan rupa &lt;strong&gt;telephon&lt;/strong&gt;. Materi dalam benda konkret itu adalah &lt;em&gt;plastik&lt;/em&gt;. Sedangkan "&lt;strong&gt;telephon&lt;/strong&gt;" adalah &lt;em&gt;bentuk&lt;/em&gt;. Bentuk telephon memerlukan bahan plastik agar jelas nampak sebagai telephon. Sementara bahan plastik memerlukan bentuk telephon agar dapat melaksanakan kemungkinannya menjadi telephon sungguhan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Jadi, bentuk tidak pernah lepas dari bahan dan bahan tidak pernah lepas dari salah satu bentuk.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Atas dasar ajarannya itu, Aristoteles membedakan empat &lt;em&gt;penyebab &lt;/em&gt;untuk mengartikan suatu kejadian/penampakan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;1&lt;em&gt;. Penyebab formal &lt;/em&gt;(causa formalis)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Inilah bentuk yang menyusun bahan. Misalnya bentuk Telephon ditambahkan pada plastik sehingga menjadi sebuah &lt;strong&gt;telephon.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;2&lt;em&gt;. Penyebab final &lt;/em&gt;(causa finalis)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Inilah tujuan yang menjadi arah seluruh kejadian. Misalnya, telephon dibuat agar orang dapat berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;3&lt;em&gt;. Penyebab efisien &lt;/em&gt;(causa efficiens)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;    Inilah "motor" yang menjalankan kejadian. Misalnya, tukang telephon membuat telephon.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;4&lt;em&gt;. Penyebab material &lt;/em&gt;(causa materialis)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;    &lt;/em&gt;Inilah bahan dari mana suatu benda dibuat. Misalnya, bahan material telephon adalah plastik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Hakikat benda, demikian menurut Aristoteles, tidak berada &lt;em&gt;di luar&lt;/em&gt;. Melainkan &lt;em&gt;di dalam&lt;/em&gt; benda itu sendiri. Dengan kata lain, hakikat suatu benda bukan terletak pada ide-ide yang berada &lt;em&gt;entah &lt;/em&gt;di mana nun jauh di sana, melainkan mengejewantahkan dirinya secara riil dan secara bertahap dalam serangkaian kejadian atau penampakan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ajaran Tentang Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Salah satu tema yang terkait dengan metafisika, khususnya perihal gerak perkembangan suatu benda, adalah ajaran mengenai TUHAN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Menurut Aristoteles, suatu gerakan atau proses perkembangan dalam jagad raya tidak mempunyai awal dan akhir dalam waktu. Maka alam semesta ABADI sifatnya. Namun karena sesuatu yang bergerak digerakkan oleh penggerak yang lain, maka perlu diterima satu &lt;strong&gt;PENGGERAK PERTAMA &lt;/strong&gt;yang tidak digerakkan oleh penggerak lain, yaitu TUHAN.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Ciri Penggerak Pertama adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Abadi atau tidak terikat oleh waktu, sama seperti Jagat Raya yang disebabkan oleh-Nya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Bukan materi sebab segala sesuatu yang material, selain tidak kekal sifatnya, juga mempunyai potensi untuk bergerak dan digerakkan. Dengan demikian,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penggerak Pertama itu merupakan &lt;em&gt;aktus murni&lt;/em&gt;, bukan potensi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles, memiliki dua alasan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Tuhan bersifat non-material atau tidak badaniah, maka kegiatan-Nya pun harus bersifat murni rohaniah. Oleh karenanya, PEMIKIRAN adalah satu-satunya kegiatan yang bersifat murni rohaniah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Segala aktivitas jenis lain, yaitu selain aktivitas PEMIKIRAN itu sendiri, selalu menuntut objek material yang terbatas dan berada di luar dirinya; dan dengan demikian juga menuntut ketergantungan pada objek itu sebagai arah atau tujuannya (potensi).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Tuhan sebagai aktus murni, menurut Aristoteles…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;PEMIKIRAN sebagai aktivitas yang sama sekali tidak bersifat material, maka –seandainya ada objek- maka objek aktivitas inipun tentu tidak bersifat material atau terbatas. Tetapi objek yang paling tinggi dan sempurna. Nah, objek ini menurut Aristoteles adalah PEMIKIRAN itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jadi, kalau Tuhan adalah aktus murni maka objek pemikiran Tuhan tidak lain adalah PEMIKIRAN ILAHI miliknya sendiri. "Tuhan adalah pemikiran yang memandang pemikirannya (&lt;em&gt;noesis noeseoos&lt;/em&gt;)", demikian kata Aristoteles.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagaimana Penggerak Pertama itu menyebabkan gerak dalam jagad raya? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Bukan sebagai &lt;em&gt;penyebab efisien&lt;/em&gt; (karena Dia adalah aktus murni yang tidak menuntut objek material), melainkan sebagai &lt;em&gt;penyebab final &lt;/em&gt;Allah menyebabkan semuanya bergerak kepada diri-Nya sebagai &lt;em&gt;telos, &lt;/em&gt;sebagai tujuan. Artinya, &lt;strong&gt;segala sesuatu yang ada mengarah kepada Penggerak Pertama itu&lt;/strong&gt;. Gerak dalam jagad raya sama saja dengan gerak menuju Allah. Dalam bahasa puitisnya Aristoteles berucap, "Ia menggerakkan karena dicintai" (&lt;em&gt;kinei de hos eromenon&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Namun, Tuhan sebagai Penggerak Pertama tidak mengenal dan mencintai sesuatu yang lain dari pada diri-Nya sendiri. Karena seandainya Tuhan sampai mengenal dan mencintai dunia (sebagai objek), Dia harus mempunyai potensi juga. Jika demikian halnya, Dia bukan lagi aktus murni.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagaimana kita memperoleh pengetahuan tentang Allah ini? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Menurut Aristeles, berkat rasio (&lt;em&gt;nous&lt;/em&gt;), tetapi bukan sebagai rasio pasif (&lt;em&gt;nous patheikos&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;intelectus possibilis&lt;/em&gt;) yang terutama dipengaruhi oleh kesan-kesan indrawi, melainkan sebagai rasio aktif (&lt;em&gt;nous poietikos &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;intellectus agens&lt;/em&gt;) yang ikut menentukan isi pemahaman manusia berkat daya kreatifnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Sebagai &lt;em&gt;intellectus agens&lt;/em&gt;, rasio mampu memahami adanya Tuhan dibelakang semua gejala alam (misalnya gerak) meskipun pemahaman ini melampaui pengamatan dan pengalaman indrawi yang terbatas jangkauannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Catatan :&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Perbedaan antara &lt;strong&gt;rasio pasif&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;rasio aktif&lt;/strong&gt; menunjuk pada funsi rasio manusia. &lt;strong&gt;Rasio bersifat pasif&lt;/strong&gt; jika hanya menerima hakikat suatu benda yang disajikan pada panca indra. Namun menerima dari mana ? Jawabannya, kata Aristoteles, dari rasio aktif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Rasio Aktif&lt;/strong&gt; ini berfungsi melepaskan hakikat dari sesuatu benda konkret yang disajikan pada pancaindra. Misalnya, dengan membandingkan berbagai jenis, bentuk, dan warna bunga Mawar yang pernah dilihat, rasio aktif harus membentuk hakikat  bunga Mawar. Proses ini disebut &lt;strong&gt;ABTRAKSI&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dalam proses&lt;strong&gt; ABTRAKSI&lt;/strong&gt; (dari kata latin &lt;em&gt;ab = &lt;/em&gt;ke atas, dan &lt;em&gt;trahere &lt;/em&gt;= menarik) ini, rasio aktif  menarik hakikat suatu dan/atau beberapa benda "ke atas" dan sekaligus membentuk pengertian yang tepat mengenai hakikat benda itu. Bagi Aristoteles, selain mengkritik "Ide Plato", bahwa pengenalan yang tepat tentang hakikat sesuatu itu bukan berasal dari dunia ide-ide Plato, tapi berasal dari proses &lt;strong&gt;ABSTRAKSI&lt;/strong&gt; ini. Karenanya,  ilmu pengetahuan dimungkinkan tanpa pengandaian ide-ide Plato.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dalam konteks &lt;em&gt;filsafat pengetahuan&lt;/em&gt;, Aristoteles berbeda dengan Plato. Dasar filsafat pengetahuan Aristoteles bukanlah INTUISI melainkan ABSTRAKSI.@ &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-913783821399030663?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/913783821399030663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-vii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/913783821399030663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/913783821399030663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-vii.html' title='Pokok Bahasan VII'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-4556977715193771201</id><published>2009-03-01T21:24:00.002+07:00</published><updated>2009-03-01T21:36:58.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan VI</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:16;"  &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Idealisme Plato&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Siapa Plato &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Nama aslinya Aristokles. Nama Plato diberikan karena dahi dan bahunya lebar (Plato berarti 'yang berbentuk lebar'). Plato adalah seorang bangsawan, yang dalam sejarah tampil ke muka bukan saja sebagai filsuf dan ahli fikir yang saleh, melainkan juga sebagai penyair dan seniman yang bercita rasa tinggi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Plato dilahirkan di Athena pada 427-347 SM dan seorang yang sangat mengagumi Sokrates, gurunya. Maka tak heran kalau Sokrates benar-benar mempengaruhi hidup dan pemikirannya. Namun, tidak seperti Sokrates, Plato rajin menulis buku. Karangan yang terakhir, &lt;em&gt;Nomoi &lt;/em&gt;(undang-undang), bahkan belum rampung ditulis saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 80 tahun. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Cicero mengungkapkan situasi itu dengan "&lt;em&gt;Plato scribens est mortuus&lt;/em&gt;" (Plato meninggal ketika sedang menulis).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Kalau dicermati, filsafat Plato memiliki tiga karakteristik, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;1. Bersifat Sokrates.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Plato senantiasa menampilkan kepribadian dan perkataan Sokrates sebagai topik sentral karyanya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Berbentuk Dialog&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dalam &lt;em&gt;Surat VII, &lt;/em&gt;Plato menulis, "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pena dan tinta membekukan pemikiran sejati dalam huruf-huruf yang membisu. Kalau &lt;/span&gt;&lt;em style="font-style: italic;"&gt;toh &lt;/em&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pemikiran itu perlu dituliskan, bentuk yang paling cocok adalah bentuk percakapan (dialog-dialog)&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Adanya Mite-Mite&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Plato memakai mite-mite untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan adiduniawi (misalnya tentang ide-ide, keutamaan, dan jiwa)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Ajaran Tentang Ide-ide&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Kebenaran ! Bukanlah manusia senantiasa merindu akan benar? Memang di dunia ini manusia dapat mencapainya, tetapi tidak sepenuhnya, tidak seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Menurut Plato kebenaran yang diperoleh di dunia ini selamanya bercampuran dengan yang tidak benar / sesatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Kenapa? Sebab dunia yang fana ini hanyalah semacam bayangan dari dunia yang baka, dunia yang lebih tinggi, yang menjadi modelnya. Hanya dalam dunia yang elok dan luhur itulah terdapat Kebenaran yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dunia ini tak dapat ditangkap dengan Panca Indera, dunia ini adalah dunia dari idea-idea, dunia ini adalah dunia rohani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Berdasarkan pandangan-pandangan itulah ia memiliki &lt;em&gt;teori tentang idea-idea&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;. &lt;/strong&gt;Ajaran ini juga disebut "&lt;strong&gt;Dialektika&lt;/strong&gt;" sebab merupakan perjalanan ke pengertian tentang Kebenaran. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apa yang dimaksud &lt;em&gt;Idea&lt;/em&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Menurut Plato:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Idea itu adalah intisari sesuatu. Ia adalah realitas; realitas yang ada, yang berdiri sendiri, baik kita pikir maupun tidak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Di awal kita telah mengenal pemikiran Parmenides bahwa dalam pengertian akal terdapat idea-idea yang kekal, yang tidak berubah, yang universal. Namun bagaimana datang dan adanya idea-idea ini dalam intelek manusia? Permenides belum menjawab ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Plato mencoba menjelaskan yang belum terjawab oleh Parmenides tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dari mana isi pikiran kita?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dari dunia panca indera ini ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Mustahil !!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Bukanlah dulu Herakleitos pernah menjelaskan bahwa hal-hal di dunia ini senantiasa mengalami perubahan, selalu mengandung pertentangan-pertentangan dan tidak dapat ditangkap dengan pengertian yang tetap?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Dapatkah penangkapan panca indera kita percaya?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Jika daya tangkap panca indera kita tak dapat dipercaya, lantas bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Ya jawabannya; &lt;strong&gt;intelek&lt;/strong&gt;. Dalam pengertian intelek, ada penangkapan yang tetap, yang tidak berubah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Kesimpulannya&lt;/em&gt;: jiwa manusia harus mengerti suatu realitas yang berlainan  dari dunia ini, suatu realitas yang mengatasi kemampuan panca indera, suatu realitas yang menjadi contoh dan ukuran realitas yang kita alami di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Jadi di luar dunia yang fana ini adalah dunia yang baka, yang tetap, yang kekal, yang abadi. Itulah dunia idea-idea.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Itulah kira-kira jalan pikiran Plato.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Terdapat sebuah perumpamaan yang terdapat di buku ketujuh &lt;em&gt;Politeia&lt;/em&gt;, mengenai idea yang dimaksud Plato, yaitu "perumpamaan tentang gua". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perumpamaan Manusia Gua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Bayangkan sebuah gua; di dalamnya ada sekelompok tahanan yang tidak dapat memutarkan badan, duduk, menghadap tembok belakang gua. Di belakang para tahanan itu, di antara mereka dan pintu masuk, ada api besar. Di antara api dan para tahanan (yang membelakangi mereka) ada budak-budak yang membawa berbagai benda, patung, dan lainnya. Yang dapat dilihat oleh para tahanan hanyalah bayang-bayang dari benda-benda itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Karena itu, mereka berpendapat bahwa bayang-bayang itulah seluruh realitas. Namun, ada satu dari para tahanan dapat lepas. Ia berpaling dan melihat benda-benda yang dibawa para budak dan api itu. Sesudah ia susah payah keluar dari gua dan matanya membiasakan diri pada cahaya, ia melihat pohon, rumah, dan dunia nyata di luar gua. Paling akhir ia memandang ke atas dan melihat matahari yang menyinari semuanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Akhirnya ia mengerti, bahwa apa yang dulunya dianggap realitas bukanlah realitas yang sebenarnya, melainkan hanya bayang-bayang dari benda-benda yang hanya tiruan dari realitas yang sebenarnya di luar gua. @&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-4556977715193771201?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/4556977715193771201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-vi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4556977715193771201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4556977715193771201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/03/pokok-bahasan-vi.html' title='Pokok Bahasan VI'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-8558088448909622230</id><published>2009-02-25T19:41:00.002+07:00</published><updated>2009-02-25T20:02:17.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan V</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:14;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;THE BATTLE OF SOCRATES VS SOFIS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Asal Usul Sofis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Sofis asal mulanya bermakna &lt;em&gt;ahli.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Sejak pertengahan abad ke V SM, Kaum Sofis adalah golongan guru yang merantau ke mana-mana untuk memberi pengajaran dan dengan demikian mencari nafkah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pada mulanya, sebutan Sofis tidak memiliki konotasi jelek. &lt;em&gt;Founding father &lt;/em&gt;nya adalah Georgias dan Protagoras, keduanya mempunyai &lt;em&gt;image &lt;/em&gt;yang baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;Asbabul Wurud &lt;/em&gt;Aliran Sofis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ada dua faktor, &lt;em&gt;intern &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;ekstern.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Intern :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; ada suatu kejemuan yang melanda para generasi yang berkembang di sekitar tahun 450 SM. Perdebatan yang bermula sejak zaman Thales tentang timbulnya alam semesta, indra dan intelek pada jaman Herakleitos dan Parmenides merupakan suatu fakta yang tak bisa dielakkan. Puncaknya adalah ketika perdebatan-perdebatan itu dikonfrontasikan dengan pengalaman sehari-hari yang dalam banyak hal menimbulkan rasa keragu-raguan terhadap pikiran filsafat. Akhirnya mereka menghentikan permenenungan Metafisik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p style="margin-left: 14pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;strong style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;em&gt;Ekstern :&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; Faktor keadaan politik saat itu. Atau lebih tepatnya &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;perubahan jaman. &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Bangsa Yunani mengalami perubahan kebudayaan akibat peperangan melawan persia. Yang secara langsung bersentuhan dengan munculnya aliran Sofis adalah adanya sistem demokrasi di Athena. Dalam sistem demokrasi ini memungkinkan setiap orang menjadi penguasa. Akhirnya ini memunculkan hasrat untuk belajar dan mencari kecakapan untuk memperoleh kedudukan dalam masyarakat. Di sinilah kaum sofis berperan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Apa Yang Kaum Sofis Ajarkan ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Setting&lt;/em&gt; sosial di Yunani waktu itu menuntut para sofis untuk mementingkan kecakapan berpolitik dan mempergunakan alat-alat kesibukan politik, seperti rapat-rapat, berpidato, menarik masyarakat, dan lain-lain. Soal kebenaran kebanyakan dikesampingkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Intinya adalah &lt;em&gt;bagaimanakah orang dapat mempengaruhi dan menarik massa dengan jalan apa saja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Untuk kepentingan itu,  ilmu yang diajarkan para sofis adalah ilmu bahasa, retorika, dialektik. Dan diajarkan pula ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu falak, bahkan juga mistik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meski beberapa dari ilmu di atas pernah juga diajarkan oleh filsuf sebelum mereka, ada perbedaan yang mencolok, yaitu; ilmu pasti, ilmu falak, dls itu tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan pikiran yang tinggi. Metafisika adalah di luar minat mereka. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pendapat Sarjana Muslim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Al-Baghdadi, Al-Nasafi, Al-Taftazani, Nur Al-Din Al-Raniri, dan Naquib al-Attas, membagi para sofis ke dalam tiga kelompok;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama,&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;  disebut dengan kelompok &lt;strong&gt;al-la adriyyah&lt;/strong&gt; atau &lt;em&gt;gnostik&lt;/em&gt;, karena selalu mengatakan tidak tahu atau selalu ragu-ragu tentang keberadaan sesuatu sehingga menolak kemungkinan seseorang meraih ilmu pengetahuan. Orang yang seperti ini, pada gilirannya juga akan meragukan sikapnya yang serba meragukan keberadaan segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, ialah kelompok &lt;strong&gt;al-indiyyah&lt;/strong&gt;, yaitu mereka yang selalu bersikap subjektif. Kelompok ini menerima kemungkinan ilmu pengetahuan dan kebenaran, tetapi menolak tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran. Bagi mereka, tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif (indi, yaitu ''Menurut saya''), bergantung pada pendapat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, ialah kelompok &lt;strong&gt;al-'inadiyyah&lt;/strong&gt;, yaitu mereka yang keras kepala, yang menafikan realitas segala sesuatu dan menganggapnya sebagai fantasi (&lt;em&gt;auham&lt;/em&gt;) dan khayalan semata-mata. Kelompok terakhir ini lebih mirip dengan kelompok kedua. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tokoh-tokoh Aliran Sofis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Protagoras&lt;/strong&gt; ( &lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;+&lt;/span&gt;  485-411)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Filsuf pertama yang secara sadar dan sengaja meninggalkan cita-cita para pra-Socratic. Bagi para pra-Socratik, pemungkiran dan (atau) kesangsian itu hanya mengenai alam indra. Maka bagi Protagoras yang disangsikan juga alam metafisik. "Tidak ada pengertian yang tetap, yang benar untuk semua orang. Manusia hanya menangkap dengan indra dan tangkapan ini tidak sama untuk setiap orang. Karena manusia terus-menerus berubah maka tangkapannya juga berubah. Apakah artinya berbicara tentang benar dan salah? " maka dalam konteks ini protagoras mengatakan, &lt;em&gt;homo mensura &lt;/em&gt;(Manusia adalah norma dari segala-galanya)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Manusia dalam pengertian yang mana? Manusia dalam kodradnya atau individualnya? Individualnya, begitu kata Pratogoras (C.J. De Vogel)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Segala-galanya apa maksudnya? Segala-galanya dalam konteks tangkapan indra atau dalam pengertian yg tidak terbatas?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Konkritnya, Pratagoras ingin mengusung suatu kebenaran subjektif bukan suatu kebenaran objektif. Karena kebenaran menurutnya adalah seseorang punya kecakapan untuk memutuskan manakah yang menguntungkan bagi Negara pada suatu saat tertentu. Dg kata lain, "&lt;em&gt;segala sesuatu yang berguna pada suatu saat tertentu menurut keadaan saat itu&lt;/em&gt;". &lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Gorgias&lt;/strong&gt; (483 – 375)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Ia lebih tepat dikatakan sebagai ahli bicara ketimbang ahli pikir. Karenanya ia disebut "Bapak ilmu pidato" (retorika).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Bagi Gorgias, benar dan salah tidak jadi soal yang penting bagaimana mempertahankan setiap pernyataan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Salah satu kata-katanya yang terkenal adalah "&lt;em&gt;sama sekali tidak ada barang yang-ada. Andaikata ada, tidak dapat dimengerti  dan jika dapat dimengerti, tidak dapat dikatakan&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Sebab apakah tidak ada apa-apa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Sebab jika ada sesuatu, yang ada itu &lt;em&gt;KEKAL&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;DILAHIRKAN&lt;/em&gt;. Nah, kedua-duanya tidak mungkin, katanya. Jadi tidak ada apa-apa sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Sebab apa &lt;em&gt;DILAHIRKAN&lt;/em&gt; tidak mungkin? Sebab lahir berarti lahir dari yang-ada atau dari yang-tidak-ada. Nah, dari yang-tidak-ada tidak dapat dilahirkan apa-apa ! Akan tetapi juga tidak mungkin dilahirkan dari yang-ada. Sebab yang sudah ada itu sudah ada, dan jika sudah ada tidak dapat dilahirkan ! Jadi jika ada sesuatu, hal itu tidak dapat dilahirkan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;Atau KEKAL&lt;/em&gt; !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;blockquote&gt;Akan tetapi inipun tidak mungkin. Sebab apa? Sebab jika kekal, tidak ada batasnya. Akan tetapi jika tidak ada batasnya, tidak dapat berada di suatu tempat karena ada di suatu tempat sama dengan dibatasi oleh tempat. Jika demikian, yang ada itu tidak ada di manapun juga. Jika tidak ada di manapun juga, ini berarti tidak ada sama sekali. Jelaslah bahwa tidak ada apa-apa sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Kalau kita membaca "puncak pikiran" Gorgias itu, tentulah bertanya permainankah ini atau sungguh-sungguhkah? Ada yang berpendapat bahwa nihilisme Gorgias itu sungguh-sungguh. Ada pula yang mengatakan hanya &lt;em&gt;dagelan &lt;/em&gt;saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tapi yang jelas, dalam konteks ini kita dapat membayangkan semangat sofis, yang tidak peduli akan benar dan salah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Sokrates&lt;/strong&gt; (470-400 sm)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Sepenggal Hidup Sokrates&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Socrates adalah filsuf pertama yang dilahirkan di Athena dan selama hidup tinggal di kota itu. Ayahnya seorang pemahat patung, ibunya seorang bidan. Jika hanya dipandang rupanya, maka Sokrates bukanlah orang yang &lt;em&gt;menarik&lt;/em&gt;, karena roman mukanya jelek. Terkenallah juga bahwa istrinya, Xantippe, adalah wanita yang sangat galak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Namun, Sokrates tetaplah Sokrates yang punya kepribadian menawan; budi pekertinya halus, tabiatnya yang tidak mencari keuntungan sendiri. Dan menjungjung moral yang luhur. Karenanya, masyarakat menghormatinya kala itu. Xenophon menulis dalam &lt;em&gt;Memorabilia &lt;/em&gt;"Saya mengerti bahwa Sokrates selalu tampak sebagai orang yang bermoral tinggi. Kepada murid-muridnya, ia memberi pengajaran yang tinggi tentang kebajikan dan lain-lain kewajiban manusia."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Karena bakat Socrates yang piawai berdebat, berani , selalu mengemukakan pikirannya dengan terus terang dan tajam maka banyak juga yang membenci dan dendam padanya. Akhirnya, ia difitnah dan dituduh tidak menghormati dewa-dewa Negara Athena dan berpengaruh buruk pada generasi muda. Pada Usia 70 tahun, filsuf yang ulung ini dihukum mati oleh Pengadilan Rakyat Athena. Kepadanya diusulkan supaya meninggalkan kota. Akan tetapi ditolaknya, karena dia menghormati hukum Negara. Hukuman diterimanya dengan minum bisa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Pesan terakhir Sokrates pada murid-muridnya:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"&lt;em&gt;Lebih baik kita didhalimi orang ketimbang mendhalimi orang&lt;/em&gt;."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Perbedaan Sokrates Vs Sofis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Ada perbedaan cukup penting antara Sokrates dan Sofis. Tidak seperti kaum sofis, dia mengajar bukan untuk mendapatkan uang.  Dia menyebut dirinya seorang filsuf dalam pengertian yang sebenarnya, yaitu "&lt;em&gt;orang yang  mencintai kebijaksanaan&lt;/em&gt;". Seorang filsuf sejati adalah orang yang mencari kebenaran tanpa pamrih.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;Seorang filsuf mengetahui bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit saja yang diketahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata Sokrates yang terkenal;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa. Atau dengan kata lain, Orang yang paling bijaksana  adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Sokrates meng &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;counter &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;paradigma pemikiran kaum Sofis dengan mengatakan bahwa ada yang namanya kebenaran Objektif, yang tidak bergantung pada Saya atau Kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Untuk membuktikan argumennya, Sokrates menggunakan &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;dialektika &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;yang dalam bahasa Yunani &lt;/span&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;dialegesthai &lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;yang artinya bercakap-cakap atau berdialog.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam catatan Aristoteles yang dituangkan dalam traktatnya tentang Metafisika, ada dua penemuan dalam metode Sokrates, kedua-duanya berkenaan dengan dasar pengetahuan, yaitu &lt;em&gt;Induksi &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;definisi&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;Glosarium&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Subyektif &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;(Inggris) &lt;em&gt;Subyecitve&lt;/em&gt;. Beberapa pengertian: mengacu ke apa yang berasal dari pikiran (kesadaran, ego, diri, persepsi-persepsi kita, putusan pribadi kita) dan bukan dari sumber-sumber objektif, luar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;Subjektivisme: &lt;/strong&gt;Suatu kategori umum yang meliputi semua doktrin yang menekankan unsur-unsur subyektif pengalaman.&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Relativisme&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;(Inggris) &lt;em&gt;relarivism, &lt;/em&gt;dari &lt;em&gt;relative, &lt;/em&gt;dari Latin: &lt;em&gt;relativus &lt;/em&gt;(berhubungan dengan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Relativisme Protagoras; &lt;/strong&gt;beberapa hal yang terkait dengan relativismenya adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Teori tentang &lt;em&gt;relativisme pengetahuan &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;relativisme persepsi indrawi&lt;/em&gt;. Sering dihubungkan dengan teori &lt;em&gt;homo mensura &lt;/em&gt;(manusia sebagai ukuran) yang berdasarkan suatu perkataan bahwa "&lt;em&gt;manusia adalah ukuran dari segala sesuatu; dari segala sesuatu yang ada sebagaimana adanya; dari segala sesuatu yang tidak ada sejauh tidak ada&lt;/em&gt;";&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;Relativisme Protagoras:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Apa yang diamati ada sebagaimana diamati oleh si pengamat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Apa yang diamati benar bagi si pengamat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Kebenaran identik dengan apa yang diamati dan berhubungan dengan  kondisi fisik si pengamat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Dengan adanya alat-alat indera yang berbeda, apa yang diamati akan berbeda dan apa yang dianggap benar akan berbeda,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Kebenaran tidak ada terlepas dari si pengamat dan dari pernyataan bahwa sesuatu itu benar.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Contoh dari beberapa pokok di atas: &lt;strong&gt;X &lt;/strong&gt;berkata "angin itu dingin", &lt;strong&gt;Y &lt;/strong&gt;berkata "angin itu panas", kedua pernyataan  ini tidak benar. Baik &lt;strong&gt;X &lt;/strong&gt;atau &lt;strong&gt;Y &lt;/strong&gt;mengucapkan pernyataan yang salah. Kedua pernyataan adalah benar berhubungan dengan bagaimana &lt;strong&gt;X &lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;Y &lt;/strong&gt; mengamati (merasakan) angin. Tidak ada metode atau standar yang mengatasi persepsi tersebut dan yang dapat digunakan untuk menentukan pernyataan mana yang benar dan pernyataan mana yang salah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Skeptisisme&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;em&gt;Skepticism, &lt;/em&gt;dari Yunani &lt;em&gt;Skepsis &lt;/em&gt;(Pertimbangan atau keraguan).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Skeptisisme Gorgias&lt;/strong&gt;: argumen pokok; tidak ada hal yang dapat dikatakan ada (versi nihilistik yang lebih kuat: yang ada tiada). Kalau apapun sungguh ada, kita  tidak akan mampu mengetahuinya; dan kalau kita mampu mengetahuinya, kita tidak akan mampu mengomunikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Nihilisme &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;(Inggris) &lt;em&gt;nihilisme&lt;/em&gt;. Dari bahasa Latin &lt;em&gt;nihil &lt;/em&gt;(tidak ada). Secara harfiah: ketiadaan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Beberapa Pengertian: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Penyangkalan mutlak. Dalam konteks ini nilihilisme berarti titik pandang yang menolak ideal positif mana pun.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Dalam epistemologi, penyangkalan terhadap setiap dasar kebenaran yang obyektif dan real.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"&gt;Teori bahwa tidak ada yang dapat diketahui. Semua pengetahuan adalah ilusi, tidak bermanfaat, tidak berarti, relatif (nisbi) dan tidak bermakna. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-8558088448909622230?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/8558088448909622230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-v.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8558088448909622230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8558088448909622230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-v.html' title='Pokok Bahasan V'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6959218432969990148</id><published>2009-02-24T22:40:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T23:09:28.914+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan IV</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""  style="font-size:100%;"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;FILSAFAT YUNANI KUNO&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengapa Mempelajari Filsafat Yunani Kuno ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Setidaknya ada 2 alasan, mengapa kita perlu mempelajari sejarah filsafat Yunani.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, gaya dan alam pemikiran Yunani membantu kita memahami unsur-unsur yang sebagian besar menjadi batu bangunan untuk kultur modern (misalnya, cara berpikir modern yang logis berdasarkan prinsip-prinsip ilmu logika, serta cara penalaran ilmiah dengan prinsip kausalitas, paham demokrasi, dan keutamaan-keutamaan hidup). Dengan mempelajarinya, kita bisa retrospektif untuk memahami mengapa dan bagaimana kultur modern dan ilmiah sekarang ini terbentuk. Sekaligus mendapatkan prinsip-prinsip pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, &lt;/strong&gt;bagi mereka yang secara khusus menekuni studi filsafat, ada alasan tersendiri: Filsafat Yunani memuat dan merumuskan problem-problem filsafat yang masih hangat didiskusikan sampai hari ini. Tema-tema tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;table style="border-collapse: collapse;" border="0"&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style="width: 142px;"&gt;&lt;col style="width: 153px;"&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign="top"&gt;&lt;tr style="background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border: 1pt solid rgb(179, 204, 130); padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Ada&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-style: solid solid solid none; border-color: rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: 1pt 1pt 1pt medium; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 15pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Keutamaan&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background: rgb(205, 221, 172) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium 1pt 1pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Kebenaran&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 15pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jiwa&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium 1pt 1pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Pengenalan &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 15pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Allah&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background: rgb(205, 221, 172) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium 1pt 1pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Dunia&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid none; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130) -moz-use-text-color; border-width: medium 1pt 1pt medium; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Secara umum, tema-tema pokok filsafat Yunani mencakup tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Permasalahan tentang asas (&lt;em&gt;arkhe&lt;/em&gt;) dan hukum (&lt;em&gt;logos&lt;/em&gt;) alam semesta, serta upaya menemukan satu prinsip yang mempersatukan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Tema-tema yang berkaitan dengan paham &lt;em&gt;aletheia &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;Yunani&lt;/em&gt;, Ketidaktersembunyian), seperti "&lt;em&gt;Ada&lt;/em&gt;", "&lt;em&gt;Kebenaran&lt;/em&gt;", "&lt;em&gt;Pengetahuan Sejati&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Pertanyaan tentang kodrat manusia dan penentuan tindakan etisnya; "&lt;em&gt;Jiwa&lt;/em&gt;", "&lt;em&gt;yang baik&lt;/em&gt;", dan "&lt;em&gt;keutamaan&lt;/em&gt;" (&lt;em&gt;arete&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Ahmad Tafsir mengatakan bahwa : Ciri umum dari filsafat Yunani adalah &lt;strong&gt;&lt;em&gt;rasionalisme&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Periodeisasi Filsafat Barat Kuno &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Para sejarawan filsafat sepakat membagi sejarah filsafat Barat Kuno ke dalam tiga jaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;table style="border-collapse: collapse;" border="0"&gt;&lt;colgroup&gt;&lt;col style="width: 349px;"&gt;&lt;/colgroup&gt;&lt;tbody valign="top"&gt;&lt;tr style="background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border: 1pt solid rgb(179, 204, 130); padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman pra-Sokrates &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background: rgb(205, 221, 172) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium 1pt 1pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman Klasik&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr style="background: rgb(230, 238, 213) none repeat scroll 0% 0%; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;td style="border-style: none solid solid; border-color: -moz-use-text-color rgb(179, 204, 130) rgb(179, 204, 130); border-width: medium 1pt 1pt; padding-left: 7px; padding-right: 7px;"&gt;&lt;p style="margin-left: 8pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman Yunani-Romawi / Jaman Helenistis&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman pra-Sokrates&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Jaman ini mencakup filsafat Alam dari para pemikir asal Miletos (Thales, Anaximandros, dan Anaximenes), Parmenides, Herakleotos.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;(650-500 SM).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman Klasik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Jaman Klasik ditandai dengan munculnya Sokrates, Plato dan Aristoteles. Termasuk yang dimasukkan pada priode ini adalah kaum Sofis. Pusat filsafat jaman ini adalah Athena.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Jaman Yunani-Romawi / Jaman Helenistis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Bermula dari saat muncul sampai tenggelamnya kekuasaan Alexander Agung (abad ke-4 SM) hingga jaman kekuasaan bangsa Romawi (abad ke-2 SM). Ada dua madzhab utama dalam jaman ini, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul style="margin-left: 57pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Madzhab Epikuros, dan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Madzhab Stoa.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Kedua Madzhab di atas memiliki &lt;em&gt;concern &lt;/em&gt;pada bidang filsafat Moral (etika).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 21pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Pada abad ke-1 SM sampai akhir kekuasaan kerajaan Romawi Barat, ada ajaran-ajaran baru dalam sejarah filsafat Barat kuno, khususnya Skeptisisme dan neo-Platonisme. Selain itu, ada juga ajaran-ajaran lain yang datang dari India, Persia, Yudaisme, dan Kristianisme.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;Tokoh-Tokoh Filosof Pra-Sokrates&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;THALES&lt;/strong&gt; (624-546 SM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Thales adalah &lt;em&gt;founding father &lt;/em&gt;bagi sejarah filsafat Barat dengan memberi jawaban yang tidak mitologis atas pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="margin-left: 71pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;em&gt;What is nature of the World stuff&lt;/em&gt; ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;em&gt;Water is the basic prinsiple of the Universe &lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Bagi Thales, &lt;strong&gt;air&lt;/strong&gt; adalah sebab yang pertama dari segala yang ada dan yang jadi, sekaligus juga akhir dari segala yang ada dan yang jadi. Di awal air di ujung air. Air adalah yang penghabisan. Air merupakan &lt;em&gt;subtrat &lt;/em&gt;(bingkai) sekaligus &lt;em&gt;substansi &lt;/em&gt;(isi) itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;ANAXIMANDROS&lt;/strong&gt; (610-547 SM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Tidak seperti Thales,  Anaximandros berpendapat lain. Ia mengatakan bahwa prinsip segala sesuatu bukanlah anasir alam yang kongkret seperti Air. Mengapa? Sebab, seandainya air sebagai unsur basah sungguh-sungguh merupakan prinsip segala sesuatu, seharusnya terdapat juga dalam segala sesuatu, misalnya pada Api. Tetapi nyatanya tidak demikian.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Anaximandros lalu menetapkan prinsip lain sebagai asas segala sesuatu. Prinsip itu adalah prinsip abstrak yang dinamainya &lt;em&gt;to apeiron &lt;/em&gt;(yang tidak terbatas).&lt;em&gt; To&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;       &lt;em&gt;apeiron &lt;/em&gt;ini bersifat ilahi, abadi, tidak terubahkan dan meliputi segala-segalanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;ANAXIMENES (585-528 SM)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Kesulitan menerima ajaran gurunya,  Anaximandros, Anaximenes mengembalikan lagi prinsip segala sesuatu kepada anasir Alam, yakni Udara. Udara di sini menurut pengertian orang-orang Yunani meliputi baik udara atau kabut atau uap.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Menurut Anaximenes,  semua benda di alam semesta tercipta karena suatu proses pengenceran dan pemadatan dari udara sebagai anasir dasariah ini: Kalau udara menjadi encer, muncullah api. Sebaliknya, kalau udara semakin bertambah kepadatannya, muncullah berturut-turut air, tanah, dan batu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Pandangan mengenai udara ini, dikembangkan oleh Anaximenes pada Jiwa manusia,  yang tak lain adalah udara. "&lt;em&gt;sebagaimana jiwa kita, yang tidak lain daripada udara, menyatukan tubuh kita, demikian pula udara mengikat dunia ini jadi satu&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;KESIMPULAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Dari ketiga pemaparan para filosof tersebut, dapat disimpulkan:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="margin-left: 42pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Alam semesta merupakan keseluruhan yang bersatu, maka harus diterangkan dengan menggunakan satu prinsip (&lt;em&gt;the one&lt;/em&gt;) saja.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Alam semesta dikuasai oleh suatu hukum. Kejadian-kejadian alam tidak terjadi secara kebetulan, tetapi ada semacam keharusan teratur di belakang kejadian-kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Akibatnya, alam semesta merupakan &lt;em&gt;kosmos&lt;/em&gt;. Kata Yunani dari &lt;em&gt;kosmos &lt;/em&gt;dapat diartikan sebagai DUNIA, sebuah dunia yang teratur sebagai lawan kata dari &lt;em&gt;khaos&lt;/em&gt;, dunia yang kacau balau.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;HERACLITUS&lt;/strong&gt; (540-480 SM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Heraclitus yang berasal dari Ephesus di Asia Kecil. Dia beranggapan bahwa perubahan terus menerus, atau aliran, sesungguhnya merupakan ciri alam yang paling mendasar. "&lt;em&gt;Segala sesuatu terus mengalir&lt;/em&gt;," kata Heraclitus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Karena itu kita "tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama," dalam ungkapan bahasa Inggrisnya "&lt;em&gt;you can not step twice into the same river for the fresh waters are ever flowing upon you&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Menurut Heraclitus, Alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah;  yang panas jadi dingin, yang dingin jadi panas. Artinya ada ke-dinamis-an di dalam alam ini. Jadi kesimpulannya adalah bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan (&lt;em&gt;stuff&lt;/em&gt;)nya seperti Thales sebelumnya mengatakan,  tapi &lt;em&gt;proses&lt;/em&gt;nya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;&lt;strong&gt;PARMENIDES&lt;/strong&gt; (540-480 SM)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Rekan sejaman dengan Heraclitus adalah Parmenides adalah logikawan pertama dalam sejarah filsafat.  Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Parmenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Dan juga tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan. Demikian juga, tidak ada sesuatu pun yang ada dapat menjadi tiada. Namun demikian, tidak ada yang disebut perubahan aktual. Tidak ada yang dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;" &gt;Cara pandang di atas, membawa Parmenides pada suatu kesimpulan bahwa keaneka-ragaman realitas yang ada, dapat dijumpai suatu hal yang tetap, sama dan berlaku umum. Sesuatu yang tetap, sama dan berlaku umum itu tidak dapat ditangkap melalui pencerapan panca-indera, namun hanya dapat dicerna oleh pikiran (rasionalitas). Karena bagi Parmenides, indra-indra kita memberikan gambaran yang tidak tepat tentang dunia, suatu gambaran yang tidak sesuai dengan akal kita. Untuk itulah, tugas seorang filsuf adalah menyingkapkan segala bentuk &lt;em&gt;ilusi perseptual&lt;/em&gt;. Atas pemikirannya inilah kemudian Parmenides dikenal sebagai seorang rasionalis.  Atau &lt;strong&gt;&lt;em&gt;rasionalisme&lt;/em&gt;. @&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6959218432969990148?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6959218432969990148/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-iv.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6959218432969990148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6959218432969990148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-iv.html' title='Pokok Bahasan IV'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6315326839090682623</id><published>2009-02-24T22:00:00.002+07:00</published><updated>2009-02-24T23:02:18.972+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan III</title><content type='html'>&lt;span xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:16;"  &gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;PEMIKIRAN MITOLOGI DAN AWAL LAHIRNYA FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengertian Mitologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Istilah &lt;strong&gt;mitologi&lt;/strong&gt; diambil dari bahasa Yunani &lt;em&gt;mytologia&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;mythos&lt;/em&gt;: mite, mitos; dan &lt;em&gt;legein&lt;/em&gt;: berbicara). Jadi,&lt;strong&gt; Mitologi&lt;/strong&gt; adalah hal-hal yang membicarakan tentang &lt;em&gt;mitos&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Lorens Bagus, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kamus Filsafat&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;, menjelaskan &lt;strong&gt;mitologi&lt;/strong&gt; sebagai:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul style="margin-left: 72pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Refleksi tentang realitas dalam kesadaran primitif, yang diungkapkan dalam cerita rakyat lisan tentang masa lampau. Mite-mite merupakan cerita yang dilahirkan pada tahap-tahap awal sejarah, yang gambaran-gambaran fantastiknya (dewa-dewi, pahlawan-pahlawan legendaris, peristiwa-peristiwa besar, dan sebagainya) tidak lain merupakan upaya-upaya untuk memopulerkan dan menjelaskan gejala-gejala alam dan masyarakat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Ilmu yang mempelajari mite-mite, asal-usulnya dan refleksi tentang realitas di dalamnya&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Suatu kumpulan cerita mite (mitos, hikayat) yang ada kaitannya dengan agama primitif atau suatu studi (penyelidikan) yang menggarap cerita-cerita tersebut. Mite-mite timbul, berkembang karena didorong oleh hasrat dan usaha manusia (yang tidak ilmiah) untuk memahami dan menjelaskan dunia sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Beberapa Mitos Dalam Sejarah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Sekitar 700 SM, kebanyakan mitologi Yunani ditulis oleh Homer dan Hesiod. Dan pada filsuf Yunani awal mengecam mitologi Homer sebab para Dewa terlalu menyerupai manusia dan sama egois dan sama curangnya. Salah seorang filsuf yang mengkritik itu adalah Xenophanes, yang hidup sekitar 570 SM. Katanya, manusia menciptakan dewa-dewa sesuai dengan banyangan mereka sendiri. Mereka percaya bahwa dewa-dewa itu dilahirkan dan mempunyai badan dan pakaian serta bahasa sebagaimana kita semua. Orang-orang Etiopia percaya bahwa para dewa itu hitam dan berhidung rata. Bangsa Trasia membayangkan mereka sebagai manusia bermata biru dan berambut terang.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;1. Mitos Dewi Eurynome (Dewi segala sesuatu)   tentang asal mula Alam Semesta: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Pada jaman Homeros, diceritakan bahwa: Dewi Eurynome, dewi segala sesuatu, dengan telanjang, ia muncul dari dalam kekacauan. Namun, ia tidak menemukan sesuatu pun yang mantap sebagai tempat pijakan kakinya. Dia lantas memisahkan laut dari langit, dan menari sendirian di atas gelombang laut itu. Eurynome bersetubuh dengan Ophion, sang ular besar, lalu mengambil rupa seekor burung merpati dan hinggap di atas gelombang lautan dan menghasilkan pada saatnya telur bakal dunia. Atas perintah Eurynome, Ophion memutari telur bakal-dunia ini sebanyak tujuh kali, sampai telur itu menjadi masak tererami dan pecah. Dari telur yang pecah itulah, muncul segala sesuatu yang ada: Matahari, Bulan, Planet-planet, Bintang-gemintang, Bumi dengan pegunungan dan sungai-sungai, pepohonan, rerumputan dan makhluk hidup.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;2. Mitos Dewa Thor (Dewa Kesuburan) dengan palunya: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Di Yunani sekitar enam ratus tahun sebelum kelahiran Kristus (SM) semua pertanyaan yang diajukan oleh manusia dijawab oleh agama. Penjelasan-penjelasan agama ini disampaikan dari generasi ke generasi dalam bentuk mitos. Ada sebuah cerita yang sangat populer yang memiliki suatu lukisan mitologis tentang dunia, yaitu cerita tentang Thor dan palunya. Orang-orang Norwegia percaya bahwa Thor mengendarai sebuah kereta yang ditarik dua ekor kambing melintasi angkasa. Ketika dia mengayunkan palunya akan terdengar guntur dan halilintar. Kata "guntur" dalam bahasa Norwegia "Thor-don" yang berarti raungan Thor. Dalam bahasa Swedia, kata untuk guntur adalah "aska," aslinya "as-aka," yang berarti "perjalanan dewa" di atas lapisan-lapisan langit. Jika ada guntur dan halilintar pasti ada hujan, yang sangat penting bagi para petani Viking. Maka Thor dipuja sebagai dewa kesuburan. Sekaligus menjadi dewa paling penting di wilayah Skandinavia. Seperti halnya Dwi Sri (dewi padi atau kesuburan) dalam cerita rakyat di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Mitos memainkan peranan amat penting dalam kehidupan manusia. Hanya saja, dalam pemikiran manusia mitos sudah menjadi penyembahan "idola-idola", segala jenis benda atau hal yang disakralkan walaupun tidak layak dipuja –dengan kata lain berhala dalam bentuknya yang "primitif" dan yang lebih "modern".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Jadi, mitos bukan sesuatu yang harus ditiadakan demi pemodernan pemikiran manusia. Yang harus ditiadakan adalah salah pemahaman dan penyalahgunaan mitos.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kaitan Mitos Dengan Filsafat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Pada sekitar abad VI SM, mulailah bermunculan orang-orang yang tidak puas dengan segala bentuk dongeng, hikayat atau mitos tersebut. Mereka berupaya mencari jawaban yang dapat diterima akal atas segala misteri yang ada di alam semesta ini. Dan ini merupakan awal kebangkitan pemikiran filsafat Yunani, di mana orang-orang mulai mencari kebenaran dengan menggunakan &lt;em&gt;logos&lt;/em&gt; (akal) dan mulai meninggalkan &lt;em&gt;mythos &lt;/em&gt;(mitos).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;Kata-kata Moh. Hatta dalam bukunya &lt;em&gt;Alam Pemikiran Yunani &lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:100%;"  &gt;"...Tiap bangsa betapapun biadabnya, mempunyai dongeng takhayul. Ada yang terjadi dari kisah perintang hari, keluar dari mulut orang yang suka bercerita. Ada yang terjadi dari muslihat menakut-nakuti anak supaya ia tidak nakal. Ada pula yang timbul dari keajaiban alam yang menjadi pangkal heran dan takut. Dari itu orang menyangka alam ini penuh oleh dewa-dewa. Lama-kelamaan timbul berbagai fantasi. Dengan fantasi itu manusia dapat menyatukan ruhnya dengan alam sekitarnya. Orang yang membuat fantasi itu tidak ingin membuktikan kebenaran fantasinya karena kesenangan ruhnya terletak pada fantasinya itu. Tetapi kemudian ada orang yang ingin mengetahui lebih jauh. Di antaranya ada orang yang tidak percaya, ada yang bersifat kritis, lama-kelamaan timbul keinginan pada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:10;"  &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Orang-orang Grik (Yunani) dahulunya banyak mempunyai dongeng dan takhayul. Tetapi yang ajaib pada mereka ialah bahwa angan-angan yang indah itu menjadi dasar untuk mencari pengetahuan semata-mata untuk tahu saja. Tidak mengharapkan untuk dari itu. Berhadapan dengan alam yang indah luas, yang sangat bagus dan ajaib pada malam hari, timbul di hati mereka keinginan hendak mengetahui rahasia alam itu. Lalu timbul pertanyaan di dalam hati mereka, dari mana datangnya alam ini, bagaimana terjadinya, bagaimana kemajuannya dan ke mana sampainya. Demikianlah selama beratus tahun alam ini menjadi pertanyaan yang memikat perhatian ahli-ahli pikir Yunani."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style=";font-family:Trebuchet MS;font-size:12;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;KESIMPULAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Trebuchet MS;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ada kaitan yang cukup dekat antara mitos yang irrasional (tidak masuk akal) dengan lahirnya filsafat yang lebih mengedepankan logos (rasionalitas) dalam mencari dasar argumentasi atas segala yang terjadi di alam semesta ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6315326839090682623?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6315326839090682623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-iii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6315326839090682623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6315326839090682623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-iii.html' title='Pokok Bahasan III'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-1168328770395077193</id><published>2009-02-22T12:49:00.001+07:00</published><updated>2009-02-22T13:25:43.295+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan II</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;SISTEMATIKA PEMBAGIAN FILSAFAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Sistematika Filsafat ini disebut juga dengan struktur filsafat. Sistematika ini, oleh beberapa tokoh, dibagi ke dalam cabang-cabang :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;1.    ARISTOTELES&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Filsafat di bagi ke dalam tiga bidang studi, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;a.    Filsafat Spekulatif/Teoretis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Filsafat spekulatif atau teoritis ini bersifat objektif. Termasuk dalam bidang ini ialah Fisika, Matematika, Biopsikologi, dan sebagainya. Tujuan utama filsafat spekulatif ialah pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri. &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt; b.    Filsafat Praktikal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Filsafat praktikal memberi petunjuk dan pedoman bagi tingkah laku manusia yang baik dan sebagaimana mestinya. Termasuk dalam bidang ini adalah Etika dan Politik. Sasaran terpenting bagi filsafat praktikal ialah membentuk sikap dan perilaku yang akan memampukan manusia untuk bertindak dalam terang pengetahuan itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;c.    Filsafat Produktif &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Filsafat produktif adalah pengetahuan yang membimbing dan menuntun manusia menjadi produktif lewat suatu keterampilan khusus. Termasuk dalam bidang ini ialah kritik sastra, retorika, dan estetika. Adapun sasaran utama yang akan dicapai adalah agar manusia sanggup menghasilkan sesuatu, baik secara teknis maupun puitis dalam terang pengetahuan yang benar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;2.    CHRISTIAN WOLFF  (&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:trebuchet ms;" &gt;seorang filsuf rasionalis Jerman&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;Membagi cabang-cabang filsafat ke dalam: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a.    Logika&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Studi tentang metode berpikir dan metode penelitian ideal, yang terdiri dari observasi, introspeksi, deduksi dan induksi, hipotesis dan eksperimen, analisis dan sintesis, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;b.    Ontologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan itu dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesungguhnya dari penampakan eksistensi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;c.    Kosmologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Secara tradisional dianggap sebagai cabang metafisika yang bergumul dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai asal dan susunan alam raya, penciptaan dan kekekalannya, vitalisme atau mekanisme, kodrat hukum, waktu, ruang, dan kausalitas. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;d.    Psikologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Ilmu yang membahas tentang jiwa dan bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;e.    Teologi Naturalis &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Teologi adalah ilmu tentang Allah. Teologi natural adalah teologi yang dimulai dengan pengetahuan alamiah manusia tentang Tuhan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:trebuchet ms;" &gt;f.    Etika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Studi tentang perilaku ideal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3.    AHMAD TAFSIR&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahwa secara garis besar filsafat mempunyai tiga cabang besar, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a.    Epistemologi &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;teori Pengetahuan&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Epistemologi atau teori pengetahuan pada dasarnya membicarakan cara memperoleh pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Menurut Dagobert D. Runes dalam kamusnya, Dictionary of Philosophy (1971), menjelaskan bahwa:&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, structure, methods and validity of knowledge&lt;/span&gt;”.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Epistemologi memiliki beberapa aliran yaitu:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1)    Empirisme &lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;John Locke (1632-1704) adalah bapak aliran ini. Ia mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya adalah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Melalui proses keterlibatan indra, maka ditangkaplah suatu pengetahuan, sehingga sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2)    Rasionalisme &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Bapak aliran ini (biasanya) dirujukkan pada Rene Descartes (1596-1650). Pengetahuan yang benar menurut aliran ini adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan akal dalam menangkap objek. Jadi, akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Sebenarnya, rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan; pengalaman indera diperlukan guna merangsang akan dapat bekerja. Namun, untuk proses akhirnya kepada kebenaran adalah semata-mata dengan akal.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3)    Positivisme &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tokoh aliran ini adalah August Comte (1798-1857). Pada dasarnya positivisme bukanlah suatu aliran yang khas berdiri sendiri. Ia hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme. Dengan kata lain, ia menyempurnakan metode ilmiah (scientific method) dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran. Positivisme mengajarkan bahwa kebenaran ialah yang logis, ada bukti empirisnya, yang terukur. “Terukur” inilah sumbangan penting positivisme. Misalnya, hal panas. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya. Ukuran-ukuran tadi adalah operasional, kuantitatif, tidak memungkinkan perbedaan pendapat. &lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote style="font-weight: bold;"&gt;4)    Intuisionisme&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Tokoh aliran ini adalah Henri Bergson (1859-1941). Menurutnya, tidak hanya indera yang terbatas tapi akal juga terbatas. Objek-objek yang kita tangkap itu adalah objek yang selalu berubah. Jadi pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Dengan menyadari keterbatasan indera dan akal itulah, Bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki oleh manusia, yaitu intuisi. Ini adalah hasil evolusi pemahaman yang tertinggi. Pengembangan kemampuan (intuisi) ini memerlukan suatu usaha. Kemampuan inilah yang dapat memahami kebenaran yang utuh, yang tetap, yang unique. Berkaitan dengan intuisionisme, ada sebuah aliran yang mirip dengannya, namanya iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh Islam. Teori yang menjadi mainstream adalah teori kasyf yang menyatakan bahwa manusia –yang hatinya telah bersih– telah ‘siap’ sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Pencapaiannya dilalui dengan cara latihan atau di dalam Islam disebut suluk, atau lebih khusus lagi riyadhah. Umumnya, metode ini diajarkan di dalam thariqat. Menurut ajaran thariqat/tashawwuf, manusia itu dipengaruhi (ditutupi) oleh hal-hal yang material, dipengaruhi oleh nafsunya. Bila nafsu itu dapat dikendalikan, penghalang material (hijab) disingkirkan, maka kekuatan rasa itu mampu bekerja, laksana antena yang mampu menangkap objek-objek gaib.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b.    Ontologi &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teori Hakikat&lt;/span&gt;)&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Teori hakikat atau ontologi membahas semua objek. Apa itu hakikat? Hakikat adalah realitas sementara realitas adalah kenyataan yang sebenarnya; jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau keadaan yang menipu, bukan keadaan yang berubah. Ada banyak cabang-cabang di dalam teori hakikat. Kosmologi adalah ilmu yang berbicara tentang hakikat asal, susunan, berada, juga tujuan kosmos. Antropologi adalah ilmu yang mengupas tentang hakikat manusia. Fheodicea atau sering juga disebut theologia adalah ilmu yang membahas tentang hakikat Tuhan. Dan masih banyak lagi yang lain seperti filsafat pendidikan dan filsafat hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang kita bicarakan mengenai realitas benda-benda, apakah ia sesuai dengan penampakannya atau bersembunyi di balik penampakannya (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;appearence&lt;/span&gt;) itu, maka untuk menjawab hal ini ada beberapa aliran yang termasuk di dalamnya. (1) materialisme, (2) idealisme, (3) dualisme, (4) skeptisisme, dan (5) agnostisisme.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;c.    Aksiologi &lt;/span&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Teori Nilai&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Teori nilai atau disebut juga aksiologi membicarakan guna pengetahuan atau disebut aksiologi. Kalau kita kontekskan dengan filsafat, maka apa kegunaan pengetahuan filsafat? Untuk menjawab ini, tentu kita akan melihat filsafat sebagai tiga hal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat sebagai kumpulan teori. Di sini filsafat digunakan untuk memahami –dan merespons– dunia pemikiran. Sebuah contoh, jika anda tidak setuju dengan komunisme maka sebelumnya anda harus mengetahui teori-teori filsafat marxisme karena teori filsafat dalam komunisme itu ada di dalam filsafat marxisme. Dan demikian juga hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat sebagai pandangan hidup (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;philosophy of life&lt;/span&gt;). Dalam posisi ini filsafat menjadi jalan kehidupan. Jika dalam agama Islam dikatakan bahwa Islam itu adalah al-shirath al-mustaqim, maka filsafat sebagai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;philosophy of life&lt;/span&gt; demikian juga halnya. Ia menjadi pedoman dan ajarannya diamalkan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsafat sebagai metode pemecahan masalah. Bagaimana cara filsafat menyelesaikan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;to solve&lt;/span&gt;) masalah? Sesuai dengan sifat filsafat, ia menyelesaikan masalah secara mendalam dan universal. Penyelesaian masalah secara mendalam artinya ia menyelesaikan masalah dengan cara pertama-tama mencari penyebab yang paling awal munculnya masalah. Universal maksudnya melihat masalah dalam hubungan seluas-luasnya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-1168328770395077193?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/1168328770395077193/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pertemuan-ii.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1168328770395077193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1168328770395077193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pertemuan-ii.html' title='Pokok Bahasan II'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-7816940941263016532</id><published>2009-02-18T23:00:00.001+07:00</published><updated>2009-02-18T23:14:17.811+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pokok Bahasan I</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: trebuchet ms;" xmlns=""&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;em&gt;Bismillahirrahmanirrahiem&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;APA ITU FILSAFAT ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;1&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Encyclopedia Britannica&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;".... is derived from the composite Greek noun &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Philosophia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/em&gt;means &lt;em&gt;"&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;the love of persuit wisdom"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;2&lt;/strong&gt;. &lt;strong&gt;Encyclopedia of Philosophy&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"The Greek word &lt;strong&gt;sophia&lt;/strong&gt; is ordinary translated as '&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;em&gt;wisdom&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;', and the compound &lt;strong&gt;philosophia&lt;/strong&gt;, from which philosophy derives, is translated as '&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;em&gt;the love of wisdom&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;'"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;3. The Grolier Dictionary&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Philosophy&lt;/strong&gt;: &lt;/em&gt;Inquiry into the nature of things based on &lt;strong&gt;logical reasoning&lt;/strong&gt; rather than &lt;strong&gt;empirical methods&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;4. Louis Kattsoff&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;Elements of Philosophy&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat adalah berpikir secara &lt;strong&gt;kritis&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat adalah berpikir dalam bentuk &lt;strong&gt;sistematis&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat harus menghasilkan sesuatu yang &lt;strong&gt;runtut&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat adalah berpikir secara &lt;strong&gt;rasional&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat harus bersifat &lt;strong&gt;komprehensif&lt;/strong&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;5. Bertrand Russel&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Philosophy&lt;/strong&gt;: &lt;/em&gt;The attempt to answer ultimate question critically&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;6. William James&lt;/strong&gt;, &lt;em&gt;Encyclopedia of Philosophy&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Philosophy&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;: A collective name for question which have not been answered to the satisfaction of all that have asked them&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;7. Sokrates&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Tugas Filsafat &lt;/strong&gt;adalah bukan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam kehidupan, melainkan mempersoalkan jawaban yang diberikan.  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;JADI ….. &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Filsafat&lt;/strong&gt; adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu keahlian biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 35pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Atau &lt;strong&gt;Filsafat&lt;/strong&gt; disebut sebagai: suatu usaha untuk berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;OBJEK PEMBAHASAN FILSAFAT&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Obyek yang dipikirkan oleh filosof adalah &lt;strong&gt;segala yang ada dan yang mungkin ada&lt;/strong&gt;. Jadi luas sekali.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada 2 Objek bahasan filsafat :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="margin-left: 49pt;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Objek Materia&lt;/strong&gt;: segala yang ada dan mungkin ada.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:10;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Objek Forma&lt;/strong&gt; : yaitu sifat penyelidikan. Obyek forma filsafat adalah &lt;em&gt;penyelidikan yang mendalam&lt;/em&gt;. Maksudnya, ingin tahunya filsafat adalah ingin tahu bagian dalamnya. Yaitu sesuatu yang melebihi dunia empiris. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Ilustrasi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;… Apa itu hujan?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mata melihat, hujan adalah air yang turun dari langit. &lt;em&gt;Ini pengetahuan Sains&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;… Mengapa air itu turun?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Para ilmuwan menyelidiki bahwa hujan itu adalah air yang menguap, berkumpul di atas, lalu turun, dan itulah yang disebut hujan. &lt;em&gt;Ini Sains&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;… Mengapa air laut, air danau, air sumur itu menguap?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Menurut sains karena adanya pemanasan. &lt;em&gt;Ini masih Sains&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;… Mengapa di Indonesia banyak hujan sementara di padang pasir sedikit? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Karena di Indonesia banyak gunung, di padang pasir tidak. Ini masih Sains.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;… Akan tetapi mengapa di Indonesia banyak gunung, di padang pasir tidak? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sains tidak dapat menjawab karena tidak dapat diteliti lagi secara empiris.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Filosof berpikir. Ia menemukan: &lt;strong&gt;itu kebetulan&lt;/strong&gt;;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kebetulan saja di Indonesia banyak gunung, di padang pasir tidak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;… Apa itu kebetulan? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kebetulan ialah salah satu bentuk hukum Alam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;… Apa itu hukum alam? &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hukum alam ialah hukum kehendak alam kata sebagian, hukum kehendak Tuhan kata sebagian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulai dari kata kebetulan, sampai kehendak Tuhan di akhir ini, itu adalah &lt;strong&gt;pengetahuan filsafat&lt;/strong&gt;. Jawaban-jawaban itu semua hanya berdasarkan pemikiran logis, tanpa dukungan fakta empiris. Berpikir tanpa dukungan data seperti ini sering juga disebut &lt;strong&gt;berpikir spekulatif&lt;/strong&gt;; inilah filsafat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;METODE&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt; FILSAFAT &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Istilah &lt;em&gt;metode &lt;/em&gt;berasal dari kata Yunani &lt;em&gt;&lt;strong&gt;methodeuõ&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;yang berarti "mengikuti jejak atau mengusut, menyelidiki dan meneliti"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam hubungannya dengan upaya ilmiah, metode berarti "cara kerja yang teratur dan sistematis yang digunakan untuk memahami suatu obyek yang dipermasalahkan"&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Meieutik Dialektis Kritis Induktif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Metode ini adalah metode &lt;strong&gt;Sokrates&lt;/strong&gt;. Landasan metode ini adalah bahwa setiap manusia itu memiliki pengetahuan objektif yang diperolehnya sejak dalam kandungan (pra-eksistensinya). Untuk mengungkapkan pengetahuan itu diperlukan suatu dialektika (proses tanya-jawab; dialog) yang memungkinkan seseorang  mendapatkan pengetahuan tersebut. Caranya dengan meminjam teknik &lt;em&gt;meietik &lt;/em&gt;(kebidanan), dengan mengajak orang berbincang-bincang. Dan akhirnya ditemukan kebenaran secara universal. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Deduktif Spekulatif Transendental&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Metode ini dikembangkan oleh Plato. Inti dan dasar seluruh filsafat Plato ialah ajaran tentang ide-ide. Plato percaya bahwa ide yang tertangkap oleh pikiran lebih nyata ketimbang obyek-obyek material yang terlihat oleh mata. Karena itu, hanya ide yang merupakan realitas yang sesungguhnya dan abadi. Apa yang disebut pengetahuan sebenarnya hanya merupakan &lt;em&gt;ingatan &lt;/em&gt;terhadap apa yang telah diketahuinya di dunia ide. Jelas dunia ide itu berada di luar pengalaman manusia di dunia, mengatasi realitas yang tampak, dan keberadaannya terlepas dari dunia indrawi. Karena itu, sistem pemikiran Plato bersifat transendental. Karena itu pula, secara menyeluruh dapat dikatakan bahwa metode filsafat plato adalah &lt;em&gt;metode deduktif spekulatif transendental&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Silogisme Deduktif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Metode ini dikemukakan oleh &lt;strong&gt;Aristoteles&lt;/strong&gt;. &lt;em&gt;Logika &lt;/em&gt;adalah salah satu karya filsafat besar yang dihasilkan oleh Aristoteles. Inti logika adalah &lt;em&gt;silogisme&lt;/em&gt;. Dan silogisme merupakan suatu alat dan mekanisme penalaran untuk menarik konklusi yang benar berdasarkan premis-premis yang benar. Itulah sebabnya mengapa metode Aristoteles disebut metode &lt;strong&gt;silogisme deduktif&lt;/strong&gt;. Berikut ini contoh silogisme: &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Semua Manusia akan Mati&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Umum/Universal&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Si Ahmad adalah Manusia&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Khusus/Partikular&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Si Ahmad akan Mati&lt;/strong&gt; (&lt;em&gt;Konklusi&lt;/em&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-7816940941263016532?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/7816940941263016532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/7816940941263016532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/7816940941263016532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pokok-bahasan-i.html' title='Pokok Bahasan I'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-3684743907286565273</id><published>2009-02-18T22:11:00.001+07:00</published><updated>2009-02-18T22:26:46.433+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengantar Filsafat'/><title type='text'>Pertemuan I</title><content type='html'>&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Oleh: Damanhuri, M.Ag.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;A. TUJUAN PERKULIAHAN :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Agar mahasiswa dapat menguasai :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1. Dasar pemikiran FILSAFAT dari awal perkembangannya hingga munculnya &lt;em&gt;Renaissance&lt;/em&gt; (masa pencerahan di Barat).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. Paradigma berpikir Filsafat dan mengkaitkannya dengan ilmu pengetahuan. (Jurusan yang dipilihnya)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;B. TOPIK BAHASAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pengertian, Obyek, Metode dan Struktur Pembahasan Filsafat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sistematika Pembagian Filsafat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mitologi dan Awal Kemunculan Filsafat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat Yunani Kuno&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sokrates Vs Kaum Sofis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Idealisme Plato&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Realisme Aristoteles&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat Skolastik&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Filsafat Islam&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Renaissance dan Humanisme : Awal perkembangan Filsafat Modern&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rasionalisme&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Empirisme &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Eksistensialisme&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Fenomenologi&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;C. REFERENSI /BUKU RUJUKAN&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;1. Kees Bertens, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ringkasan Sejarah Filsafat&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 14pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sebuah buku tentang Sejarah ringkas Filsafat Barat  mulai abad ke – 6 SM hingga abad ke – 19 M. Di dalamnya dibahas  babakan sejarah dari  masa Yunani Kuno, abad pertengahan dan masa modern. Bahasannya mencakup pemikiran tokoh-tokoh filsafat  dan aliran-aliran yang berkembang dalam filsafat. Sebuah buku yang menarik, apalagi ditulis oleh tokoh yang sangat berkompeten di bidangnya. Inilah buku yang sederhana tentang SEJARAH FILSAFAT BARAT.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. &lt;/span&gt;Madjid Fakhry, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sejarah FIlsafat Islam&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 14pt; font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inilah buku Sejarah  FILSAFAT ISLAM  yang dikupas dengan bahasa yang ringan dan sistematis. Di dalam buku ini terdapat banyak informasi tentang para filosof muslim dengan varian pemikirannya, sejarah penerimaan Filsafat di dunia Islam hingga kontribusi besarnya  dalam memajukan pemikiran keagamaan, dan tentunya yang tak bisa dipungkiri adalah kontroversi  yang terjadi antara ahli kalam dan para filosof yang menghiasi khazanah keilmuan Islam. Sebuah bacaan wajib bagi siapapun yang ingin mendalami FILSAFAT ISLAM.     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;div&gt;Harold Titus, dkk&lt;strong&gt;. &lt;em&gt;Persoalan-persoalan Filsafat&lt;/em&gt; : &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Persoalan-persoalan filsafat adalah buku "Khas Filsafat" yang sangat serius dalam gaya penuturannya. Sebuah buku penting untuk mengetahui kata-kata kunci yang ada dalam Filsafat . Pembahasannya mengambil model tematik, yaitu dengan menjelaskan istilah-istilah kunci  dengan menghadirkan banyak tokoh yang terlibat di dalamnya. Pembahasannya meliputi; Apakah Filsafat itu,  Manusia: Makhluk yang Sadar Akan Dirinya, Bidang-bidang Nilai, Pandangan-pandangan Dalam Filsafat, dan Agama-agama: Timur dan Barat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;     &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Buku Anjuran :&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;li style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Harun Hadiwijoyo, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Sari Sejarah Filsafat Barat&lt;/em&gt;  jilid I &amp;amp; II&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Muhammad Hatta,&lt;strong&gt;&lt;em&gt; Alam Pikiran Yunani&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li style="font-family: trebuchet ms;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ahmad Tafsir, &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Mark  B. Woodhouse, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em style="font-family: trebuchet ms;"&gt;Berfilsafat Sebuah Langkah Awal&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       &lt;/strong&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-3684743907286565273?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/3684743907286565273/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pengantar-filsafat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3684743907286565273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/3684743907286565273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/pengantar-filsafat.html' title='Pertemuan I'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-8896136059640343120</id><published>2009-02-12T19:13:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T19:29:29.285+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Event Five:</title><content type='html'>(my poetries)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B I L A&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[ suatu ketika disaat tua ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hanya ada kursi goyang&lt;br /&gt;dengan waktunya yang panjang&lt;br /&gt;dari siang hingga petang&lt;br /&gt;aku duduk menceritakanmu sayang&lt;br /&gt;pada cucu kita sambil gembira riang&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;RUMAH KITA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;[ sketsa kehidupan kita ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;rumah itu mungil&lt;br /&gt;temboknya bercat biru&lt;br /&gt;terdapat taman bunga didepannya&lt;br /&gt;sumur tua yang tinggal usia&lt;br /&gt;: kedamaian menjelma di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah itu istana kita&lt;br /&gt;tempat berteduh berbagi cinta&lt;br /&gt;berdua sepanjang masa&lt;br /&gt;menyapa esok dengan asa&lt;br /&gt;: sampai ajal diusia tua &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah itu harapan ku&lt;br /&gt;aman damai bersama waktu&lt;br /&gt;dirimu diriku satu&lt;br /&gt;melangkah jauh nan lalu&lt;br /&gt;: beriring sejalan selalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah itu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;PERKAWINAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[pertemuan yang dinanti]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dua jiwa menyatu&lt;br /&gt;Dalam mahligai&lt;br /&gt;Dua hati bertemu&lt;br /&gt;Dalam kesunyian&lt;br /&gt;Dua tubuh bersatu&lt;br /&gt;Dalam pelaminan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentangkan jiwa itu:&lt;br /&gt;Rasa yang tenang&lt;br /&gt;Rindukan hati itu:&lt;br /&gt;Rasa yang damai&lt;br /&gt;Rapatkan tubuh itu:&lt;br /&gt;Rasa yang hangat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KELUARGA&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;[jawaban atas kesendirian]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berkumpul jadi satu&lt;br /&gt;: mangan ora mangan&lt;br /&gt;Keberadaanpun tak jua diingkari&lt;br /&gt;Kebersamaan tak mungkin terjadi&lt;br /&gt;Tanpa mereka di sini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sekedar diri&lt;br /&gt;Tak berarti; jika terus&lt;br /&gt;Aku berharap pada:&lt;br /&gt;Keniscayaan yang menyertai&lt;br /&gt;Keutuhan yang mengikuti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. Keluarga&lt;br /&gt;Buktikan dirimu&lt;br /&gt;menjadi jati diri&lt;br /&gt;Mengapa kamu berarti&lt;br /&gt;tolong jelaskan padaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh Aku, Kamu:&lt;br /&gt;Tentu kita penghuninya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-8896136059640343120?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/8896136059640343120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-five.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8896136059640343120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8896136059640343120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-five.html' title='Event Five:'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-4550699269632181695</id><published>2009-02-12T19:07:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T19:10:56.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Event four:</title><content type='html'>(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the meaning events&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Peristiwa tinggallah kenang&lt;br /&gt;Keabadian menunjuk makna&lt;br /&gt;Sisakan waktumu ‘tuk merenung&lt;br /&gt;Carilah keotentikan itu …&lt;br /&gt;Temukan dalam peristiwa bermakna&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun masa depan bukanlah sekedar membalik telapak tangan, dan kita tinggal mengatakan sim salabim abra kadabra ... Masa depan adalah suatu keinginan dan harapan bagi hidup dan kehidupan ideal masa datang. Tak ada yang dapat menjangkaunya, tak ada yang dapat melaluinya tanpa berpijak pada hari ini dan masa lalu. Masa depan tentu berdiam dalam tempat dan waktu yang direka-reka, yang dibayang-bayang. Adalah tugas kita menyambutnya dengan tangan terbuka dan pikiran yang cerah. Masa depan adalah kehidupan kita yang belum terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaliurang, Tawangmangu, Papringan, dan tempat-tempat yang menyediakan waktu untuk kita adalah peristiwa-peristiwa bermakna yang keberadaannya tak dapat dipisahkan dari perjalanan hidup dan cinta kita. Mereka adalah meaning event yang senantiasa mengajarkan kita tentang hidup, cinta, dan harapan-harapan. Karena mereka jualah kita dapat berbagi perasaan dan pikiran, menyatukan visi dan tujuan kemana kita akan melangkah. Singkarnya, meaning event adalah penyebutan lain dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rinisance communities.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pepatah: pengalaman adalah guru terbaik karena di sanalah kita dapat menimba kearifan dan belajar untuk masa depan. Pengalaman dapat berupa apa saja; ia bisa tempat, ia mungkin adalah  kata-kata atau bahkan menjelma menjadi kebisuan.. kesatupaduan ini adalah misteri yang membutuhkan interpretasi, keberadaannya selalu ditafsir dan direnungkan maknanya, dan begitu seterusnya… belajarlah memaknai hidup dari pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Bersamanya kita bangun hidup yang terus baru, bersamanya kita maknai peristiwa demi peristiwa, bersamanya kita abadi menjadi sepasang sejoli yang tak lekang oleh waktu dan lapuk oleh jaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan suatu masa sangat ditentukan oleh keberadaan kita yang selalu menafsir dan memaknai pengalaman itu menjadi satu-satunya pendamping yang tak henti-hentinya memberi inspirasi dan kekuatan untuk berbuat, bertindak, dan mengamalkan setiap keyakinan yang kita peroleh dari serpihan-serpihan dan penggalan waktu dan peristiwa. Tanyakan pada mereka apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi.  Mengadulah pada mereka, apa yang menjadi tangisanmu dan apa yang akan kau tangisi. Janganlah berhenti bertanya, dan jangan berhenti pula mencari jawabnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hari esok akan cerah,&lt;br /&gt;bukan terletak pada &lt;br /&gt;setiap waktu yang terus mengalir&lt;br /&gt;Tapi pada diri kita &lt;br /&gt;yang mampu menemukan&lt;br /&gt;makna terdalam dari peristiwa-peristiwa bermakna &lt;br /&gt;dan melihatnya sebagai anugerah cinta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-4550699269632181695?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/4550699269632181695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-four.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4550699269632181695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4550699269632181695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-four.html' title='Event four:'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-1302840645322530173</id><published>2009-02-12T19:03:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T19:06:45.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Event Three:</title><content type='html'>(building new event)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hidup hanya sekali,&lt;br /&gt;Kawinpun hanya sekali, dan&lt;br /&gt;Matipun hanya sekali..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hidup manusia hanyalah mengikuti nurani dan naluri yang menyertainya dalam pilihan-pilihan dan ruang-ruang kesadarannya. Hidup adalah pemberian, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life is given&lt;/span&gt;, diberi untuk dinikmati jangan disesalkan. Seperti halnya dirimu, kaulah pemberian Tuhan yang maha sempurna. Sebuah pemberian yang tak dapat dinilai dengan angka dan kata. Hanya syukur yang patut dikumandangkan, dilantunkan bersama deburan ombak, sayatan malam, kehangatan matahari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah terindah tak patut diingkari. Pengingkaran terhadapnya merupakan sebagian dari kesombongan manusia yang mencoba menilai pemberian Tuhan dengan harga eksistensinya yang naif. Tuhan telah memilihkannya seorang bidadari yang berbudi luhur, berparas cantik, bertindak etis, mengapa saja masih diragukan dia untuk hidupmu yang panjang? Bukankah tiada pemberian yang sangat bernilai jika kita mampu menerima pemberian itu dengan hati dan pikiran yang lapang. Penuh kearifan dan kejumawaan. Tidakkah masih kurang untukmu, seorang dengan kepribadian dan paras yang cantik dan istimewa tak pernah lahir dua kali di dunia ini. Kelahirannya tercipta seratus tahun sekali, layaknya seorang mujaddid yang diharap kehadirannya untuk menata dunia ini dengan kesempurnaan ajaran dan kemaslahatan bagi umat. Perempuan seperti itu adalah seorang mujaddid juga, dialah yang akan membawa kedamaian, perubahan besar, dan kemaslahan bagi suaminya. Dialah seperti yang disabda Tuhan dengan perempuan sholihah sebagai hiasan terbaik dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak dapat membayangkan, bila keseimbangan kosmos ini akan kehilangan perempuan di sisi lelaki. Lelaki hanyalah satu bagian karakter jalal dari perempuan yang berdimensi jamil. Dunia tertata dengan keseimbangan sempurna jalal dan jamil, langit-bumi, baik-jahat, barat-timur dan begitu seterusnya. Tak ada yang tanpa berpasang pasangan, semuanya telah dicipta sedemikian sempurnya tiada yang dapat menandingi-Nya. Kita hanyalah sebutir debu dari kekuasan-Nya yang tak terbatas. Jika demikian masihkah kita menunda syukur ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurku terus mengalun disela-sela waktu dan keterjagaanku. Tak henti-hentinya mulutku bergetar untuk memintakan rahmat dan berkah-Nya untuk dirimu yang telah melebur dalam diriku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku terjaga dalam diam&lt;br /&gt;Aku merenung dalam sunyi&lt;br /&gt;Aku terpejam dalam hening&lt;br /&gt;Aku tenggelam dalam diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada diam yang diam&lt;br /&gt;Tak ada sunyi yang sunyi&lt;br /&gt;Tak ada hening yang hening&lt;br /&gt;Tak ada diri dalam diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesatuan wujudku dengan waktu, dengan ruang tak menyisakan lagi perenungan, tak membiarkan lagi satu titik kekosongan. Dirimu telah menempati ruang dan waktuku bersama-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sungguh…&lt;/span&gt; pengalaman ini tak dapat lagi dipercaya oleh siapapun. Seperti ketika pertama kali Nabi menceritakan Isra’ dan Mi’rajnya bagi bangsa Arab. Tak ada yang dapat menyakininya. Cerita itu dianggapnya hanya bualan Muhammad saja untuk mengatakan alam metafisis yang sedemikian dahsyatnya hingga mengalahkan kekuatan Latta dan Uzza. Pengalamanku tak ingin aku perbandingkan dengan Isra’ dan Mi’raj Nabi yang kuat dimensi spritualitasnya. Pengalamanku hanya pengalaman ekstase diri yang melebur dalam kesadaran eksistensi ke-aku-an untuk pengakuan akan cinta yang tak meluangkan lagi kebencian. Cinta telah menjadi suatu dzat tanpa warna. Ia dapat melebur dengan warna apapun, ia dapat bergaul dengan golongan manapun, dan ia dapat dijamah oleh siapapun. Demikianlah cinta dalam kebersamaan dan kebermaknaanku. Dia begitu agung dan suci, seperti keagungan-Nya dan kesucian cintamu padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan makna cinta ini seperti inilah aku ingin membangun peristiwa demi peristiwa di hari ini dan masa depan. Aku ingin peradaban ini menjadi peradaban yang damai dan menyejukkan. Tak ada lagi cinta yang membuat korban. Tak ada lagi pengorbanan yang menyisakan setumpuk balas dendam dan sakit hati. Cinta adalah suatu yang suci, jagalah kesuciannya agar tak menjadi petaka dan angkara murka bagi siapa saja yang memuja cinta sebagai kekuatan abadi kedamaian ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-1302840645322530173?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/1302840645322530173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-three.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1302840645322530173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1302840645322530173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-three.html' title='Event Three:'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-8931624256380557023</id><published>2009-02-12T18:57:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T19:01:33.625+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Event Two:</title><content type='html'>(the replay of true  story)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas semusim telah basah oleh hujan sehari, pengorbanan setahun telah pupus karena logika-logika hati yang dibakar rasa cemburu… Siapa sebenarnya yang patut bercumburu? Aku ataukah Kau… kenyataan memang tak dapat aku elakkan, dia memang bersamaku. Walau seribu kata telah kucoba jelaskan bahwa ‘dia tetaplah dia sebagai teman’, pernyataanku seakan terbentur tembok cemburu yang kokoh, dan tak sempat lagi bersemai asumsi-asumsi lain yang mungkin lebih membukankan hati… lebih cerna melihat masalah … dan lebih arif menyikapi situasi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, apakah aku tak berhak cemburu, disaat dikau bersama orang yang kau juga anggap sebagai ‘kakak’? Yang dulu pernah kau sebut ketika kau tiba di Jogja? Orang yang jua tak henti-hentinya ‘memberi’ rasa dan perhatian yang dalam terhadapmu? Apakah kau anggap itu semata sikap dan tindakan yang ‘lumrah’? Apakah aku ini tak dapat melihat itu sebagai sesuatu yang ‘lebih’? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyadari, dan akupun mafhum. Kata-kata yang kau rangkai dalam baris kesedihanmu di dalam surat itu penuh dengan suasana hati yang labil, meledak-ledak sekaligus menumpahkan perasaan yang selama ini menampakkan sisi kecintaan, kesetiaan dan kejujuran. Begitulah kata pepatah; cinta yang berlebih datanglah juga kebencian yang tak berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa sebenarnya yang lebih dewasa? Aku tak pantas menjawabnya. Dan akupun tak ada niat untuk membahasnya. Karena bagiku Cinta tetaplah cinta, kebencian hanyalah biasnya. Tak mungkin aku melepas ikatan yang telah mengakar kuat dalam kesadaranku ini. Sekali diikat hanyalah kematian yang dapat memutuskannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.. waktu, oh memori-memori yang pernah menyertaiku.. tak ada lagi yang dapat menemaniku selain kalian wahai waktu dan momen-momen abadi. Kalianlah hiasan yang paling mengerti bahwa di atas event-event itu ternyata terdapat sesuatu yang melebihinya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;beyond it&lt;/span&gt;). Peristiwa seakan cukup oleh waktu kata benda yang kaku tanpa progresivitas. Peristiwa telah menjadi momen-momen waktu itu saja. Kenangan telah menjadi kisah yang manis diingat saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanyalah sekedar darah, segumpal daging dan segenggam kemauan yang dapat bercerita, berbagi rasa dan menikmati hidup sejauh yang aku mampu meneguknya. Jika waktu telah mengakhiri perjalanan yang hanya seperempat ini. Aku tak kan pernah menyesal. Aku telah berusaha meyakini diriku sendiri untuk tetap jujur pada waktu, pada peristiwa dan aku tetap menganggap bahwa ini hanyalah sekedar kesalahpahman. Kesalahpahaman yang tercipta dalam situasi dan kontruks emosi yang labil. Bahasa emosi dan perasaan terkadang hanya dibatasi oleh ruang yang sangat tipis, begitu tipisnya hingga kita tak mampu lagi membedakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh…. Peristiwa ini bukan sekedar momen biasa bagiku, di sini aku semakin menyadari bahwa Cinta yang pernah keluar dari hatiku ini adalah Cinta yang tulus dan bersih dari noda-noda. Jika tidak, aku telah lama melakukannya dengan orang-orang yang pernah dekat denganku. Gampang bukan? Mungkin bukan? Tapi apa maknanya bagi kedamaian hidupku? Apa maknanya bagi keabadian Cintaku? Dan apa maknanya bagi pilihan kesadaranku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tanpa makna, cinta tanpa keabadian, dan pilihan tanpa kesadaran hanyalah seorang musafir yang tak punya tujuan bagi perjalanannya. Hanyalah hidup yang sia-sia. Aku telah memilihmu… aku telah menetapkanmu sebagai satu-satunya hidup yang berarti, satu-satunya cinta yang abadi, nan satu-satunya pilihan atas kesadaranku… mengapa aku harus memungkirinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pilihan haruslah sebuah pilihan&lt;br /&gt;Ketetapan haruslah ketetapan&lt;br /&gt;Jangan kaburkan pilihan dengan ketetapan yang lain&lt;br /&gt;Atau kita hanyalah gelobang air&lt;br /&gt;Yang beriak saat angin menerjang&lt;br /&gt;Atau kita hanyalah kayu&lt;br /&gt;Yang mendebu karena api&lt;br /&gt;Atau kita hanyalah Embun&lt;br /&gt;Yang berjaya disaat pagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia akan tersenyum bila kita sama-sama menyaksikan bahwa ruang-ruang hampa berjarak di saat malam dan siang itu tidak lagi menimbulkan pra-sangka pra-sangka, bayangan-bayangan, kekelaman kekelaman. Tak ada yang dapat memisahkan hati dan jiwa kita, bila seluruh aliran darah, desahan nafas, dan detak jantung selalu berfungsi dalam kesatuan anatomi yang memberi energi bagi jasad kita. Aku yakin… tak ada lagi mendung, tak ada lagi badai, tak akan pernah ada lagi petir bila kita berteduh dalam gubuk dengan selimut kepercayaan, dan hati yang sama-sama mengagungkan ketulusan untuk saling memberi dan menerima. Tabah menghadapi cobaan. Yakinlah aku bukan seperti yang kau takutkan. Aku adalah jelmaan sekuntum mawar yang bersemi di Tawang Mangu. Amin…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3/april/2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-8931624256380557023?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/8931624256380557023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-two.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8931624256380557023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8931624256380557023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-two.html' title='Event Two:'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-478913865709228016</id><published>2009-02-12T18:31:00.001+07:00</published><updated>2009-02-12T18:56:58.139+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Event One:</title><content type='html'>(the  true  story  about  Other)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;MY HOLY LOVE&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(rinisance communities yang dikhianati)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apa salah Aku?&lt;br /&gt;Saat kau katakan apa yang sebenarnya kau lakukan waktu itu &lt;br /&gt;Darahku berhenti mengalir, detak jantungku lenyap&lt;br /&gt;Paru-paruku tak mampu menghirup oksigen lagi&lt;br /&gt;Walau organ tubuhku berfungsi&lt;br /&gt;Aku tetap ketawa, bercanda seperti biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kau tanya ‘Aku Cemburu’?&lt;br /&gt;Aku hanya mampu menjawab dalam hati&lt;br /&gt;Ya, aku cemburu…&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nggak akan cemburu kalo kamu perginya tidak dengan orang yang pernah punya hasrat ama kamu. Dan kamu selalu membanggakan kepergianmu dengannya itu. Saat kau cerita kencanmu dengannya, otakku tak berhenti berwacana, tentang kamu dan dia.&lt;br /&gt;Aku salah nerimamu, itu yang ada dalam hatiku karena kamu memang nggak selevel ama aku. Kenapa kamu ngak terus terang, saat aku tanya “kamu ada di mana?’ Apakah itu salah satu bentuk penghianatan kamu? Jangan kamu nodai hubungan kita, dengan penghianatanmu kalo memang kamu menghendaki hubungan kita berakhir, lebih baik kita putus secara baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tell me “what my wrong?”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu terlalu baik sama orang, sampai kau tak bisa membedakan orang yang harus kau perlakukan baik. Sekali dia minta pertolonganmu, maka dia akan memintanya terus. Dan hasratnya dulu yang tak tersampaikan, punya kesempatan tuk disampaikan. Karna kamu sudah memberikan waktu dan ruang bagi dia. Walau sebenarnya kalian sama-sama mengakui kalian sudah punya masing-masing. Kalo kau katakan aku cemburu buta sudah sejak semalam aku marah sama kamu. Tapi aku tadi malam mencoba menepis semua gejolak hati dan perasaanku. Aku juga tak mau menangis di depanmu. Cukup aku yang tahu isi hatiku saat itu. Pagi tadi kamu mengungkit kembali kenanganmu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akankah kebersamaan kita tadi malam, adalah kebersamaan yang terakhir kali bagi kita? Jika ya, aku takkan pernah melupakannya seumur hidupku. Dan saat aku mengingat hubungan kita, maka aku akan mengikat hatiku ‘tuk tidak berhubungan dengan siapapun orangnya. Aku bukan orang yang gampang percaya ama orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lincah, cantik, pintar, kaya, seumur ama kamu, dia punya segalanya. Jangan jadikan aku tempat pelarianmu, saat dia tak ada di Jogja. Saat aku katakan nama dia, itu adalah salah satu bentuk kesedihan, tangisan hatiku. Setega itukah perlakuanmu padaku? Akhir-akhir ini aku sering mengimpikan masa-masa pernikahan kita. Dan aku menata lahir batinku untuk persiapan pernikahan kita. Mimpi malamku selalu di isi dengan gambaran-gambaran masa depan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tak mampu berbicara, aku hanya mampu menulis isi hatiku di atas selembar kertas ini. Perasaanku padamu bukan hanya cinta, sayang, tapi melebihi semua itu. Begitu juga kesedihanku saat ini. Tak bisa digambarkan oleh siapapun juga. Aku akan terus menulis isi hatiku, sampai tanganku lelah dan mataku terpejam tuk bertemu mimpi-mimpi tentang kita. Dan saat mimpi itu berakhir dan akupun terjaga dari mimpiku, maka aku cepat-cepat mengambil pena dan kertas tuk segera menulis tentang mimpi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila kutahu…&lt;br /&gt;Bahwa perasaan itu hanya main-main&lt;br /&gt;Dan karena terpaksa&lt;br /&gt;Tak mungkin kuterima kamu&lt;br /&gt;Cinta:&lt;br /&gt;Yang terkadang membuat kita sedih&lt;br /&gt;Kita tak bisa bersatu, karena &lt;br /&gt;Penghianatanmu meruntuhkan&lt;br /&gt;Ambisi cinta yang pernah kubangun&lt;br /&gt;Bersama sejuta harapan&lt;br /&gt;Dan berkah bagi anak-anakku&lt;br /&gt;Kini: aku sadar&lt;br /&gt;Ketika engkau pergi dengan cintanya&lt;br /&gt;Bersama mimpi yang kau bawa&lt;br /&gt;Dan aku, adalah manusia&lt;br /&gt;Yang tak kuasa menahan derita&lt;br /&gt;Dan tak mampu menerima penghianatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mungkin, jika cinta itu menjelma menjadi bayang kerinduan, jika ia lahir dari pelarian, atau berupa apa saja yang menyakitkan. Maka disanalah ia membuat luka dan sakit. Seperti api yang senantiasa membara dan menyimpan panas yang sangat besar, menampakkan betapa menyakitkan penghianatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I wanna change the world, only for you … &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa terjadi dan berubah ketika kamu khianati cinta suciku. Aku memang, jauh berbeda dengan dia. Warna kulit, kedudukan dihatimu dan banyak lagi perbedaan-perbedaan hingga membuatku seperti sampah. Dan atas dasar perbedaan itu menjadi logika primitif yang mementingkan dirimu sendiri, egoisme dan apapun namanya. Yang kutahu sekarang adalah  ketika cinta dikhianati dimana pemahaman dan pengetahuan tak sanggup menggambarkan sakitnya penghianatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When you tell me that you hate me… &lt;/span&gt;adalah ungkapan terdalam dari kebencian yang paling sempurna tentang pengkhianatan yang menjelma menjadi lagu kebencian dan menyakitkan. Aku menangis dan kau senang dengannya. Ada yang kau sembunyikan, semua gelap tak ada setitik cahayapun. Sebuah kejujuran yang kupersembahkan kau balas dengan pengkhianatan. Mungkin itu salah satu sebab diciptakannya neraka. Dengan ketidakjujuran mengapa kita tetap bersama.&lt;br /&gt;Dan waktu telah menjadi saksi bahwa kesendirianmu tanpa diriku telah membuat kau berkhianat. Pada dia yang menemani kesendirianmu dalam setiap desahan nafas dan gerak tubuhmu. Kenikmatan dan kebahagiaan yang kau ciptakan adalah pengkhianatan penderitaan dan kesengsaraan. Aku menderita, aku sengsara dan aku jera melakukannya.&lt;br /&gt;Cintaku terlalu suci untuk kau khianati. Dan ternyata kamu melakukannya. Aku mensucikan cinta karena seperti aku menghadap-Nya. Sejak kau katakan hal itu, aku selalu berdzikir dan tak henti-hentinya memohon kesabaran kepada-Nya. Kini aku telah kehilangan jiwaku, aku hampa, aku telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kegelisankku semalam, yang ada dalam benakku adalah “kamu dan dia”. Otakku terus berwacana, membuat praduga-praduga tentang kamu dengannya. Aku berusaha menepisnya dan menghibur diriku sendiri. Namun aku tak mengalahkan diriku sendiri.&lt;br /&gt;Aku merasa jenuh dengan suasana Jogja. Jika kamu melakukan hal itu hanya untuk menguji aku. Maka aku marah. Tapi jika kamu melakukannya untuk memberi harapan dan membandingkan aku ama dia. Biarlah hubungan kita berakhir sampai disini saja. Karena aku bukan barang perbandingan. Kamu salah pilih aku. Seharusnya dia yang kamu pilih. Tak ada orang yang mampu menghiburku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku bertanya-tanya “apa aku egois?” “apa aku cemburu?” Ternyata setelah aku pikir-pikir dan tanya ama teman-temanku mereka juga sakit hati jika diperlakukan seperti itu. Hari-hariku hanya untuk menangis, mengenang, menulis. Kadang aku tak percaya kamu khianati aku. Tapi ini nyata, dan sesuatu yang ada di dunia ini  menjadi mungkin, “apa aku egois?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kalah segalanya dari dia. Maklumlah kalo kamu akhirnya nerima dia. Aku dulu berfikir untuk menjadikan kamu cinta pertama dan terakhirku. Dan kenyataannya memang ia. Walaupun akhirnya kau bukan menjadi pendampingku. Ternyata apa yang aku gelisahkan selama ini terjadi “kau meninggalkanku”. Kenapa begitu sial nasibku di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak sanggup melihat benda atau orang-orang yang pernah menjadi kenangan kita. Sepertinya baru kemaren kau bersamaku. Ternyata semua yang  kau tulis dalam bukumu yang kau hadiahkan padaku: RINISANCE COMMUNITIES bohong belaka. Dan mimpi-mimpi yang ada dalam bukumu adalah rayuan maut. Sebenarnya korban pelarian yang keberapa aku ini? Saat dia datang, maka kaupun pergi bersamanya, mengukir kenangan lalu kau ceritakan padaku. Ceritamu sangat ironis sekali bagiku. Kenapa kau pilih aku, bila kau tahu aku tak punya, seperti apa yang dia punya? Ataukah kau jadikan aku boneka mainanmu selama dia jauh darimu. Dan kau pergi setelah kau tahu semuanya tentang aku dan saat dia telah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu alasanmu sekarang. Saat aku pinta kau lamar aku, dan kamu bilang kamu belum siap. Ternyata kamu bukan belum siap, tapi kau pilih aku bukan untuk kau jadikan teman hidupmu. Kamu pilih aku hanya tuk jadikan penghiburmu saat dia jauh. Betapa malangnya nasib ini. Dan orang-orang yang selama ini aku cintai, sayang yang melebihi segalanya, hanya mengganggap aku sebagai penghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau lakukan itu, karena aku nggak pernah cemburu? Aku nggak akan cemburu, kalo kau pergi bukan dengan dia. Akhirnya aku tak tahu harus bersikap gimana ama kamu. Jika memang aku berbuat salah, tolong katakan apa kesalahanku, hingga kau balas dengan perlakuan itu. Sekali lagi, aku memaklumi kamu berbuat seperti itu, karena dia punya segalanya. Dan aku tak punya. Yang aku punya hanya cinta suci dan kesetiaan, kejujuran. Dan kamu takkan mendapatkan apa-apa dariku kecuali cinta suci yang pantang dikhianati, yang selalu diiringi dengan kejujuran dan kesetiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku minta malam ini kau tentukan, aku yang tak punya apa-apa atau dia yang punya segalanya? Ternyata kejujuranku padamu kau khianati begitu saja. Mungkinkah aku tetap menjadi orang one is called rinisance. Yank sakit pengkhianatan itu.&lt;br /&gt;Dari nada bicaramu, kau tak menyimpan rasa bersalah sedikitpun. Karena kamu memang merasa tidak bersalah. Saat aku pinta waktumu untukku malam ini, kau tak bersedia. Jangan salahkan aku jika pikiranku terus  membuat praduga-praduga tentang kamu. Karena kesalahanmu. Sebenarnya malam ini aku ingin tahu siapa sebenarnya yang ada dalam hatimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tak bisa membaca suasana hatiku. Karna kamu tidak sungguh-sungguh mengenal aku. Seharusnya kau mengerti suasana hatiku dari nada bicaraku tadi. Otakku sudah tak mampu lagi tuk merangkai kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Malam sepi&lt;br /&gt;Terima kasih kau telah menemaniku malam ini&lt;br /&gt;Hingga aku larut dalam kesepianmu&lt;br /&gt;Angin malam&lt;br /&gt;Sampaikan khabar pada dunia&lt;br /&gt;Aku punya cinta suci&lt;br /&gt;Aku punya kesetiaan&lt;br /&gt;Aku punya kejujuran&lt;br /&gt;Semua itu akan kupersembahkan tuk suamiku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suami, hanya dalam khayalanku. Saat ini, tidak mungkin hidupku kan ditemani seseorang. Aku tak kan pernah berstatus isteri. Karena kau sudah pergi bersama orang yang punya segalanya, orang yang punya masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2/april/2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-478913865709228016?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/478913865709228016/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-one.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/478913865709228016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/478913865709228016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/event-one.html' title='Event One:'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-8001082673883380553</id><published>2009-02-12T18:00:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T18:30:03.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>BEYOND EVENT</title><content type='html'>(The short story about rinisance communties)&lt;br /&gt;—&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Part Two&lt;/span&gt;—-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Introduction&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila esok itu abadi&lt;br /&gt;Niscaya momen-momen hari inipun&lt;br /&gt;Jua abadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan waktu seakan tiada hentinya menuturkan pesan dan peristiwa. Soal dan jawabpun terus silih berganti dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rinisance communities&lt;/span&gt; semakin sadar bahwa peristiwa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;meaning event&lt;/span&gt;) itu memanglah sesosok guru terbaik dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sohibul hikayah pernah dituturkan bahwa;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dunia ini awalnya hanya sebongkah benda mati tanpa ruh. Sedemikian keras, tandus bahkan khabarnya tak ditemukan sumber kehidupan disana. Hanya saja kemudian, dan tiada yang tahu asal muasalnya, tiba-tiba sang dunia itu dikejutkan satu misteri maha dahsyat yang pikiranpun tak sempat lagi bertanya apa gerangan? Dunia yang dulu membatu, tandus nan tak ada tanda-tanda kehidupan, kini telah menjadi sebuah tempat tinggal yang indah, bersemangat, berkeinginan, bergerak dan beragam unsur kehidupan lainnya. Dan menurut hikayah itu disebutkan, bahwasanya sumber perubahan itu berasal dari setetes air mata suci dari seseorang perempuan. Air mata itu adalah sumber dari segala sumber mata air kehidupan yang di dalamnya manusia meminumnya untuk melepas dahaga.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mata itu, kini diyakini sebagai suatu anugerah Tuhan. Dan Tuhanpun telah memfirmankan air mata itu menjadi ayat-ayat bagi penerang jiwa dan menuntun ke jalan keabadian. Pun jua air mata &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rinisance communities&lt;/span&gt;, telah mengguratkan tolehan kehidupan. memberi semangat dalam kehidupan di jasadku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rinisance communities&lt;/span&gt; adalah satu peristiwa di antara peristiwa kemanusiaan yang dapat saja terjadi pada siapapun. Ia memberi makna bagi kesadaran, ia adalah refleksi dari suatu angitan perjalanan hidup yang tercerai-berai. Dan ia adalah suatu tragedi sekaligus legenda kisah abadi dua insan yang memimpikan hidup di atas niat cinta suci, kesetiaan dan kejujuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pada kisah-kisah lalu, suatu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa perjalanan hidup tak selamanya selalu berupa lembaran-lembaran indah, dan cerita-cerita manis. Hidup adalah suatu harmonisasi kekelaman dan kebersahajaan. Suatu perpaduan kehampaan dan kebermaknaan. Dua unsur yang saling bertemu dalam suatu peristiwa yang berbeda. Seperti halnya lelaki dan perempuan, mereka berbeda jenisnya namun disatukan oleh kehendak-Nya. Perbedaan adalah satu mukjizat, karena di sana hikmah selalu menanti dan mengajarkan kita untuk saling memahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beyond  Event&lt;/span&gt;, bukan sekedar peristiwa, bukan pula narasi, ia adalah suatu kesaksian sejarah yang melampau keduanya. Ia tepatnya disebut sebagai suatu gagasan masa depan yang dirangkai dari peristiwa-peristiwa lalu dan narasi masa depan. Ia sesungguhnya mimpi bagi suatu keyakinan bahwa bermimpi adalah proyeksi bagi kenyatakan yang akan dilalui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lailatul Qodar, 25/Nop/2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-8001082673883380553?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/8001082673883380553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/beyond-event.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8001082673883380553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8001082673883380553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/beyond-event.html' title='BEYOND EVENT'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-4860834426637951478</id><published>2009-02-12T17:34:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T17:43:39.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>The Third Night</title><content type='html'>(&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When You Tell Me That You Love Me&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat jam tanganku, di sana menunjuk pada 07:30 Wib. "Mas" Tiba-tiba kudengar suara menyapa disebelahku. Panggilan itu begitu 'lain' kurasakan. Sangat khas dan berkarakter. Panggilan yang dewasa dan punya wilayah makna yang kuat dalam diriku. Di balik kata itu tersimpan tumpukan sejarah yang tak bernilai harganya. Aku memcoba memahami diriku sebagai orang yang tak tahu banyak tentang 'dia'. Begitupun sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari terus meniti jam, tak terasa telah banyak momen-momen penting dilalui tanpa satu keinginan untuk bertemu. Anehnya, pertemuan terus terjadi, seakan-akan pertemuan itu adalah kodrat Tuhan dan petanda bagi cinta yang telah ditakdirkan. Cinta yang demikian suci dan melebur dalam jiwa. Dalam ketermenunganku aku berbisik, "kapan aku akan menceritakan ini padanya?"&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Entah mengapa, setiap waktu aku rindu sekali mendengarkan lagunya Diana Ross dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;When You Tell Me that You Love Me&lt;/span&gt; nya. Sepertinya lagu itu adalah diriku sendiri yang berubah menjadi kata-kata dan senandung rindu bagi pujaan yang bertahta di singgahsana keindahan dan kedamaian. Sejak aku berkeingin itu, sudah berapa kali aku dengar lagu itu dan tiada bosan-bosannya aku menikmati dan terus menikmati.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mungkin kamu ingat ketika lagu ini berkata : "Everything You was far/Nothing is without me … and When You tell Me that You Love Me… ..  dan waktu telah menjadi saksi bahwa ketiadaanmu tanpa diriku telah membuat aku bersedih dan cemburu pada waktu yang senantiasa menemanimu dalam setiap desahan nafas dan gerak tubuhmu. Aku ingin menjadi waktu, seperti dia telah menemanimu dalam siang, dalam malam. Aku ingin menjadi ruang, seperti dia telah memberimu tempat berteduh dan menempatkanmu dalam mimpi yang indah. Segumpal keinginan tak mungkin memuaskanku ketika kerinduan itu telah menjemputku dalam perjalanan panjang, gelap berliku. Aku menderita, aku sengsara… tapi aku tak jera melakukannya. Penderitaan dan kesengsaraan yang kau ciptakan adalah kenikmatan dan kebahagiaan yang tak dapat diberikan oleh bentuk materi modernisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;When You Tell Me that You Love Me&lt;/span&gt;, adalah ungkapan terdalam dari kegelisahan yang paling sempurna tentang cinta yang menjelma menjadi lagu kerindungan dan irama yang indah. Aku bercerita dan kaupun setia mendengarkan. Tiada yang disembunyikan, tiada yang digelapkan semua terang menderang laksana matahari, bulan dan bintang-gemintang. Sebuah kejujuran adalah awal yang baik untuk niat yang baik pula. Tanpa kejujuran tak mungkin dunia ini tercipta. Tanpa kejujuran tak mungkin ada surga, dan tanpa kejujuran mengapa kita bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;I wanna change the World, only for you ….&lt;/span&gt; Semua bisa saja terjadi, ketika kamu melekat dalam pori-pori tubuhku. Dunia hanya metaforfosis dari keinginan yang mengumpal dalam hati. Dan keinginan itu akan menjadi kekuatan yanga dahsyat ketika ia dilampiri oleh tenaga dalam cinta yang mendorongnya menjadi perubahan. Aku, memang,  diciptakan berbeda dengan jenis kelamin, warna kulit, status sosial, dan banyak lagi… Tapi aku tak ingin perbedaan itu menjadi logika primitif yang mementingkan dirinya sendiri, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;egoisme&lt;/span&gt;, dan ataupun apa namanya. Yang kutahu sekarang adalah ketika Cinta menempati ruang di mana semua pemahaman dan pengetahuan tak sanggup meleburnya menjadi hanya sesederhana perbedaan itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Love is beyond being&lt;/span&gt;. Kata terakhir yang ingin aku sampaikan, "tetaplah menjadi bintang di langit" bintang yang kelihatan kecil dan indah tapi eksistensi dirinya yang luar biasa tak pernah dikenal orang. Hanya satu yang tahu yaitu AKU.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-4860834426637951478?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/4860834426637951478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/third-night.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4860834426637951478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4860834426637951478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/third-night.html' title='The Third Night'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-7707125274606036529</id><published>2009-02-12T17:16:00.000+07:00</published><updated>2009-02-12T17:31:45.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>The Second Night</title><content type='html'>[Me, Love and Being]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali, tetes embun telah menyentakkan aku ketika semalaman aku begadang dengan perasaan. Hari ini aku kesiangan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Entah&lt;/span&gt; mengapa tak seperti biasanya kulihat pagi ini begitu segar dan tenang, seakan-akan baru saja Malaikat melintasi cakrawala dan memberkati pagi ini dengan kedamaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh indah, betapa diriku tenggelam dalam suasana yang telah lama sirna, dan kini, tepatnya tadi malam aku telah berbulan madu dengan canda tawa, bercengrama mesra, dan berpelukan dengan wajah ilusimu yang hadir dalam ruang waktuku. Wajahmu menghiasi malam pertamaku, hingga pagipun merasakannya. Layaknya malam lailatul Qadar, engkau telah menganuhgerahkan berkah dan rahmah yang dibawa para malaikat dengan dzikirnya berkeliling sepanjang malam. Karena engkau, semua fenomena kosmos sesaat berhenti bergerak; angin berhenti bertiup, ombak berhenti bergelombang, rembulan berhenti berputar dan bumi menyaksikan segalanya dengan diam dan takjub. Segalanya sunyi dan sakral. Perjalanan waktu itulah yang telah memberikan aku kesempatan bermimpi dan merangkai kata dan masa dalam kemasan yang indah dan bersahaja. Bukankah setiap tempat di dunia, ketika Tuhan memberkatinya adalah Surga? Bukankah setiap perasaan, ketika Tuhan meniupnya dengan kehadiranNya adalah wahyu? Bukankah setiap kata, ketika Tuhan membisiknya adalah firman? Dan bukankah dirimu, ketika Tuhan menjelma adalah ayat-ayatNya yang harus dibaca dan diamalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam renunganku semalam, tak banyak waktu sia-sia untuk sejenakpun aku biarkan berlalu begitu saja. Semua berjalan seakan telah menjadi takdir bahwa malam itu telah menjadi malam seribu malam yang dinanti para insan untuk merasakan kehadiran diri dalam CINTA yang maujud dalam penyatuan jamal dan jamil-Nya. Cinta lahir tidak dalam ruang hampa, Cinta menjelma tidak pula dalam hati yang kosong, Namun hanya dengan kisah dan peristiwa yang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;meaningful&lt;/span&gt; keberadaannya menjadi berarti, eksistensi dirinya menjadi serupa dengan teks-teks suci yang berwujud dalam firman-Nya. Aku memuja Cinta seperti aku menyerahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan. Aku melihat Cinta seperti aku membaca ayat-ayat al Qur’an. Dan aku bercinta seperti aku sholat memuji kebesaran-Nya. Cintaku menjadi Dia yang menjelma dalam seluruh kesadaranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak perjumpaanku dengan dirimu, aku selalu berdzikir dan tak henti-hentinya bersyukur. Kini aku telah menemukan kembali aku yang telah hilang, aku yang telah hampa, aku yang telah tiada. Dirimu menjadi inspirasi yang terus mengalir dalam ruang dan waktuku, mengisi kesadaranku dengan ketulusan dan keyakinan bahwa merasakan kehadiran Ilahi bukan semata-mata karena ibadah ritual yang dihayati tapi juga harus tenggelam dalam titik kegelisahan kemanusiaan. Dan dirimu adalah refresentasi kemanusiaan yang seutuhnya bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa kusadari, terik matahari telah membakar tubuhku yang belum mandi. Udara pagi telah berganti dengan siang yang panas dan pengap. Buru-buru aku lari kekamar mandi karena sebentar lagi aku pergi dan bernyanyi sambil menghabiskan hari ini untuk kemudian bercerita lagi untuk malam berikutnya dengan suasana yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-7707125274606036529?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/7707125274606036529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/second-night.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/7707125274606036529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/7707125274606036529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/second-night.html' title='The Second Night'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2595435511781937637</id><published>2009-02-05T21:32:00.001+07:00</published><updated>2009-02-05T21:42:11.470+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>The First Night</title><content type='html'>[&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everything runs broadly, I just can feel&lt;/span&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT ITU senja mengusap bumi, warna kuning keemasan telah pula berjalan memanggil malam. Gema adzan Maghrib membahana dari menara-menara masjid. Dan Sebuah keluarga dengan wajah lesu dan debu masih menempel jelas dikulitnya. Mereka menggantungkan harapannya di Jogja. Ya.., mereka baru saja tiba di Jogja. Sepenggal harapan yang mereka bawa dari negeri timur masih hangat dari desah nafasnya yang berhembus penuh kepenatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga itu tak lama tinggal di Jogja, mereka hanya menitipkan adiknya yang baru saja selesai ngaji untuk belajar lagi. Dengan perasaan masih bimbang, sang adik mencoba meyakinkan dirinya untuk sebuah cita-cita yang pernah dirangkainya dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh ketika kenyataan itu seakan takkan pernah terjadi seperti saat ini di mana kakinya benar-benar merasakan bau harum bumi Jogja. Ya.. pada akhirnya, Jogja adalah sebuah kisah baru baginya. Harapan, cita dan perjuangan harus segera dikobarkan. Hanya satu kata yang mesti dibulatkan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;study is everything&lt;/span&gt;” dan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;study withot steady is better&lt;/span&gt;”. Kata-kata itu menjadi jimat dihati dan langkahnya. Hari-harinya penuh dengan pencarian bersama buku dan novel yang selalu menemaninya disaat pagi mulai terjaga hingga wajah mentari terlelap dibungkus kekelapan malam. Oh hidup.. &lt;br /&gt;Haripun terus berlalu, dan waktu terus menyisakan harapan dan tekat yang bulat. Tak terasa, semuanya telah berjalan beberapa bulan. Dalam perjalanan itu, ada banyak peristiwa yang terjadi. Moment-moment silih berganti. Ruang dan waktu telah memberikan dunia baru dan kesadaran yang ‘lain’. Sebuah pengalaman yang tak mungkin dilupakan. Pengalaman yang kata sebagian orang menjadi ‘guru’ sekaligus ‘kekasih’ yang tak henti-hentinya menceritakan keindahan dan kerinduan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everything runs broadly&lt;/span&gt;, adalah ungkapan waktu yang tak sempat menjadi ruang, segalanya hanyalah kecepatan yang waktupun tak kuasa mengejarnya. Hanya imajenasi yang tak terbanyang yang mampu mengungkap serpihan-serpihan kisah itu bahwa kisah abadi terkadang datang sebelum kesadaran membangunkan kita....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah malam pertama (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the first night&lt;/span&gt;) di mana sepasang penganten baru saja mempertemukan hati mereka, menukarkan pandang mata mereka, saling membisikkan hati dan mempertemukan degupan detak jantung mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah awal kegelisahan yang sebelumnya tak pernah terlintas. Seperti kegelisahan Nabi ketika iqro’ menemuinya di gua Hero’. Kegelisahan yang semestinya menyerupai kesunyian tapi muncul dengan luapan-luapan kerinduan. Itulah logika kegelisahan yang bersemai menjadi kerinduan. Sebuah pengalaman yang non-rasional, sebuah teka-teki waktu yang menjelma menjadi wajah kekasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ooh, kenapa begitu pengap hari ini, udara semaikin asyik bercengrama dengan panas, sementara angin mengusir debu hingga lari tunggang langgang. Suasana semakin tidak menentu. Pohon-pohonpun hanya mengelus kulit dan daunnya yang telah kering mengharap hujan ketika itu juga. Burung-burung berusaha memanggil sore dengan kicauannya yang memelas. Begitu mungkin suasana malam pertamaku dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;everything runs broadly, I just can feel.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2595435511781937637?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2595435511781937637/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/first-night.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2595435511781937637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2595435511781937637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/first-night.html' title='The First Night'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-5792281425996347307</id><published>2009-02-05T20:41:00.000+07:00</published><updated>2009-02-05T21:00:20.609+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>RINISANCE COMMUNITIES [the ontological silence of the night]</title><content type='html'>Karena waktu &lt;br /&gt;yang telah mempertemukan&lt;br /&gt;Karena kesunyian &lt;br /&gt;yang telah membisikkan&lt;br /&gt;Karena kini kita telah bersama&lt;br /&gt;Kepada siapa lagi kita harus setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;by the name of love:&lt;br /&gt;everything could be done&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Introduction&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;[&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Something Happen in my Heart&lt;/span&gt;] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Everything is love&lt;/span&gt;, kata itu mengawali kisah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;silence in the night&lt;/span&gt;, yaitu  sebuah legenda klasik dan futuristik. Kisah ini sangat sederhana, seperti peristiwa-peristiwa yang lain, ia bertutur tentang pengalaman spesial seorang insan yang tanpa sengaja menemukan kembali cintanya melalui kisah-kisah malam (the story of the night) yang menjelma menjadi kekuatan maha dahsyat. Dibalik kesederhanaan kisah ini, ada sesuatu yang istimewa. Kisah ini tercipta dalam bahasa kesunyian dan pekatnya malam. Ia lahir dalam situasi di mana malaikat-malaikat terbang melintasi cakrawala, memberi berkah pada manusia yang senatiasa bertasbih pada Tuhan, dan membisikkan cinta pada hati setiap insan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini hanyalah sepenggal waktu yang secara kebetulan mengisi ruang dimensi pengalaman manusia di saat pengalaman itu telah tidak menyisakan lagi ruang-ruang asmara yang dikuburnya bersama masa lalu. Masa lalu yang menariknya menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang tak henti-hentinya meneriakkan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kill, kill, kill. !&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;Ironisnya, sang pembunuh tiba-tiba menemukan satu kenyataan pahit disaat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the silence of the night&lt;/span&gt; datang mengusapnya dengan lembut, penuh kedamaian, dan kasih sayang yang tak pernah lagi ia rasakan seperti beberapa tahun yang silam. Sang pembunuh tafakkur, merunduk dan di saat lain menengadah meratapi sikapnya yang selama ini dianggapnya sebagai ‘kebodohan yang dia ciptakan sendiri’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The silence of the night&lt;/span&gt; memang rekaan sekaligus metaporfosis dari bunga mawar yang mekar di Tawangmangu dan menginspirasikan sebuah legenda abadi dari sisi lain hubungan Adam dan Hawa. Surga yang menjadi persemaian mereka kini menjadi milik waktu dan kerinduan. Surga yang hanya bisa dirasakan dan dinikmati dengan bahasa diam dan keheningan. Seperti orang bijak bertutur “diam dan keheningan adalah bahasa segala bahasa dimana hasrat terbang tanpa batas menjelajah setiap pori-pori tubuh sampai akhirnya angin malam mengusapnya”. Kesunyian adalah puncak mediasi di mana semua bisa bebas berekpresi, berdo’a, mencinta bahkan juga mencaci dan membenci. Kesunyian satu-satu sistem yang paling demokratis ketika aspirasi hati ingin ditumpahkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap insan mesti punya masa lalu, entah masa lalu itu indah atau kelabu. Tentunya tak perlu kita menghakimi masa lalu itu. Biarlah ia menjadi kisah dengan masanya sendiri. Biarlah ia senantiasa menjadi dongeng di waktu malam disaat kekasih kita hendak berangkat tidur. Atau biarlah ia menjadi jawaban dari karma yang kita perbuat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;The silence of night&lt;/span&gt;, adalah mimpi sadar tentang keinginan dan masa depan. Ia begitu indah dan abadi. Mengungkap sisi terdalam misteri hati yang baru tertumpah ketika mawar melati menariknya untuk kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gowok, 06 September 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-5792281425996347307?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/5792281425996347307/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/rinisance-communities-ontological.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5792281425996347307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5792281425996347307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/rinisance-communities-ontological.html' title='RINISANCE COMMUNITIES [the ontological silence of the night]'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2153515044218228380</id><published>2009-02-04T17:50:00.001+07:00</published><updated>2009-02-04T17:52:01.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>RELIGION: Psychology’s James And Freud Perspective</title><content type='html'>There was different view between William James and Sigmund Freud when tried to explain religion in psychology, that is, psychoanalyze and psycho humanistic.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;The emergence of this opinion is consequence from different worldview when they show consciousness of men of religion. And both James end Freud put experience of religious in personal experience. And they have each reason. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;For James, the consciousness of religion, however, based on personal, emotionality, and variety experience. The Third of thing that became experience of religious integrate to human itself. Therefore experiences, in limited form, can be called as relation to nominous. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Different from James, Freud show that no argumentative reason can describe to believe in God, and of course, this reason is non-rational. And then, He defined religion as obsession, and illusion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In this case, what given by Freud actually, he didn’t feel what the meaning of personal experience like done by James in his studies. For James, the experience is true. And not it’s problem, “Is God present or no?” or  “Who is God?” But “Haw to God and Religion can help people to get better life?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In approaches for religion, James used a several theory and also critique for Freud, that is, Survival Theory. That religion must be understood as infantilism. A More, James believes that experience of religious only phenomenological indication, but he believes too for “a more”. So “a more” is beyond and overshadow superstructure established by religious system.  In other word, James want to say that faith of being is right because they believe in them religion’s doctrine. This argument can help to explain faithful followers based on emotion in religion.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2153515044218228380?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2153515044218228380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/religion-psychologys-james-and-freud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2153515044218228380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2153515044218228380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/religion-psychologys-james-and-freud.html' title='RELIGION: Psychology’s James And Freud Perspective'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-5444107463882771387</id><published>2009-02-04T17:49:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T17:50:23.183+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>Religion as Non-structural System in Societas</title><content type='html'>A discussion of religion always appeals attention and is never on-going discourse.  Religion is not only as doctrine (sacred) but also as experience of humanity (profane). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One of interesting contributions about religion is given by Victor Turner —an anthropologist who was born in Glasgow, Scotland 1920-1983— who studied religious phenomena of primitive and modern society in social and cultural dimensions. But he didn’t see social and cultural phenomenon an sich, he went beyond cultural interpretation of religious phenomena. His approaches of Ndembu’s people of northwestern Zambia produced greatest work of anthropology. In his views, society is dynamic social process that its phenomena can be analyzed as “social drama” containing infraction, crisis, regressive action, and reintegration phases. The rites, however, play central roles.  So, according to Turner this context creates liminality’s concept. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The liminality (and communitas) concept is central core of his studies developed from rites de passage’s Arnold van Gennep. Van Gennep himself defined rites de passage as “rites which accompany every change of place, state, social position and age.” Liminality comes from limen, signifying “thereshold” in Latin. Liminality also defined as neither here nor there; they are betwixt and between the positions assigned and arrayed by law, custom, convention, and ceremonial.  This concept of liminality then was applied by Turner  not only in rituals  but also in analyzing  society,  because of  its  rich nature of liminality, this concept gave a perspective of social life, first,  in liminality man has a first experience as human. Second, liminality  was in formative reflexity.  Third, liminality then creates a concept of community.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liminality, in reality, is a phase in which man is in undifferenences, that is,   “antistruktur” experience.  These experiences could be found in phase of liminality used by van Gennep and Turner did, that is: separation, margin, and, aggregation or incorporation.  This third phase, finally, will shape a community. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Term, “community” came from Latin; communitas usually means as  ‘alliance’. Here community must be understood as a way of social relation for real and direct inter-personal relationship. Community encountered by ritual subject, in fact, was different  from situation and daily condition. Inter-personal relationships in the daily life  took a place  in a structure,  whereas  relationships in community  came through anti-structure. Community was not seen as top-down structure, as reality of real inter-personal relationship transcendentally. As being believed by Turner, that community is not merely instinctual energy but that community essentially is human, and mode-of-being-in-the-world. So, the community actually deals with awareness and willing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Through Above Turner’s descriptions, it is clear that liminality is process in which finally Turner will shape good community. This is same as being encountered by Muhammad (in Islam) when he was pointed by God (Allah SWT) to be become a leader and guider for Arab peoples on the time, where before institutionalizing the religion, he, first of all, experienced liminality in himself, that is, when he received the first revelation as prophet. There was a phase of transition from man to become a great leader and then finally he has a phase of reagregation, where he had to go back his community (ummah). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One thing must be paid a attention, that Turner’s concept really is a afford to recognize self within liminality . This is same as what Muhammad has done when he was in a grave  Hero (a place in which he received first revelation), where he really experienced  ambiguity himself.  And what was done by prophet Muhammad actually dealed  with the condition of Arabs for the time, so that he must encounter a process of liminality.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-5444107463882771387?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/5444107463882771387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/religion-as-non-structural-system-in.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5444107463882771387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/5444107463882771387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/religion-as-non-structural-system-in.html' title='Religion as Non-structural System in Societas'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-6061473764900086608</id><published>2009-02-04T17:48:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T17:49:13.019+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>The Idea of  the Holy</title><content type='html'>It is interesting to discuss religious experiences as elaborated by Rudolf Otto in The Idea of the Holy. Up to now the discussion appeals attention of many scholars in most parts of the world because religion as subject matter is unlimited, comprehensible, and multidimensional. Preliminary idea of Otto is to try to explain phenomenology of The holy in terms of numinous, that is an idea of mysterium tremendum et fascinosum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Otto, religion has a reality of sui generis comprehensible but it is unexplainable (beyond conception or understanding). This religious experience, that has two ideas of rational experience and non-rational experience, takes someone (human) into an unthinkable and unthought area directly or indirectly. Otto uses the concept of the holy in elaborating the non-rational religious experience. The holy or the Sacred, in Otto’s view, is unique category of religion. It is different from the holy  that have meaning “the completely good.” It is not moral term and Otto mention it numinous.      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The experience of numinous then allows mysterium tremendum that consists of human and numinous. This experience, borrows Otto ‘s term, is  sudden, overpowering, and dies away. The Feeling of it may at times come sweeping like a gentle tide, pervading the mind with a tranquil mood of deepest worship. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misterium tremendem of Otto is starting point to understand concept of religious experience of people, in which someone –in tremendem– finds three elements of experience; awefulness, overpoweringness (majesty), and  Energy  or Urgency. These third elements will be related to experience in islamic tradition.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awefulness or religious experience that is based on astonishment and fear ness. it is a feeling beyond the fear. In primitive tradition, this element could be expressed by “daemonic dread” or in Bible  by “the wrath of God”.  In Islam, this concept is  called as Judgment day (yaumul khiamah). All human beings will be judged accordance with their/his deeds. The concept of judgement day makes man fear or scare and it motivates them to do well and avoid the wrongdoing (amal ma’ruf nahi mungkar) and obey the commands of God.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Experience of overpoweringness (majesty) is a religious experience that someone receives something absolutely untouchable. And it concerns with feelings as a creature that has –borrows Scheleiermacher’s term—feeling of dependence outside its self.  It can be found in mysticism.  Like experience of Abraham in looking for his God, that Otto describes as the consciousness of createdness and the consciousness of creaturehood.  Or Moses ‘ experience of meeting his God in Mountain Sinai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The least experience of tremendum is urgency and energy. This experience is expressed by using some symbols like vitality, emotional temper, will, force, movement, excitement, activity, and impetus and so on. It is contradictive to the ‘rational’ concepts of philospohers. And  it also makes the prophets great in the eyes of his followers. Therefore in Islam, every prophet is given revelation or miracle  (this miracle or mukjizah  can also be mentioned by energy or urgency) to underpin  or support  him in preaching religious teachings (truth).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the other hand,  Otto also explain mysterium. This concept has two main ideas, that is, Mysterium of the wholly other and mysterium of fascination. The first refers to mystery believed by religion’s followers or they still believe on the primitive belief as fertility of the ground, of their animal, and of themselves. The wholly other try to explain these irrational sides or these pre-scientific thoughts with another analysis, like scientific views. By using scientific explanations of the natural phenomenon, the religious belief and  religion must be reinterpreted or reformulated.  That the irrational dimensions of religious areas as mentioned above, in fact, have its rationality in scientific areas. The second mystery is fascination. This concept  arises from experience of tremendum that full of fear ness. Experience of fear ness of the religious followers doesn’t make them far away from religion but even make them approached it (read: God).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-6061473764900086608?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/6061473764900086608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/idea-of-holy.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6061473764900086608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/6061473764900086608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/idea-of-holy.html' title='The Idea of  the Holy'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-8309270586536181582</id><published>2009-02-04T17:46:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T17:47:11.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>Virtue and Vices in Religion’s Concept</title><content type='html'>In all tradition of religion, of course, every religion has concept about good and bad that related on practice of religion. This measurement given by core of doctrine about truth claim that focused on religion. It is connected to concept’s Islam about concept of virtue and vices, Islam in several principle have view of it, like a verse said; ان الدين عند الله الاسلام   (For God, Islam is the best religion). The verse justified a ultimate truth of other. This truth claim is going to result of truth relativism's view in other religions. The Assumptions based on no truth real except Islam Truth.  This opinion is general view followed by people, including Indonesian's people. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majority of Indonesian's people is Islam and their view is still traditionally. They used this claims as instrument to make wrong other religion existence. Ironically, if followers of religion have same view, so clash it will be done. And we have shown violence emerged by this religion's view, like Aceh, Poso, and other accident. The accident usually occurs where religion is instrument and element fundamental for conflict inter-religion society.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;What we mush do right now? We must do how to this faith can make piece for other religions no misfortune for them. The truth in believing of religion, of course, have authoritative prerequisite for its religion. If religion has no this prerequisite so it will leave. But how to the truth too give a piece in heart and structure of society. And finally can help a safe, piece and secure world where pluralism hasn't to avoid and be war, but it became key word of tolerance of good religion's life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, it is need now to develop dialogue of inter-religion in order to the truth understood more perfect and sufficient. We don't want the truth destroy other truths like someone believe in his religion. And if we believe that truth is on going process. So, the only way that we must be done is open-self for belief and faith concerned outside (other-religion).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-8309270586536181582?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/8309270586536181582/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/virtue-and-vices-in-religions-concept.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8309270586536181582'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/8309270586536181582'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/virtue-and-vices-in-religions-concept.html' title='Virtue and Vices in Religion’s Concept'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-9190467042969438992</id><published>2009-02-04T17:43:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T17:45:33.602+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>Understanding of Different Ways of Practical Religious</title><content type='html'>It is discussion about understanding of religious that appeals attention people to know called ultimate of reality; every one has different ways to it. However, of course, it is inner-characteristic of religious.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Marry Canon in his work, there is several ways in practical religion. That is, the sacred rite, the way of right action, the way of devotion, the way of shamanic mediation, the way of mystical quest, and the way of reasoned inquiry. &lt;br /&gt;Canon shown sixth way is representative practical religious which done by people. &lt;br /&gt;In religious life, sometimes we found personal experience of religious, like W. James' concept. It happened too for our experience when I have practiced my faith in Islam. Canon especially gives me a method to tell in which ways I include. Having experience concerned with understanding things, grasping how things fit together and why things are the way are, fist of all for oneself, but also for the sake of the other's understanding too. So, from the sixth ways, maybe in our opinion, I am the way of reasoned inquiry.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;The Way of Reasoned Inquiry is focused, according to Canon, to rationality approach and thought to reality of things. The way begins to study sacred text of religion and results got in the past in related to describe essential being of things that for reason not only have questions before but also as starting point and guidance to understanding ultimate reality. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sacred text as al Qur'an in Islam, has sense-hermeneutics that express a worldviews (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;weltanschauung&lt;/span&gt;). My belief in al Qur'an is same as ultimate reality itself. As a sacred book (kitabullah), for me, al Qur'an isn't only idea books (kitab ul-fikr) but also 'practical book' (kitab al 'amal). Hence it gives me inspiration to do anything rather than it regarded as mu'jizat who read finding reward. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My opinion above is based on historical al Qur'an itself. Al Qur'an became motivator strongest to make changing society. The changing happens because Qur'anic's ideas applied to process its changing. In other word, al Qur'an is practiced in pattern and behavior, so its sprit real in the world. There are any patterns neither Prophet Muhammad nor story described about it. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, my assumption have clear hermeneutical orientation, that is try to seek indication of problems cognitive's life, rational argumentation, and systematic and comprehensive worldview and finally to understanding ultimate reality.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-9190467042969438992?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/9190467042969438992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/understanding-of-different-ways-of.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/9190467042969438992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/9190467042969438992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/understanding-of-different-ways-of.html' title='Understanding of Different Ways of Practical Religious'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2561128383346945468</id><published>2009-02-04T17:40:00.001+07:00</published><updated>2009-02-04T17:43:07.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Metodologi Penelitian Agama'/><title type='text'>ANTROPOLOGICAL PERSPECTIVE OF RELIGION  [Religion as cultural system]</title><content type='html'>Talking about religion, especially in view’s Clifford Geertz (b.1926), that religion is understood as culture, and culture, in Geertz’s formulation, is defined as follows: “[Culture] denotes an historically transmitted pattern of meanings embodied in symbols, a system of inherited conceptions expressed in symbolic forms by means of which men communicate, perpetuate, and develop their knowledge about and attitudes toward life”.  In this paradigm, Geertz would like to describe function of religious symbols, or, in his language, how “sacred symbols function within the cultural context” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geertz calls for an expansion of vision and an updating of anthropological interest. He proposes that the same can be achieved by concentrating on the role of sacred symbols in transmitting meaning in dynamic cultural contexts. His attitude has been influenced by Parsons, certainly, and the same influence is to be seen in Geertz’s tendency to formulate definitions by integrating a variety of necessary components. Parsons, we recall, was unwilling to leave important factors unacknowledged. Inspired by the same ideal, Geertz defines religion as:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) a system of symbol which acts to (2)establish powerful, pervasive, and long-lasting moods and motivations in men by (3) formulating conceptions of a general order of existence and (4) clothing these conceptions with an aura of factuality that (5) the moods and motivations seem uniquely realistic.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The definition assigned to religion befits the conception of culture as “an historically transmitted pattern of meanings.” Putting the two definitions (namely, that of religion and of culture) together. Geertz writes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sacred symbols function to synthesize a people’s ethos —the tone, character, and quality of their life, its moral and aesthetic style and mood— and their world –view— the picture they have of the way things in sheer actuality are, their most comprehensive ideas of order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This agrees with his definition of religion as “a system of symbols” that carries certain functions. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The sacred symbols —that include in religious activities— cause to emerge long-lasting moods and motivations in men (believer of religion), and shaping a conception of pattern by done with the factual expression. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is related to conception’s Geertz, Mary Douglas proposes similar paradigm about religion when it is shown in anthropological approaches. His work’s Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo (1966). She illustrated religion as a purity and danger (sacred and propane). By using concept’s Pollution and Taboo, she shown religious rites as a constructions of social.  In Douglas’s view, in fact, all societies exhibit ritual processes by which abominations are distinguished, pollutants are identified, and dangers are exorcised so that the legitimate collective order is not destroyed by such dangerous and destructive forces.  In the way in which the distinction between sacred and profane is effected within this ritual context lie the clues to the determinants of order and meaning by which both society and reality are constructed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Therefore, there are seemed views between Geertz and Douglas although they used approaches the object to difference way. The views are in the understanding of ritual system, because both emphasize to the system of symbols in religious sites in which profane or sacred states.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Geetz, that symbols is significant term to understand religion. In Islam tradition, it is too phenomena used to religious rites, for example, pilgrim (hajj), praying, fasting, celebration of birthday of prophet, Isra’ Mi’raj etc.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The symbols in the religious rites is fundamental element contained hidden doctrine and non-rational dimensions. Islam is very attentions symbols and even recognizing.  By the symbols people could take care him religion end make transformation of consciousness.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-2561128383346945468?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/2561128383346945468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/antropological-perspective-of-religion.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2561128383346945468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/2561128383346945468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/antropological-perspective-of-religion.html' title='ANTROPOLOGICAL PERSPECTIVE OF RELIGION  [Religion as cultural system]'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-4596813350770964083</id><published>2009-02-04T17:15:00.002+07:00</published><updated>2009-02-04T17:32:57.446+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Bunuhlah Tuhan,  Dan Kitapun Akan Bebas Berkuasa: [prespektivisme; sebentuk filsafat moral nietzsche]</title><content type='html'>A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nietzsche, yang telah membunuh Tuhan dengan pemikiran dan pernyataannya bahwa Gott ist tot, Tuhan sudah mati, telah mati. Akan tetapi selama seratus tahun kemudian, sampai tahun 2000 ini, namanya terus hidup, pemikirannya tak mungkin dilalaikan. Dalam arti tertentu, Nietzsche adalah satu penentu nasib filsafat di Eropa.  Dia menyuarakan ilusi mengenai kebenaran dan ketetapan makna, keyakinannya terhadap kehendak untuk berkuasa (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;the will to power&lt;/span&gt;) dan dukungannya terhadap jalan hidup dionysian serta permusuhannya terhadap egalitarianisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan pemikiran Nietzsche hampir tidak dapat diketemukan dalam model tulisan yang sistematis. Dia selalu mengungkapkan pemikiran dan gagasannya dalam bentuk aforisme atau pernyataan-pernyataan. Dapat dibeberkan bahwa satu aforisme terdiri atas beberapa kalimat saja atau hanya satu paragraf. Bahkan ada satu kalimat cukup menyatakan satu model aforisme yang diambil. Satu aforisme itu merupakan gagasan utuh, yang tak tergantung pada aforisme yang lain, baik sebelum dan sesudahnya .&lt;br /&gt;Pemikiran dasar Nietzsche secara jelas, lengkap dan ringkas dapat dilihat pada telaah Sunardi  dan juga sinopsis Lechte  terhadap filosof tersebut. Dapat disingkatkan bahwa tema dasar filsafat Nietzsche adalah pertama, keinginan untuk membebaskan orang dari beban moral dengan melakukan penggantian nilai moral dengan moral seni. Dia berusaha menyerang arus sentral yang berkembang pada filsafat Barat waktu itu, yaitu berupa pandangan Kant tentang moral dan idealisme Fichte. Selain itu dia juga menyerang moralitas yang berdasarkan pada nilai-nilai dan sangsi-sangsi ilahi yang terutama berakar pada iman seperti dianjurkan oleh agama wahyu. Untuk meruntuhkan pandangan moral demikian dia mencari ide dalam semangat seperti terdapat pada pandangannya mengenai tragedi-tragedi Yunani, yakni semangat apollinian dan dionysian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat apollinian mencerminkan dimensi kejeniusan orang Yunani yang bercirikan kekuatan akan nilai keharmonisan, keindahan, prinsip individuasi, daya untuk memberi bentuk dan simbol cahaya, ukuran dan hambatan. Semangat ini menghasilkan seni yang berupa mitologi, cerita-cerita plastis dan patung. Sedang semangat dionysian menyimbulkan suatu kegilaan atau arus hidup yang mengancam untuk merusak semua bentuk pembatasan. Bagi Nietzsche perpaduan harmonis antara kedua semangat tersebut menjadi tolak ukur kebudayaan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni dalam keyakinan Nietzsche merupakan jawaban untuk membebaskan orang dari kungkungan moral. Dia mengkritik pendekatan moral yang didasarkan pada keyakinan akan adanya hukum moral universal dan nilai-nilai moral absolut. Dengan alternatif demikian dapat disimpulkan bahwa Nietzsche sebenarnya melihat hidup sebagai pergulatan orang untuk memadukan dua semangat tersebut. Dari sini nampak ternyata pergulatan hidup dalam konsep Nietzsche berada pada lingkungan estetik dan bukan normatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keinginan untuk membebaskan orang dari beban sejarah dengan memperlihatkan pemahaman lain mengenai kegunaan dan kerugian sejarah bagi hidup. Kegunaan sejarah, yakni dengan mempelajarinya orang dapat terdorong untuk mengafirmasi hidup. Sedang kerugian sejarah dapat berupa penolakan orang terhadap hidup karena kengerian-kengerian sejarah sebagai tantangan yang menekan orang lemah. Pada sisi yang lain Nietzsche juga memperlihatkan bahwa pengetahuan sejarah telah dapat dijadikan idolisasi atau pemberhalaan dan dijadikan substitusi kebudayaan yang dihayati.&lt;br /&gt;Dari sini dapat dirunut apa sebenarnya yang hendak dikemukakan oleh Nietzsche mengenai persoalan nilai. Menurut Nietzsche nilai moral tidak bersifat supra-historis. Sedang nilai seni dekat pada kesupra-historisan dengan tidak tergantung pada perubahan sejarah tetapi melalui sejarah. Dan agar orang tidak melulu dibebani nilai-nilai moral dan sejarah, maka Nietzsche berambisi mempercepat proses nihilisme untuk mematahkan pemutlakan nilai-nilai moral yang berkembang dalam sejarah. Dengan jalan ini dia sebenarnya mengajarkan sebuah trans-valuasi nilai-nilai, yang menjadikan orang mandiri dan merdeka dalam bersikap terhadap hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Sepotong Perjalanan Hidup Nietzsche&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Friedrich Nietzsche, dilahirkan di Rocken, Prussia pada tahun 1844. Ayahnya Ludwid Nietzsche adalah seorang pendeta gereja Lutheran, ibunya juga seorang Lutheran yang taat dan saleh. Nietzsche dilahirkan pada hari yang sama dengan kelahiran Friedrich Wilhelm IV. Raja Prussia saat itu. Ayahnya kemudian memberikan nama depan Raja dengan menambahkan nama keluarga. Friedrich Wilhelm Nietzsche. Kelak sang raja mengalami gila, sementara Nietzsche pada tahun 1889 menderita sakit jiwa (ingatan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil Nietzsche dijuluki sebagai ‘Yesus Kecil’ karena ia anak yang soleh, taat. Ia mempelajari teologi di Universitas Bonn dan Filologi di Universitas Leipzig, dari sinilah kemudia ia berproses menjadi seorang atheis. Belum genap 25 tahun ia sudah diserahi jabatan profesor dalam kajian filologi klasik di Universitas Basel, Switzerland. Jabatan itu hanya dipangkunya selama sepuluh tahun dikarenakan penyakit menggrogoti tubuhnya.  Karier akademiknya dimulai ketika ia pindah dari Pforta dan menjadi profesor di Universitas Basel tanpa melalui tes sebagaimana umumnya pada tahun 1869.  Akan tetepi kesuksesan awal dalam karir akademis itu tidak berkelanjutan, perjalanan Nietzsche tak mengarah pada cita-cita sebagai filolog dan ilmuwan terkemuka sebagaimana diharapkan para koleganya di Universitas. Ia merasa lebih bahagia dan mantap dengan kehidupan yang bebas dan ekpresif, mengikuti naluri kehidupan yang penuh gairah ketimbang memasuki bidang ilmu tertentu yang lurus dan teratur. Di samping itu, ia juga tidak cukup beruntung dengan kondisi kesehatannya yang memaksa ia harus berungkali cuti dari tugasnya, pada akhirnya penyakitnya memaksa ia untuk benar-benar berhenti sebagai profesor di Basel setelah ia jalani selama seputuh tahun pada 1879 dan mulailah ia menjadi freethinker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir hayatnya, Nietzsche banyak menderita, sahabat-sahabat dan koleganya satu persatu meninggalkannya dan bahkan memusuhinya akibat pemikiran-pemikirannya yang liar. Didera penyakit mental selama beberapa tahun dan pengasingan membuat ia menderita dan kesepian. Padahal ketika muda Nietzsche banyak berteman dan disukai orang karena bakat dan kecerdasannya. Karenanya, banyak orang menganggap bahwa karangan-karangan Nietzsche itu tak lebih dari ungkapan-ungkapan penderitaannya menghadapi rasa sakit. Pada tahun 1888 ia menderita sakit ingatan, kehilangan kontak dengan dunia luar, lumpuh secara mental dan fisik sampai akhirnya meninggal pada 25 Agustus 1900.  Saat-saat terakhir hidup Nietzsche sungguh tragis. Selama dua tahun terakhir masa hidupnya ia sudah tidak dapat mengetahui apa-apa dan tidak dapat lagi berpikir. Bahkan ia tidak tahu kalau ibunya sudah meninggal dan juga tidak tahu bahwa dia mulai menjadi termasyhur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Nietzsche hidup berpacu dengan penyakitnya, ia termasuk orang yang produktif menulis. Diantara karya-karyanya  adalah The Birth of Tragedy and The Geneology of Morals (1872), Untimely Meditations (1873-1876), dua bagian pertama dari Human, All too Human (1878-1879), Thus Spake Zarathustra (Also Sprach Zarathustra) yang ditulis sepanjang 1883-1885, Beyond Good and Evil (1886), Ece Homo (1885), dan Twilinght of Idols (1889).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Manusia: The Will to Power&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Schopenhaur beranggapa hidup adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the-will-to-life&lt;/span&gt;, maka Nietzsche memandangnya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;the-will-to-power&lt;/span&gt;. Kehendak-untuk-berkuasa yang ditabuhkan oleh Nietzsche bukan sekedar refleksi atau kontemplasi hidupnya saja tapi benar-benar menjadi sebuah sistem pemikiran yang luar biasa. Dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beyond Good and Evil&lt;/span&gt;, Nietzsche menyebutkan bahwa hakekat dunia adalah kehendak-untuk-berkuasa. Dan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Geneology of Morals&lt;/span&gt; dikatakan bahwa hakekat hidup adalah kehendak-untuk-berkuasa. Lagi, dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Will to Power&lt;/span&gt; ia menyebutkan bahwa hakekat terdakalam dari ada (being) adalah kehendak-untuk-berkuasa. Singkatnya, kehendak-untuk-berkuasa adalah hakekat dari dunia, hidup, dan ada. Kehendak-untuk-berkuasa adalah hakekat dari segala-galanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kehendak-untuk-berkuasa merupakan hakekat dari segala-galanya, hal ini jangan dipahami seperti dipahami kaum metafisik. Kehendak-untuk-berkuasa bukanlah merupakan substansi atau subtratum yang mendasari segala-galanya. Bagi Nietzsche kehendak-untuk-berkuasa merupakan khaos yang tak mempunyai landasan apapun. Dan Khaos ini berada di bawah segala dasar seperti dibayangkan kaum metafisi. Dan dasar dari segala sesuatu merupakan dinamisme yang masih berada dalam status khaos. Dunia, hidup dan ada seolah terapung di atas gelora samudera, dan bukannya tertancap pada suatu benua atau pulau. Karena itu, Gagasan Nietzsche ini harus dilihat dalam seluruh pemikirannya yang diliputi suasana nihilistik atau suasana kematian setiap bentuk model tuhan. Dengan demikian kehendak-untuk-berkuasa dan nihilisme merupakan dua sisi dari satu mata uang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;D. Tipologi Moral: Antara Moralitas Tuan dan Moralitas Budak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pandangannya tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Will to Power&lt;/span&gt;, Nietzsche akhirnya memilah dua moralitas, yaitu moralitas tuan dan moralitas budak. Moralitas tuan ini banyak terinspirasi dari diskripsi manusia yang dilukiskan oleh Aristoteles sebagai seorang yang mempunyai jiwa, spirit yang unggul. Dalam moralitas tuan, baik adalah sama dengan luhur, yang bisa meningkatkan kehendak untuk berkuasa, sementara buruk sama dengan hina, yaitu semua yang keluar dari sikap lemah, perintah, cintailah sesamamu dan diri sendiri, harus diubah dengan berperanglah melawan sesamamu dan diri sendiri. Sebab hanya dengan ini ia akan semakin merasa kuat, otonom, dan bebas serta merasa semakin berbeda dengan kelompok dekaden (moralitas budak).  Moralitas tuan membenarkan kekuasaan dan kekuatan, cirinya adalah orang membenarkan dirinya sendiri, dan ini merupakan ungkapan dari kehendak-untuk-berkuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara moralitas budak adalah moralitas orang kecil, dekaden, dan gerombolan. Moralitas orang yang tidak mampu untuk bangkit dan menentukan hidupnya sendiri. Kebencian Nietzsche terutama ditujukan untuk agama Kristen. Karena agama Kristen mengajarkan cinta kasih, kesediaan untuk menerima, tidak membalas dendam, memaafkan, mencintai musuh dan bersedia mengorbankan diri. Pujian Kristen terhadap si miskin, mau berdamai, baik hati, dan lemah lembut merupakan bentuk pemujaan terhadap yang kalah dan lemah. Oleh karena itu, bagi Nietzsche, moralitas Kristiani merupakan moralitas khas budak. Sebenarnya para budak tidak suka ditindas, tapi mereka juga tidak sanggup melepaskan diri dari penindasan, dan sebagai ungkapan kekecewaannya maka mereka yang bermoral budak memutarbalikkan semua nilai yang sampai saat itu dianggap positif yang menjadi ciri khas moralitas tuan sebagai tanda keburukan. Sedangkan kelemahan dan ketidakmampuan mereka sendiri dianggap sebagai sesuatu yang baik. Dari sinilah Nietzsche mengatakan bahwa kemenangan agama Kristiani terhadap Romawi tak lebih adalah pemberontakan kaum budak, yang sudah dimulai dalam agama Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya moralitas budak lahir karena munculnya kekecewaan, atau sentimen orang lemah terhdap orang kuat. Budak tidak dapat menjadi tuan, yang lemah tidak dapat menjadi kuat, karenanya ia sentimen dan kecewa, ia merendahkan sifat-sifat orang kuat dan meninggalkan sifat-sifat orang lemah. Dengan begitu maka terjadi pemutarbalikan nilai, yang baik dalam moralitas tuan dianggap buruk dalam moralitas budak, begitu juga sebaliknya.  Setidaknya terdapat beberapa sifat yang membedakan antara moralitas tuan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;master morality&lt;/span&gt;) dengan moralitas budak (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;slave morality&lt;/span&gt;). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;SLAVE MORALITY&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Benci yang dipendam&lt;br /&gt;Reaksioner&lt;br /&gt;Mementingkan orang lain&lt;br /&gt;Mementingkan akhirat&lt;br /&gt;Rendah hati/diri&lt;br /&gt;Altruis&lt;br /&gt;Takut melangkah&lt;br /&gt;Demokratis&lt;br /&gt;Jujur&lt;br /&gt;Memegangi prinsip-prinsip moral&lt;br /&gt;Lemah&lt;br /&gt;Baik (lemah) Vs  buruk (Kuat)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MASTER MORALITY&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mengungkapkan kemarahan langsung&lt;br /&gt;Kreatif&lt;br /&gt;Mementingkan diri sendiri&lt;br /&gt;Dunia tujuan utama&lt;br /&gt;Bangga, angguh&lt;br /&gt;Egois&lt;br /&gt;Selalu berani mencoba [ekprimental]&lt;br /&gt;Aristokratis&lt;br /&gt;Bohong&lt;br /&gt;Moral individu&lt;br /&gt;Kuat&lt;br /&gt;Baik (kuat) Vs buruk (lemah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Geneologi Moral: Kritik Terhadap Moralitas Kristen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Geneologi Moral adalah sebuah istilah yang digunakan Nietzsche untuk membangun moralitas baru sekaligus kritiknya terhadap moralitas ‘budak’ atau nilai-nilai yang diberikan oleh ajaran Kristen. Geneologi moral juga menunjuk pada sebuah metodologi geneologis dan karyanya Zur Genealogi der Moral, yang berupaya mengungkap asal asul dari semua nilai. Penyelidikannya ini mengungkap beberapa tahap penting perkembangan moralitas Barat, yaitu bahwa kode-kode moral pada mulanya diberlakukan dan diperkuat secara eksternal melalui hukuman dan disiplin keras. Rasa takut yang terus menerus dari setiap individu terhadap hukuman balasan lantas menjadi dorongan besar bagi pelatihan memori, dan ini kemudian mengarah pada ditanamkannya rasa akan tanggung jawab pribadi. Seluruh proses itu akhirnya menghasilkan individu-individu ‘berdaulat’ yang bisa menjalankan moral itu secara otomatis karena telah menanamkan aturan-aturan moral masyarakat ke dalam ‘nurani’nya. Mereka menjadi komponen-komponen masyarakat yang moralitasnya dirancang untuk membuat manusia menjadi ‘teratur, bisa dikalkulasi dan seragam’.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembacaan tantang moral itu kemudian dirangkum Nietzsche dalam tiga disertasi yang kemudian memunculkan suatu pembacaan yang baik tentang asal-usul moral tradisional (moral kristiani) yang disebutnya sebagai moral kawanan atau moral kaum lemah.  Pertama, tentang asal usul yang baik dan yang jahat. Kedua, Tentang rasa salah, kesadaran yang keliru dan yang menyerupai kedua hal tersebut. Ketiga, tentang apa makna dari semua ideal asketis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian pertama dari tiga disertasi di atas, ditunjukkan dalam hidup bahwa moralitas Kristen lahir dari perasaan kebencian (ressentiment). Moralitas ini lahir sebagai hasil dari revolusi orang-orang lemah atau para budak yang memendam rasa kebencian dan iri yang mendalam dengan dipelopori oleh para imam. Gagasan ‘baik’ dalam moralitas ini tidak lahir karena mereka ingin menciptakan apa yang baik, tapi ‘baik’ muncul karena reaksi kelemahannya terhadap lingkungan sekitarnya. Terhadap lingkungan, orang-orang ini lebih suka berkata ‘tidak’ dan mengurung diri, kemudian membentuk dunianya sendiri.  Gagasan yang baik dan jahat dalam dunia Eropa merupakan warisan orang-orang Kristen yang diwarisinya dari Yahudi. Dengan tampil dan naiknya kebudayaan Kristen, kebudayan lain tak lebih adalah kebudayaan barbar yang mandul akan kebaikan. Padahal justru moralitas Kristenlah yang mengantarkan Eropa masuk ke dalam nihilisme yang anti manusia dan anti kehidupan. Dalam kategori moralitas Kristen, moralitas aristokrat digolongkan sebagai moralitas barbar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian kedua, Nietzsche menguraikan pandangannya tentang suara hati. Suara hati atau juga kesadaran moral yang oleh sementara kalangan dipahami sebagai suara Allah dalam hati, padahal itu adalah naluri, insting kekejaman. Pandangan yang keliru tentang suara hati ini telah membuat orang mengabaikan kecenderungan-kecenderungan alami manusia yang tidak lain adalah kehidupan itu sendiri. Ide tentang suara hati yang salah membuat orang selalu merasa bersalah atau konformitas dengan moralitasnya. &lt;br /&gt;Disertasi kedua ini menyimpulkan bahwa kesadaran yang keliru merupakan efek psikologis dari ciri sosial mengenai ketakutan yang dipaksakan pada individu melalui peralihan dari kawanan primitif ke bentuk pertama organisasi sosial yaitu negara. Efek sosial ini terdiri dari dua tahap. Pertama pembatinan agresivitas yang tidak mencapai kepenuhannya di luar. Tahap pertama ini adalah pembalikan kekuatan aktif melawan diri-sendiri, penghasil rasa sakit yang kemudian ini dibatinkan dan dispiritualisasikan menjadi perasaan bersalah yang berkembang menjadi sebuah dosa yang merupakan bentuk tertinggi yang diidealisir dari mistifikasi ini. Kesadaran yang keliru ini dihasilkan oleh para budak, orang lemah dan sakit.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ketiga, yang berisi tujuan-tujuan asketik sebenarnya, Nietzsche &lt;br /&gt;menunjukkan bahwa kekuatan luar biasa yang muncul dari cita-ciata dan tujuan asketis pada dirinya adalah cita dan tujuan yang merusak kehidupan. Sejalan dengan ketakutan manusia terhadap dorongan-dorongan kehidupan, orang menciptakan berbagai macam kebijaksanaan yang diungkapkan dengan praktek-praktek asketis. Semangat dan praktek asketis ini dijumpai dalam banyak kalangan, dari para seniman –disini ia banyak mengomentasi Wagner–, filsuf, laki-laki wanita, para imam, sampai para orang suci dan santo.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendiriannya yang lain tentang moralitas adalah bahwa tidak ada fakta moral.  Sebenarnya yang disebut moralitas pada dirinya sendiri itu tidak ada. Yang ada hanyalah interpretasi moral yang berasal dari luar moral (extra moral), karena dalam pandangan Nietzsche, moralitas tak lebih dari sebuah sistem penilaian. Sedangkan penilaian itu sendiri selalu bersifat exegesis, jadi moralitas bagi Nietzsche selalu berarti penafsiran untuk suatu penilaian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Catatan Akhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemikir perspektivisme Nietzsche ingin membuat tafsir terhadap fenomena kehidupan. Baginya yang ada hanyalah tafsir-tafsir yang tak sempurna dan tak pernah ada kebenaran mutlak tentang dunia. Pemikirannya ini melahirkan dan mengandaikan suatu individualisme yang kuat; suatu yang didasarkan pada nilai-nilai relativistik yang melahirkan nihilisme. Pandangan ala Nietzschean ini tentu di satu sisi dapat membongkar semua nilai yang pernah ada, berbagai simptom, kepalsuan, dan kebohongan. Hanya saja di sisi yang lain kehilangan kekuatan understandability (kesepahaman bersama) dan communitabilitynya. Padahal dua valiabel itu, sekurang-kurangnya, mesti ada dalam kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Understandability dan communitability inilah yang menjadi satu kelemahan paling mendasar dari semua konsep Nietzsche. Gagasan Nietzsche tak ubahnya sebagai sebuah letupan pemikiran ditengah absolutisme dokmatisme agama dan sains yang memegang peranan sangat penting kala itu sehingga tak sedikitpun seseorang yang dapat keluar dari pengaruh-pengaruh itu. Tapi justru posisi ini yang membuat pemikiran Nietzsche menjadi suatu inspirasi bagi pemikir sesudahnya. Seperti pernyataan Foucault berikut: Satu-satunya penghargaan yang benar terhadap pemikiran seperti yang dikemukakan Nietzsche adalah dengan memamfaatkannya, membedahnya, sehingga pemikiran itu akan meraung dan memprotes. Dan jika para komentator mengatakan bahwa saya tidak setia terhadap Nietzsche, itu jelas di luar urusan saya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;KEPUSTAKAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bartens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. W. Nietzsche, Geneologi Moral, Yogyakarta, Jalasutra, 2001.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Foucault, Michel,  “Prison Talk” terj. Colin Gordon, dalam Radical Philosophy, No. 16 Spring, 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryatmoko, “Pembongkaran Agama dan Aspek Destruktifnya” dalam Basis, nomor 11-12, tahun ke-49, November-Desember 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaufmann, Walter, “Fiedrich Nietzsche” dalam Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of &lt;br /&gt;Philosophy, vol. 6 New York, London: Callier Macmillan Publisher, 1872.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lechte, John, Fifty Key Contemporary Thinkers: From structuralism to postmodernity London &amp; New York: Routledge, 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magill, Fank N., Masterpieces of  World Philosophy, New York: Harpercollins Publishers, 1990.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magnis-Suseno, Franz, 13 Tokoh Etika; Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19, Yogyakarta: Kanisius, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pojman, Louis P., Philosophy: The Pursuit of Wisdom, 2nd editon, USA: Wadsrorth Publishing Company, 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pojman, Louis P., Philosophy: The Quest for Truth, USA: Wadsworth Publishing Company, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Russell, Bertrand, History of Western Philosophy, London: George Allen &amp; Unwin Ltd. 1974.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata, “Nietzsche Si Pembunuh Tuhan” dalam Basis, nomor 11-12, tahun ke-49, November-Desember 2000,  p. 4-17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunardi, St., Nietzsche, Yogyakarta: LKiS, 1996&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-4596813350770964083?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/4596813350770964083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/bunuhlah-tuhan-dan-kitapun-akan-bebas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4596813350770964083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4596813350770964083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/bunuhlah-tuhan-dan-kitapun-akan-bebas.html' title='Bunuhlah Tuhan,  Dan Kitapun Akan Bebas Berkuasa: [prespektivisme; sebentuk filsafat moral nietzsche]'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-1951039248816753892</id><published>2009-02-04T17:03:00.000+07:00</published><updated>2009-02-04T17:09:22.090+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>NEGARA DAN KEKERASAN SOSIAL (Studi Atas Konflik Etnik di Kalimatan Barat)</title><content type='html'>A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati fenomena kekerasan sosial yang melanda Indonesia lima tahun terakhir, tepatnya setelah runtuhnya rezim Orde Baru tahun 1998 terdapat suatu pelajaran berharga bagaimana kita melihat fenomena itu dengan mencoba mengkaitkannya dengan peran dan fungsi sebuah negara. &lt;br /&gt;Rezim orde baru, bagi sebagai orang, dilihat sebagai sebuah titik balik bagi maraknya kekerasan sosial di beberapa daerah. Misalnya kekerasan yang terjadi dari kerusuhan Ketapang, Kupang, Tasikmalaya, Solo, Banyuwangi, kekerasan etnik Kalbar dan terahkir kekerasan berbau agama di Ambon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan sosial di dua tempat yaitu Kalbar dan Maluku merupakan contoh kekerasan sosial paling dahsyat sepanjang sejarah berdirinya Republik ini. Apa yang terjadi di Kalimantan Barat telah mengundang perhatian sekaligus kecaman masyarakat baik dalam maupun luar negeri (internasional) bahwa kekerasan yang dilakukan suku Melayu dan Dayak atas suku Madura merupakan bentuk kanibalisme modern. Kenyataan ini mengundang banyak tanda tanya dan sekaligus rasa tak percaya mungkinkah masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat komunal yang memegang teguh keyakinan agama, norma-norma, dan nilai-nilai ketimuran bisa berbuat sedemikian kejamnya? Memang kenyataan ini sulit dipercaya tapi itulah yang terjadi di Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa-peristiwa ini mengagendakan banyak hal yang ujung-ujungnya  menegaskan suatu pertanyaan kembali tentang peran dan fungsi Negara dimana negara secara esensial telah tidak dapat menciptakan suatu kondisi yang aman bagi rakyatnya. Pada masa pemerintahan Orde Baru misalnya, pemerintah mencoba mengeliminer setiap bentuk kekerasan sosial sebagai protes rakyat terhadap arogansi kekuasaan negara di satu sisi dan di sisi lain negara sendiri melancarkan kekerasan struktural guna melemahkan kekuatan rakyat.  Negara melawan kekerasan dengan kekerasan. Sementara di era reformasi, karena tidak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang ada bahkan terjadi suatu efhoria, akhirnya mengakibatkan hancurnya moralitas bangsa dan disharmoni sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa konflik sosial berbau SARA yang terjadi di beberapa tempat seperti Kalimatan Barat dan Maluku merupakan konsekwensi logis dari endapan-endapan rasa kecewa, frustasi sosial masyarakat atas ketidakadilan pemerintah dalam distribusi ekonomi dan lemahnya penegakan hukum di masa lalu. Dan di era reformasi inipun pemerintah juga tak peka terhadap berbagai persoalan dan tuntutan masyarakat di tingkat bawah. Pemerintah seakan mengabaikan realitas masyarakat kecil yang sedang dan terus bertikai untuk memperebutkan sumber-sumber ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekerasan demi kekerasan, konflik sosial terus  berlanjut dalam lingkar spiral kekerasan. Dalam lingkar spiral kekerasan itu, seperti dikatakan Dom Helder Camara,  kekerasan personal berupa ketidakadilan negara menciptakan protes sosial masyarakat (kekerasan sosial) dan ini dengan sendirinya mengundang respon kekerasan stuktural negara. Kekerasan itu selalu berjalan melingkar. Di sinilah kekerasan demi kekerasan yang terjadi di Indonesia menemukan alurnya. Kekerasan itu tidak akan terhenti sejauh spiral kekerasannya tidak diputus. Dan tampaknya pemerintah tidak memiliki inisiatif untuk memutus rantai kekerasan itu. Bahkan, herannya, para elit politik menjadi bagian dari sebab munculnya kekerasan demi kekerasan oleh karena pertentangan di antara elit memicu kekerasan di tingkat massa pendukung masing-masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melihat lebih jauh kekerasan massa ini, sebuah contoh kasus kekerasan di Kalimantan Barat akan dijadikan landasan berfikir bagi idealitas negara atau pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Latar Belakang Konflik Etnik Kalimantan Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya konflik sosial berbau SARA di Kalimantan Barat tidak terjadi kali ini saja. Konflik sosial-etnik di penghujung abad 21 ini telah berlangsung lama, tidak saja antara suku Melayu versus suku Madura, melainkan juga konflik ini dialami oleh suku-suku lain seperti suku Dayak melawan Melayu, Dayak dan Madura, Dayak dan Tionghoa serta suku Melayu dan suku Tionghoa. Konflik antara suku Madura dengan Melayu terjadi pertama pada tahun  1933 dan terakhir sekaligus konflik terbesar pada tahun 1999 dengan berbagai latar belakang yang berbeda.&lt;br /&gt;Ada beberapa faktor yang menjadi latar belakang timbulnya konflik antara Melayu dan Madura di Kalimantan Barat, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sebagaimana disinyalir oleh banyak pihak terutama tokoh-tokoh Kalbar, sikap eksklusif suku Madura.  Ada kecenderungan dari suku Madura di Kalimantan Barat untuk hidup berdampingan hanya dengan sesama suku. Mereka bergaul secara sosial dengan sesama mereka. Membangun masjid sendiri dan melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan sendiri. Tidak pernah ada orang dari suku Madura yang melaksanakan ibadah (sembahyang) di masjid suku Melayu. Hal ini disebabkan perbedaan paham yang mereka anut dimana kaum muslim Melayu diidentifikasi sebagai penganut paham Muhammadiyah sedangkan kaum muslim Madura adalah penganut Nahdatul Ulama (NU).  Dan pergaulannya dengan suku-suku lain hanya dalam urusan-urusan sosial ekonomi. Tentu saja sikap seperti ini melahirkan perasaan curiga di antara kedua suku. Selain itu, ada sikap arogansi orang-orang  Madura tertentu, merasa paling berani, kuat dan tidak ada orang yang bisa menandinginya. Sikap-sikap seperti ini sebenarnya dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan mereka. Hampir semua orang-orang Madura yang melakukan transmigrasi ke Kalimantan Barat adalah mereka yang relatif berpendidikan rendah. Dan umumnya, mereka berasal dari Madura Barat, yaitu Bangkalan dan Sampang yang budayanya lebih “keras” karena kondisi geografis (alam) yang gersang. Berbeda dengan masyarakat Madura bagian Timur seperti Sumenep dan Pamekasan, yang relatif ramah dan halus karena selain pengaruh budaya Kraton Sumenep juga kondisi alamnya cukup subur.&lt;br /&gt;Perilaku orang Madura di Kalbar yang demikian itu sebenarnya sedikit banyak tidak bisa dilepaskan dari pepatah atau tepatnya “pendirian” yang dianut kuat oleh hampir semua orang Madura, yaitu lebi begus  pote tolang deri pote mata (lebih baik mati ketimbang menanggung malu). Mereka bisa berkorban apapun ketimbang mereka menanggung malu (aib). Bagi mereka aib adalah sesuatu yang berhubungan dengan derajat dan kehormatan. Hampir semua orang Madura tidak mau dipermalukan karena itu merupakan kehormatannya. Itu sebabnya pepatah ini diwarisi secara turun temurun. Dan pepatah ini mempengaruhi semua sikap dan perilaku orang-orang Madura di Kalimantan Barat  terlebih mereka yang tingkat pendidikannya rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, lemahnya birokrasi (pemerintah) lokal. Pemerintah Daerah di Kalimantan Barat selama ini gagal melakukan pemberdayaan sosial-budaya. Fungsi pemerintah untuk menciptakan kesadaran sosial, keharmonisan sosial, kebersamaan di antara masyarakat tidak berjalan baik. Mestinya, pemerintah lokal bertanggung jawab atas kondisi dan problem yang dihadapi oleh masyarakat setempat. Pemerintah daerah harusnya berperan aktif dalam mendamaikan persoalan-persoalan atau konflik-konflik yang terjadi di dalam masyarakat, bukannya membiarkan konflik itu berkembang dan meluas yang berakibat fatal bagi kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik lokal maupun nasional. Ini sekaligus bukti bahwa pemerintah daerah di Kalimantan Barat tidak responsif terhadap tututan masyarakat di bawah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, aparat keamanan sebagai penegak hukum juga tidak mampu menjalankan fungsinya. Hal ini terbukti dari beberapa kasus perselisihan antara orang Madura dan Melayu  yang tidak diproses secara hukum dan dibiarkan begitu saja. Para pelanggar dan pelaku tindak kriminal juga tidak ditindak secara hukum oleh aparat yang berwajib. Kasus pencurian ayam milik seorang suku Melayu oleh oknum Madura di malam idul fitri tahun itu, yang kemudian menjadi pemicu kerusuhan besar itu,  tidak diselesaikan secara hukum oleh aparat berwajib. Pelakunya dilepas saja oleh aparat polisi tanpa sanksi hukum. Tentu saja tindakan aparat ini mengundang kekecewaan dari pihak suku Melayu. Sikap aparat inilah yang semakin memperbesar ketegangan konflik antara kedua suku. Di satu sisi orang Melayu merasa tidak dilindungi hak-haknya oleh aparat berwajib, sedangkan di sisi lain orang Madura, dengan tidak adanya proses hukum atas tindakannya yang menyimpang, semakin merasa leluasa untuk melakukan tindakan-tindakan tak terpuji dan mengganggu ketertiban sosial masyarakat setempat.&lt;br /&gt; Ketiga, faktor ketimpangan sosial-ekonomi.  Banyak orang beranggapan faktor kesenjangan sosial-ekonomi menjadi faktor dominan dari kerusuhan hebat itu. Disadari atau tidak, bahwa masuknya para transmigran Madura ke Kalimantan Barat berdampak besar terhadap sektor ekonomi penduduk setempat. Keberadaan para pendatang tentu saja menggeser peluang-peluang ekonomi dari penduduk pribumi. Masyarakat asal Madura memasuki semua lapangan ekonomi dari pekerjaan kasar seperti pekerja penggali batu, kuli bangunan, kuli pembuatan jalan, kuli pertanian dan perkebunan, sopir angkutan hingga pedagang di pasar-pasar. Para pendatang di Kalimantan Barat lebih agressif dalam bidang-ekonomi ketimbang penduduk setempat. Seperti dikatakan oleh Chaerul Rasyid SH, Kapolda Kalbar, yang bisa melawan semangat usaha ekonomi orang Madura hanyalah orang-orang Cina, sementara suku Melayu dan Dayak lebih suka menerima apa adanya, statis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, tidak berfungsinya lembaga-lembaga adat seperti Kesultanan  Sambas yang sama sekali hilang perannya dalam pembangunan daerah. Walaupun disebut Kabupaten Sambas, namun pembangunan terpusat di Singkawang, yang jauh dari Sambas. Tentu saja ini menimbulkan banyak rasa kecewa dari pihak Istana Kesultanan dan para pendukungannya. Karena lembaga-lembaga adat-tradisional kehilangan peran dalam pembangunan, atau malahan dipinggirkan perannya oleh pemerintah, maka pihak kesultanan merasa enggan (reluctant) untuk menjadi medium penyelesaian persoalan-persoalan yang berlangsung di tengah masyarakat. Dengan demikian, lembaga kesultanan yang dulunya berfungsi sebagai sentra pemberdayaan masyarakat, tempat mengadu masyarakat dan mencari perlindungan, kini teralienasi dari kehidupan sosial masyarakat. Lembaga kesultanan hanya menjadi simbol dari kejayaan masa lalu.&lt;br /&gt;Kelima, faktor yang terakhir ini hanya bisa dijelaskan dalam konteks politik. Disadari atau tidak, konflik sosial-etnik di Kalimantan Barat tidaklah berdiri sendiri. Kekerasan etnik itu hanya salah satu dari serangkaian peristiwa kekerasan yang sama yang terjadi di daerah-daerah lain. Setelah terjadi kerusuhan Ketapang, Kupang, Tasikmalaya, Solo, Situbondo, dan Banyuwangi, lalu ditiupkan isu “Islam Kiri” di  Madura namun isu ini gagal memprovokasi masyarakat Madura untuk melakukan kerusuhan seperti di daerah-daerah lain. Lalu meletuslah kerusuhan  berbau  ethnic-cleansing  di Kalimantan Barat dan disusul kerusuhan berbau agama di Maluku. Seperti diduga beberapa kalangan, kerusuhan Kalbar bertujuan memancing emosi orang-orang Madura baik di wilayah Madura sendiri ataupun di luar Madura agar melakukan kerusuhan atau kekerasan supaya tercipta suasana tak menentu, chaos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa menganggap faktor–faktor yang lain tidak penting, penulis mencoba mencari penjelasan lain mengenai kerusuhan etnik di Kalbar. Sesungguhnya pada setiap kerusuhan di beberapa daerah selalu terdapat pihak-pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Pihak yang dirugikan pasti adalah kedua pihak yang bertikai. Sedangkan yang pihak diuntungkan adalah pihak-pihak yang memiliki kepentingan dengan kerusuhan tersebut. Salah satunya adalah pihak militer (TNI). Pihak militer menganggap bahwa kerusuhan-kerusuhan itu merupakan suatu proyek dimana kepentingannya bisa diraih. Dengan adanya kerusuhan sosial seperti itu maka ada pekerjaan (proyek) baru dengan demikian ada kucuran dana dari pusat untuk membiayai operasi militer dalam rangka pengamanan daerah kerusuhan tersebut. Jika tidak ada kerusuhan (kondisi stabil atau aman) maka pihak militer tidak memiliki proyek, dan karena itu tidak ada dana turun dari pusat kepada aparat militer itu. Inilah cara-cara dari oknum-oknum TNI untuk mencari uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Gagalnya Fungsi Negara dan Pemerintah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusuhan demi kerusuhan yang terjadi di beberapa daerah, dalam kaitan ini kerusuhan etnik di Kalbar, merupakan bentuk nyata kegagalan fungsi negara dan pemerintahan yang paling dasar. Negara, seperti disebutkan John Lock sebagai hasil dari kontrak sosial, berfungsi untuk mengatur, menengahi, dan mengatasi persoalan-persoalan, perselisihan-perselisihan di antara individu maupun kelompok dalam masyarakat. Menurut Lock fungsi pemerintah adalah menciptakan perdamaian, keselamatan dan kebaikan bersama setiap warga masyarakat.  Senada dengan itu, teori pluralis  menganggap negara sebagai arena sekaligus wasit (refree) dari artikulasi kepentingan dari kelompok-kelompok kepentingan, konflik-konflik politik para elit untuk mencari kompromi-kompromi politik di antara mereka. Sebagaimana ditegaskan oleh Robert Dahl, politik adalah suatu proses negosiasi yang bersifat konstan yang memastikan konflik-konflik yang terjadi dipecahkan secara damai. Karena itu, keberadaan organisasi-organisasi negara semata-mata merupakan mekanisme untuk merubah tuntutan sosial ke dalam kebijakan publik. Dan seperti dikatakan oleh David Easton bahwa kebijakan muncul dari proses interaksi di antara elemen-elemen sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa  yang terjadi di Indonesia menunjukkan fakta yang berbeda. Negara bukannya sebagai arena bagi artikulasi kepentingan masyarakat melainkan merupakan arena artikulasi kepentingan elit pemerintah atau elit politik. Negara digunakan sebagai instrumen untuk memenuhi kepentingan penguasa. Kekerasan-kekerasan struktural negara dimaksudkan untuk menindas rakyat, merampas hak-hak rakyat, dan menciptakan kepatuhan rakyat terhadap negara secara bulat. Itulah realitas politik Orde Baru.&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, beberapa ahli politik seperti Karl D. Jackson menyebut negara Indonesia masa Orde Baru sebagai Negara Birokratik atau Bureauctric Polity. Menurutnya dalam model negara seperti ini, kelompok kecil elit menguasai  sepenuhnya pengambilan keputusan politik negara. Sementara Dwight King menyebutkan bahwa Indonesia di bawah Orde Baru tampak sebagai negara otoriter-birokratik dengan pluralisme yang terbatas.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, di masa reformasi ini kita perlu kembali kepada tujuan dan fungsi negara yang semula bila kita menghendaki segera keluar dari kemelut krisis yang tak pernah usai ini. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa tujuan negara Republik Indonesia adalah: “Untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” dengan berdasarkan kepada: Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh khidmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, negara bertujuan untuk menciptakan kondisi-kondisi yang memungkinkan semua warga masyarakat untuk hidup sejahtera dan damai. Menurut Roger H. Soltau tujuan negara adalah memungkinkan rakyatnya “berkembang serta menyelenggarakan daya ciptanya sebebas mungkin” (the free possible developments and creative self-expression of its members). Sementara menurut Harold J. Laski tujuan negara adalah “menciptakan keadaan di mana rakyatnya dapat mencapai terkabulnya keinginan-keinginan secara maksimal” (creation of those conditions under which the members of the state may attain the maximum ssatisfaction of  their desires). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pemerintah sebagai aparat negara merupakan pelaksana bagi tujuan-tujuan negara tersebut. Secara detail ada beberapa tugas pokok pemerintahan yaitu:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Menjamin keamanan negara dari segala kemungkinan serangan dari luar, dan menjaga agar tidak terjadi pemberontakan dari dalam.&lt;br /&gt;2. Memelihara ketertiban dengan mencegah terjadinya pertikaian, dan menjamin agar perubahan apapun yang terjadi di dalam masyarakat dapat berlangsung secara damai. &lt;br /&gt;3. Menjamin diterapkannya perlakuan yang adil kepada setiap warga tanpa membedakan status.&lt;br /&gt;4. Memberikan pelayanan-pelayanan (publik) yang tidak mungkin dilakukan oleh lembaga-lembaga non-pemerintah.&lt;br /&gt;5. Melakukan upaya peningkatan kesejahteran sosial dengan memberikan bantuan kepada orang miskin, cacat, jompo dan anak-anak terlantar.&lt;br /&gt;6. Menerapkan kebijakan ekonomi yang menguntungkan masyarakat luas.&lt;br /&gt;7. Menerapkan kebijakan untuk pemeliharaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup seperti air, tanah, dan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan tugas-tugas pokok ini perlu adanya seni pengelolaan kekuasaan atau wewenang. Berkaitan dengan ini, ada empat paradigma pemerintahan.  Pertama, pemerintah sebagai a ruling process yang ditandai oleh ketergantungan pemerintahan dan masyarakat pada kapasitas kepemimpinan seseorang. Kedua, Pemerintahan sebagai a governing  process  yang ditandai oleh praktek pemerintahan yang berdasarkan pada konsensus-konsensus etis antara pemimpin dengan masyarakat. Ketiga, Pemerintahan sebagai an administaring process yang ditandai oleh terbentuknya sistem yang kuat dan koprehensif, melalui mana seluruh interaksi kekuasaan dikendalikan oleh satu sistem administrasi yang bekerja secara tertib dan teratur. Kalau sistem ini sudah terbentuk, masalah kepribadian pemimpin tidak lagi menjadi faktor dominan. Di sinilah sistem demokrasi mulai terwujud. Dan keempat, adalah managerial process—aparat pemerintah hanya berfungsi sebagai alat (instrumen) untuk mengatur lalu lintas infomasi dan inovasi dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi sosial masyarakat yang penuh konflik seperti yang terjadi di beberapa daerah, model pemerintahan yang paling cocok adalah model ketiga, yaitu pemerintahan sebagai administrating process. Model ini mengandaikan terbentuknya sebuah sistem yang telah mapan (established), sehingga siapapun orang yang menduduki posisi pemimpin maka ia tentu berpijak kepada sistem atau kesepakatan yang telah ditetapkan bersama. Demikian pula masyarakat, siapapun mereka dan dari manapun asalnya, harus tunduk kepada aturan-aturan atau sistem yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik-konflik yang terjadi di beberapa daerah menunjukkan secara jelas rapuhnya sistem yang ada. Rapuhnya sistem tersebut dikarenakan terlalu dominannya pemimpin atau kepemimpinan sebagai person, bukan sebagai sebuah sistem. Pemimpin atau kepemimpinan sebagai sebuah sistem mengandaikan adanya relasi-relasi dengan pihak yang dipimpin dan aturan-aturan yang telah disepakati bersama baik secara sosial, budaya, politik dan ekonomi. Karena itu kepemimpinan sebagai suatu sistem juga mengandaikan adanya akuntabilitas yang memimpin kepada yang dipimpin. Kepemimpinan yang cenderung personal-centred ini telah menggeser posisi kesepakatan-kesepakatan sosial, budaya, dan politik sebagai sebuah sistem yang mengikat semua pihak untuk senantiasa patuh dan tunduk kepada kesepakatan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena kekerasan sosial, terutama di Kalbar, merupakan suatu contoh nyata dari sekian kelemahan sistem pengelolaan negara yang tidak afektif, sekaligus tak punya visi bagaimana seharusnya membentuk idealitas sebuah negara. Yang terjadi kemudian adalah negara hanya menjadi suatu pentas kekerasan yang kehilangan fungsi dan perannya. Para pemain dengan bebasnya melakoni peran-peran tanpa berdasar pada skenario hukum atau sistem yang seharusnya dipegangi oleh semua pihak. &lt;br /&gt;Bila kondisi seperti ini terus berlanjut, tanpa ada upaya reformulasi yang signifikan terhadap berbagai kelemahan yang dikandung, bukan tidak mungkin negara kita ini hanya akan menjadi negara angan-angan yang selalu memimpikan suatu kondisi yang lebih baik tanpa harus berbuat banyak.@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budiardjo, Miriam, Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Camara, Dom Helder, Spiral Kekerasan, Yogyakarta: Pusataka Pelajar, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaffar, Affan, Politik Indonesia: Transisi Menuju Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasyid, Ryaas, Makna Kepemerintahan: Ditinjau dari Segi Etika dan Kepemimpinan, Jakarta: P.T Mutiara Sumber Widya, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Smith, Martin, “Pluralism” dalam  David Marsh &amp; Gerry Stoker (ed.) Theory and &lt;br /&gt;Methodes in Political Science, London: Macmillan Press Ltd, 1995. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stanley (ed.) Konflik Etnik di Sambas, Jakarta: ISAI, 2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subakti, Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Gramedia, 1999.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-1951039248816753892?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/1951039248816753892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/negara-dan-kekerasan-sosial-studi-atas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1951039248816753892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/1951039248816753892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/negara-dan-kekerasan-sosial-studi-atas.html' title='NEGARA DAN KEKERASAN SOSIAL (Studi Atas Konflik Etnik di Kalimatan Barat)'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-4076404241054106472</id><published>2009-02-04T16:53:00.001+07:00</published><updated>2009-02-04T16:57:35.107+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Filsafat'/><title type='text'>Teori Hermeneutika Emilio Betti</title><content type='html'>P.R.O.L.O.G&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KAJIAN HERMENEUTIK sejak abad 19 (atau akhir abad 18) telah menemukan bentuknya yang baru dari wajah hermeneutika sebelumnya. Secara periodik hermeneutika dapat dibedakan dalam tiga fase; klasik, pertengahan, dan modern. Hermeneutika Klasik, lebih bercorak pada bentuk interpretasi teks dan ‘art of interpretation’. Dan istilah ini pertama kali muncul pada abad ke XVII. Tetapi hermeneutik dalam arti sebagai aktivitas penafsiran telah lahir jauh sebelumnya, usianya setua dengan eksegesis teks.  Hermeneutika pertengahan, dimulai pada, dianggap berasal dari, penafsiran terhadap Bible yang menggunakan empat level pemaknaan baik secara literal, allegoris, tropological (moral), dan eskatologis. Tetapi pada masa reformasi protestan, empat pemaknaan itu kemudian disempitkan pada eksegesis literal atau gramatical dan eksegesis studi tentang Yahudi dan Yunani.  Dan hermeneutika Modern, dapat dibedakan dalam beberapa fase dengan aliran-aliran yang mengikutinya.  Fase awal, mulai pada abad ke-19 dengan merujuk pada tokoh protestan ternama, Friedrich Schleiermacher (1768-1834) dan murid-muridnya termasuk Emilio Betti, dengan teori hermeneutiknya [hermeneutical theory]. Fase kedua, pada abad ke-20 dengan Martin Heidegger (1889-1976) sebagai tokohnya, termasuk di sini Hans-George Gadamer dengan aliran filsafat hermeneutik [philosophical hemeneutic], dan terakhir adalah Jürgen Habermas, dengan hermeneutik kritiknya [critical hermeneutics]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priodeisasi hermeneutik di atas, tidak hanya menjelaskan babakan-babakan sejarah hermeneutik tapi juga menggambarkan suatu kecenderungan bagi corak dan karakteristik yang menandai lahirnya hermeneutik. Istilah hermenutik berasal dari bahasa Yunani, dari kata kerja hermeneuein yang berarti menginterpretasi.  Istilah ini memiliki asosiasi etimologis dengan dewa Hermes dalam mitologi Yunani,  yang mempunyai tugas menyampaikan dan menjelaskan pesan-pesan Tuhan kepada manusia. Hermes diasosiasikan dengan fungsi mentransmusi apa di balik pemahaman manusia ke dalam suatu bentuk di mana tingkat intelejensia manusia dapat menangkap hal tersebut.  Nampak, bahwa dari asosiasi etimologis ini tugas hermeneutika adalah membuat pesan supaya dapat dipahami secara baik oleh audiens. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usaha mentransfer, menangkap dan memahami makna teks tersebut, apakah kemudian makna dapat ditangkap secara utuh (does interpretation can be fully understand) atau makna itu sebenarnya adalah hasil pertemuan cakrawala (pusion of horizon) dari kita sebagai interpretator terhadap teks ? itulah kira-kira perdebatan yang tak kunjung usai antara aliran yang menyebut dirinya objektif dan subjektif dalam hermeneutik, atau dalam bahasa Bleicher, antara aliran teori hermeneutik dan filsafat hermeneutik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tentu saja, makalah ini akan berupaya mengupas salah satu aliran dari hermenutik yaitu alirah teori hermeneutik dengan konstribusi Emilio Betti sebagai pijakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emilio Betti :&lt;br /&gt;Antara Teori Hermeneutika dan Perdebatan Ilmu-Ilmu Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum lahirnya hermeneutika sebagai sebuah ilmu yang secara umum menjadi bagian dari ilmu-ilmu budaya (Geisteswissenschaften), telah terjadi sebuah krisis epistemologis yang melandasi ilmu-ilmu sosial. Krisis ini bukan dimaksudkan berkurangnya pengetahuan, tapi lebih pada ‘penyempitan’ pengetahuan akibat reduksi-reduksi metodologis tertentu yang disertai dengan fragmentasi dan instrumentalisasi pengetahuan.  Seperti krisis pengetahuan yang terjadi sejak proses modernisasi di Barat meruntuhkan tatanan nilai masyarakat Abad Pertengahan, melalui Renaissance dan memuncak pada jaman Aufklarung dan akhirnya menemui batas-batasnya sejak permulaan abad ini. Sehingga suatu weltanchauung yang utuh tidak dapat ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu karakteristik yang menjadi paradigma masyarakat Abad Pertengahan adalah cara berpikirnya yang meyakini suatu tatanan dunia objektif yang berdiri lepas dari subjek yang berfikir. Cara berpikir masyarakat Abad Pertengahan ini dapat dicirikan dengan ‘penekanan pada kutub objek pengetahuan’  Penekanan pada objek ini, akhirnya, diruntuhkan oleh René Descartes. Semua makna dunia objektif tradisional dipertanyakan dan disangsikan secara metodis, sehingga sampailah Descartes pada keyakinan yang tak tergoyahkan dan bersifat pasti, yaitu de pense donc je suis (aku berpikir maka aku ada). Apa yang ditemukan oleh Descartes adalah peranan mutlak subjek dalam membentuk realitas, maka dalam sejarah epistemologis, filsuf ini telah menggerakkan pendulum dari kutup objek ke subjek. Adalah jasa Kant, yang tidak hanya meradikalkan penekanan Descartes atas subjek, melainkan juga memperlihatkan sebuah the conditions of  possibility dari pikiran manusia. Penemuan batas-batas pikiran ini mengungkapkan suatu keyakinan baru bahwa meneliti subjek adalah lebih mungkin daripada meneliti objek. Batas-batas kemampuan ini, oleh Kant dan filsuf setelahnya, ditemukan pada kenyataan indrawi yang terlihat dan terjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa Kant inilah, ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) mulai memasuki masa keemasannya dan epistemologi Kant, dalam Critique of Pure Reason, memperkokoh ilmu-ilmu alam secara filosofis sebagai salah satu bentuk pengetahuan yang mungkin tentang kenyataan.  Setelah Kant, muncullah Auguste Comte dengan positivismenya. Positivisme Comte ini tidak hanya melanjutkan tradisi penelitian subjek sebelumnya tapi telah juga menghancurkan epistemologi sendiri. Dengan epistemologi postitivis, pengetahuan indrawi tidak boleh melampaui fakta objektif.  Peranan subjek menjadi hanya didasarkan pada penyalinan fakta-fakta objektif. Dengan demikian dalam positivisme, pendulum epistemologis bergerak ke objek lagi, namun objek yang muncul dari kegiatan pengetahuan ini adalah objek indrawi (bukan objek spekulatif sebagaimana yang tampil dalam Abad Pertengahan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krisis pengetahuan ini tidak hanya mereduksi manusia dalam matra objektifnya, tetapi juga karena terjadi fragmentasi ilmu-ilmu, terjadu juga fragmentasi kenyataan yang pada gilirannya menyebabkan fragmentasi pandangan tentang manusia.  Akhirnya, sebagai solusi dari krisis ini adalam menghadirkan kembali konsep tentang dunia-kehidupan yang dapat memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada ilmu-ilmu sosial.  Dalam konteks ini, terjadi perdebatan dan tarik menarik antara berbagai metode (Methodenstreit). Termasuk di sini apa yang dilakukan oleh Dilthey dengan membedakan metode Verstehen dari ilmu-ilmu budaya (Geisteswissenschaften) dan Erklaren dari ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften). Apa yang dikakukan oleh Dilthey ini, sekali lagi, dalam rangka untuk mengatasi objektivisme dari positivisme yang secara berat sebelah melenyapkan peranan subjek dalam membentuk kenyataan sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam studi ilmu-ilmu budaya, dunia-kehidupan ini tidak dapat begitu saja didekati lewat observasi seperti yang terjadi dalam ilmu-ilmu alam, melainkan terutama melalui (Verstehen). Apa yang ingin ditemukan dalam dunia-sosial itu bukan terutama kausalitas yang niscaya, melainkan makna (Sinnverstehen). Oleh karena itu, seorang ilmuan sosial,  dengan cara tertentu ia harus masuk ke dalam dunia-kehidupan yang unsur-unsurnya ingin ia jelaskan. Untuk menjelaskan, ia harus memahaminya. Untuk memahami, ia harus dapat berpartisipasi ke dalam proses menghasilkan dunia kehidupan itu. Akhirnya, partisipasi itu mengandaikan bahwa ia sudah termasuk di dalam dunia kehidupan itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya menangkap objek, bahwa objek tidak hanya tampak dari luar seperti dalam ilmu-ilmu alam tapi juga dari dalam maka dalam sejarah hermeneutik tampil beberapa tokoh yang dirujukkan pada masa hermeneutika romantis yang dicetuskan oleh Schleiermacher dan Dilthey dengan menggunakan teori empati untuk menjelaskan bahwa objek dapat diketahui secara reproduktif. Menurut hermeneutika romantis ini, pembaca teks harus mampu berempati secara psikologis ke dalam isi teks dan pengarangnya; pembaca harus mampu ‘mengalami kembali’ pengalaman-pengalaman yang dialami pengarang dan yang termuat di dalam teks. Bagi Schleiermacher, sebuah teks yang kita hadapi tidak sama sekali asing bagi kita, juga tidak sepenuhnya biasa bagi kita. Keasingan suatu teks dapat diatasi dengan mencoba memahami si pengarang. Kita harus mencoba membuat rekonstruksi imajinatif atas situasi jaman dan kondisi batin pengarannya dan berempati dengannya.  Dengan kata lain, kita harus mencoba membuat penafsiran psikologis atas teks itu sehingga dapat mereproduksi pengalaman pengarang. Gagasan Schleiermacher ini kemudian dikembangkan oleh Wilhelm Dilthey (1833-1911). Sambil mengatasi psikologisme Schleiermaacher, ia berpendapat bahwa peristiwa-peristiwa yang termuat dalam teks-teks kuno itu harus dipahami sebagai suatu ekpresi kehidupan sejarah, maka yang direproduksi bukanlah keadaan-keadaan psikis pengarang, melainkan makna peristiwa-peristiwa sejarah itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Schleiermacher dan Dilthey dalam tradisi hermeneutik adalah empu awal bagi lahirnya suatu hermenetika teoritis bagi ilmu-ilmu budaya. Gagasan mereka ini kemudian diteruskan oleh Emilio Betti yang juga satu mazhab di bawah payung ‘teori hermeneutika’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa Betti ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emilio Betti adalah seorang theolog modernis dan Sejarawan hukum yang lahir di Italia pada tahun 1890-1968. Karya-karyanya seperti Die Hermeneutik als allgemeine Methodik der Geisteswissenschaften, Zur Grundlegung einer allgemeinen Auslegungslehre [sebuah manifesto hermenentiknya], dan Teoria generale della interpretazione. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya Betti ke pentas ke-hermeneutik-an adalah debat terbukanya dengan beberapa tokoh hermeneutik yang lain seperti Gadamer, Bultmann dan Ebeling.  Sementara Betti berupaya mengusung bagaimana menempatkan sebuah pengalaman manusia secara objektif, dengan menyediakan sebuah teori umum penafsiran terhadapnya, yang didasarkan pada asumsi bahwa otonomi objek interpretasi dan mungkinnya objektivitas historis dalam membuat suatu interpretasi yang valid. Di sisi yang lain, Gadamer terutama, membawa persoalan hermeneutika dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lebih filosofis tentang hakekat memahami itu sendiri. Bagi Gadamer, berbicara tentang ‘interpretasi objektif’  yang valid adalah sesuatu yang naif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam merespon kritikan Gadamer, Betti kemudian meluncurkan sebuah boklet (buku kecil) yang diberinya judul Die Hermeneutik als allgemeine Methodik der Geisteswissenschaften, dalam boklet ini Betti mengajukan dua kritik terhadap Gadamer; pertama, bahwa Gadamer tidak menyajikan sebuah metodologi atau rencana metodologi untuk human studies. Kedua, apa yang dilakukan oleh Gadamer membahayakan legitimasi yang menunjuk pada status objektif dari objek-objek interpretasi dan kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan objektivitas interpretasi itu sendiri. Dengan kata-kata yang agak mengeluh Betti mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutics as the general problematic of interpretation, that great general discipline with welled up so nobly in the Romantic period as the comman concern of all the human disciplines, which commanded the attention of many great minds of the 19th century ―like Humboldt in philosophy of language, August Wilhelm von Schlegel, the great literary historian, Bockh, the philologist and encyclopedist, Savigny, the jurist, and historians like Niebuhr, Ranke, and Droysen― this venerable older form of hermeneutics appears to be fading out of modern German consciousness. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang sejarawan hukum, ketertarikan Betti terhadap hermeneutik tidak lahir dari keinginan filosofis untuk mengungkap kebenaran sebuah karya seni (Gadamer), atau keinginan untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang kodrat yang ada (Heidegger), atau sebuah tekanan untuk menyelamatkan makna ‘ayat’ Bibel (Bultmann dan Ebeling). Betti hanya bermaksud untuk membedakan antara cara atau model beragam interpretasi dalam disiplin manusia dan untuk merumuskan kerangka fondasional dari prinsip-prinsip yang dapat menafsirkan prilaku dan maksud manusia.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hermeneutika Sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Auslegung&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hermeutika, bagi Betti, adalah sebagai Auslegung, yaitu bagaimana mendapatkan sebuah bentuk penafsiran yang valid dan objektif  bukan Deutung dan spekularive Deutung.  Hermeneutik yang dibangun ini, seperti keyakinan Betti, adalah sebagai an intellectual discipline and educational training which is fundamental for life. Keyakinan itu, karena seringkali terjadi ketika kita mencoba menafsir sebuah teks yang ada distansi baik historis maupun kultural, dan kemudian kita ingin mengetahui apa dan seberapa dalam makna yang dikandung oleh kedalaman teks itu, apa yang mereka (pengarang) katakan. Dan apa yang melatarbelakangi lahirnya ide itu? Tentu, persoalan-persoalan ini membutuhkan sebuah rekonstruksi imajenatif yang dengan simpati dan wawasan, akan dibutuhkan bagi pemahaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mencapai sebuah interpretasi yang objektif ini, seperti yang dinyatakan dalam Die Hermeneutik als allgemeine Methodik der Geisteswissenschaften (1962), Betti menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah mengklarifikasi perbedaan esensial antara Auslegung (penafsiran) dan Sinngebung (peran penafsir dalam penyerahan makna terhadap objek). Karenanya, penafsiran terhadap objek, bagi Betti, merupakan sebuah objektivikasi dari semangat manusia (Geist) yang diekpresikan dalam bentuk pikiran yang sehat. Interpretasi, kemudian, membutuhkan pengakuan dan rekonstruksi makna yang pengarang itu sendiri telah memasukkannya. Dengan kata lain, bahwa seorang penafsir harus melakukan ziarah  ke dalam subjektivitas asing dan dengan melalui suatu inversi proses kreatif, kembali lagi pada ide atau interpretasi yang telah dimasukkan ke dalam objek.  Kemudian Betti melanjutkan bahwa berbicara tentang objektivitas yang tidak melibatkan subjektivitas dari penafsir merupakan suatu yang absurd. Namun subjektivitas sang penafsir harus menembus dari keasingan dan ketidakjelasan objek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betti kemudian menawarkan 4 ‘momen’ dalam proses hermeneutika yang akan memfasilitasi pemahaman, pertama, penafsir melakukan investigasi fenomena linguistik dari pembicaraan atau teks. Kedua, di dalam mengkritik ‘momen’, penafsir harus menghidari dari kepentingan sosial, ideologi, komitmen, atau sumber-sumber yang intoleran yang bisa menghalangi pemahaman. Ketiga, seperti Schleiermacher dan khususnya Dilthey, Betti juga menyarankan penafsir untuk menempatkan dirinya dalam posisi seseorang untuk dipahami, dengan menggunakan imajenasi dan wawasan. Keempat, melakukan rekontruksi untuk memasukkan situasi dan kondisi untuk memperoleh hasil yang ingin dicapai baik berupa ungkapan (dari percakapan) atau teks.  Seperti yang dikatakan Betti bahwa meskipun konsepnya banyak terkait dengan persoalan ‘retrospeksi’ atau ‘genetik’, ia juga memerlukan elemen ‘prospektif’ dan ‘evolusioner’.  Prasyarat-prasyarat ini merupakan suatu yang harus dilakukan dan pemahaman terhadapnya merupakan suatu yang terus menerus, on going process, dengan selalu membuka pandangan dan sikap yang jumawa dalam mengoreksi dan memperbaikinya. &lt;br /&gt;Menanggapi teori hermeneutik yang diajukan oleh Betti di atas, bahwa pemahaman terhadap teks ―baik dalam pengertiannya yang luas [alam semesta] atau dalam arti yang sempit [teks itu sendiri]― dapat diberikan suatu penafsiran yang objektif dengan melakukan prosedur-presedur seperti yang ia kemukakan di atas yang pada akhinya bagaimana seoarang penafsir mampu berbuat seperti apa yang telah dilakukan oleh pengarang teks itu sendiri atau malah melampauinya. Dengan memposisikan pengarang dan teks itu dalam wilayah partikular-historisnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana misalnya jika teks itu berupa teks suci seperti al Qur’an? Bisakah kita menerapkan suatu mekanisme prosedural yang sama? Apakah pengarang ―dalam hal ini Tuhan atau Muhammad―  dapat ditempatkan dalam sebuah situasi dan kondisi historis yang seruang? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah suatu refleksi imajenatif yang wajar dan sah-sah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pemikiran yang merespon secara positif terhadap hermeneutika objektif dan kaitannya juga dengan perdebatan yang keras terhadap hermeneutika Subjektif, seorang pemikir Islam, Fazlur Rahman memberikan beberapa catatan dalam bukunya Islam and Modernity, Transformation of an Intellectual Tradition (1982).  Bagi Rahman penafsiran yang objektif dapat juga dilakukan dalam wilayah teks keagamaan, dan memang demikian yang diharapkan, bahwa dalam tradisi Islam antara teks dan konteks tidak bisa dipisahkan. Teks menemukan maknanya dalam konteks.  Hal ini dikenal sebagai konsep asbabu al Nuzul, suatu konsep penelaahan latar belakang historis terhadap ayat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep yang ditawarkan Rahman adalah double movement (gerak ganda). Yaitu melakukan ziarah pemahaman terhadap lahirnya teks di masa lampau dengan memahami betul kondisi saat itu, kemudian dibawa kembali ke masa sekarang.   Konsep Rahman ini telah membuka suatu studi yang serius terhadap al Qur’an bahwa bagi Rahman al Qur’an hanya sepersepuluhnya saja yang nampak kepermukaan sedangkan sisanya masih tenggelam di dalam permukaan sejarah. Konsep ini terkenal dengan ‘teori puncak gunung es yang terapung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meneruskan konsepnya Rahman, dengan demikian harus ada suatu penilaian terhadap al Qur’an. Bagaimana kita (terutama terhadap teks al Qur’an) bersikap dan memperlakukannya. Penilaian ini dilakukan untuk mengungkap apa yang masih di bawah permukaan sejarah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E P I L O G&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah renungan, gagasan Emilio Betti dengan teori hermeneutikanya, tentu saja, telah memberikan suatu ruang yang pro dan kontra bagi siapapun. Baik bagi mereka yang tidak menyakini suatu interpretasi objektif terhadap pemahaman ataupun bagi mereka yang menganggap ini sia-sia belaka. Terlepas dari itu semua, seperti yang juga dinyatakan oleh Betti terhadap Gadamer di atas, bahwa apa yang dilakukan olehnya hanyalah membuat sebuah ‘teori  pemahaman’ terhadap ilmu-ilmu budaya, bukan ekplorasi filosofis yang kemudian menegasikan unsur objektivitas. Sungguh arif kiranya kalau kita kemudian memberikan penilaian dalam konteks yang sama dengan Betti. Memahami Betti dalam emosi dan kekuatan historisnya. Memahami teori dia sebagai sebuah ‘teks’ dan Betti sebagai seorang ‘pengarang’ dalam suatu parsialitas—historis. Di sisi yang lain, apa yang telah Betti lakukan ini telah menghilangkan suatu dimensi lain dari sebuah pengalaman manuisa yaitu; bahwa pengalaman tidak hanya merupakan ide-ide, intensi atau perasaan manusia tapi juga ia merupakan manifestasi impiris dari kultur yang bersifat unik dan partikular. Jadi di sini kelihatan sekali rasa historisisme dalam diri Betti sangat kuat, dan menjadi karakter aliran romantisisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5848845348480098987-4076404241054106472?l=memancar.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://memancar.blogspot.com/feeds/4076404241054106472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/teori-hermeneutika-emilio-betti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4076404241054106472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5848845348480098987/posts/default/4076404241054106472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://memancar.blogspot.com/2009/02/teori-hermeneutika-emilio-betti.html' title='Teori Hermeneutika Emilio Betti'/><author><name>daman</name><uri>http://www.blogger.com/profile/01605679052025027560</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_LyoEBGtb6jY/TNpnGxXbKRI/AAAAAAAAADc/Y5eu6CC5G8k/S220/DSC_0127.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5848845348480098987.post-2883072322658211764</id><published>2009-02-04T16:46:00.001+07:00</published><updated>2009-02-04T16:53:23.108+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budaya'/><title type='text'>Perspektif Modernisme dan Posmodernisme atas Benturan-benturan Peradaban: Mencari Identitas Islam dalam Pergulatan Global</title><content type='html'>PREPACE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RISET PAPER ini diinspirasikan oleh dua karya penting pemikir Islam yaitu; Fazlur Rahman dengan bukunya Islam &amp; Modernity: Tranformation of an Intellectual Tradition (1984) dan buku Akbar S. Ahmed Postmodernism and Islam; Predicament and Promise yang selain berbicara tentang Islam dan peradaban Barat juga mengungkap tentang bagaimana memahami (understanding) jaman ini sekaligus memberikan respon terhadapnya. Dalam diskusi-diskusi kelas yang telah kita lakukan, saya melihat bahwa satu persoalan penting yang segera mendapat perhatian adalah bagaimana menciptakan suatu kondisi yang exotopis —meminjam istilah Bakhtin— antara dua peradaban besar; Islam dan Barat. Exotopi adalah suatu dialog bukan sintesis ataupun dialektika yang akan memberikan kita cara pandang (the way of thought) untuk melihat diri kita dan teks (realitas) yang membentang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benturan ini tak dapat dihindari. Persepsi ini muncul karena sejarah diciptakan tidak hanya sekedar menuturkan fakta-fakta atau data-data historis, tapi juga fakta ataupun data itu telah dikontruks oleh sejenis ‘kekuasaan’ (power) tertentu untuk memapankan peradaban dengan atas nama ‘modernitas yang tercerahkan’. Terdapat konsep universalitas, idealitas, materialisme, rasionalisme ataupun juga positivisme yang memback upnya. Dunia seakan menjadi suatu yang ‘kaku’ tanpa melihat unsur ‘keunikan’ dan progresivitasnya. Tepatnya Peradaban telah mereka definisikan sebagai Gestalt. Jika demikian, maka bagaimana seharusnya kita melihat dunia saat ini? Bagaimana Islam (bada: Peradabannya) harus kita definisikan ditengah pertarungannya dengan peradaban yang lain? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memahami posisi ini, maka persoalan ‘identitas’, ‘peradaban’, ‘barat’, ‘Islam’ dan lainnya akan sedikit terbuka, bahwa kita sekarang ini sebenarnya hidup dalam suatu perubahan yang besar dan simultan. Maka, dalam kata-kata Edward Said, “No one today is purely one thing”. Tak seorangpun dewasa ini yang hanya satu ikhwal. Setiap subyek mengandung dalam dirinya perbagai macam ambiguitas, termasuk kita, dan Islam yang kita bangga-bangakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambiguitas subyek ini merupakan kondisi logis dari penerimaan kita terhadap perkembangan jaman dengan segala kemajuannya. Apa yang telah terjadi dengan modernitas ataupun juga posmodernitas adalah narasi yang menjerembabkan kita pada kondisi di mana kita tidak lagi berpikir tentang siapa kita dan siapa mereka. Tapi bagaimana ‘kita’ dan ‘mereka’ ini saling berbuat yang terbaik untuk menjalin kelangsungan hidup ke depan tanpa menghakimi the other dengan ukuran-ukuran universalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTRODUCTION&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang terjerat dalam sejarah dan sejarah terjerat dalam diri mereka&lt;/span&gt; –James Balwin, Notes of a Native Son.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban, adalah sebuah agregat besar yang tanpa kita sadari betul, kita terima begitu saja seperti kita menerima lanskap kota yang terhampar di luar jendela. Ia seakan-akan sebuah kehadiran yang utuh, yang dengan jelas dapat dipetakan oleh bahasa. Ia seakan-akan sesuatu yang berdaulat, sesuatu yang artinya dapat dirumuskan kini dan untuk seterusnya, dan dengan demikian senantiasa dapat diketahui, dapat dikenali. Kemudian peradaban dikatakan ‘bermula ketika khaos dan ketidakpastian berakhir’.  Dengan kata lain, peradaban mengimplikasikan adanya suat tata sosial.&lt;br /&gt;Kita bisa saja tidak menyetujui perumusan yang seperti itu, tetapi bagaimanapun juga, jika kita berbicara tentang peradaban, kita agaknya berbicara bukan saja suatu proses, tetapi juga suatu proses yang teleologis, suatu perkembangan yang mempunyai arah tertentu, bahkan agaknya juga mempunyai suatu tujuan, suatu norma: ‘Peradaban adalah suatu nilai, suatu ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian peradaban mengasumsikan adanya suatu konsensus tentang nilai, khususnya tentang apa yang disebut ‘beradab’ dan ‘tidak beradab’. Konsensus semacam ini memerlukan suatu asal, atau suatu pusat —atau konsensus itu sendiri kemudian membentuk suatu asal, atau suatu pusat— sehingga proses ke arah ‘beradab’ bisa berlangsung. Di situlah peran sebuah tata sosial menjadi penting: suatu pelembagaan kesepakatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira dalam konteks di ataslah kita mencoba merumuskan suatu ‘peradaban Islam’ yang akhirnya akan mempertegas identas dirinya, jati dirinya. Karena seperti dalam kata-kata Harootunian: “di ulu hati sejarah, ‘identitas’ adalah yang berkuasa, untuk meyakinkan bahwa suatu kebudayaan tunggal telah memungkinkan sekelompok orang tertentu mengambil posisi sebagai subyek yang menyebut diri sebagai ‘kami’ kolektif.  Dengan demikian, Bagaimana kita mensikapi hal tersebut ketika kita korelasikan dengan modernitas dan postmodernitas? Dan bagaimana kita melihat benturan-benturan itu bagi masa depan Islam? Apakah kita akan semakin tersingkir atau identitas itu sebenarnya adalah salah satu bentuk ‘kepalsuan’ dan ‘kemunafikan’ untuk mengatakan bahwa diri ini yang paling sempurna dan karenanya kita absah melakukan apa saja demi ‘kebenaran’ yang kita yakini itu meski akhirnya banyak menumpahkan darah kemanusiaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM DAN MODERNITAS: &lt;br /&gt;Respon Rahman Terhadap Modernisme Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal penting yang tak dapat dilupakan dalam sejarah Islam adalah pada masa abad ke-18 atau ke-19. Abad ini ditandai dengan suatu progresivitas pemikiran yang sangat berpengaruh pada periode-periode selanjutnya. Abad ini, kalau menggunakan tipologi sejarahnya Harun Nasution adalah periode modern.   Suatu periode kebangkitan Islam. Pada periode inilah suatu usaha untuk mengembalikan kejayaan Islam diupayakan, mulai dengan proyek pemurnian, (purefication), pembaharuan kembali (renew) dan reformulasi (reformulation). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu agenda yang ingin dibangun adalah bagaimana membangun citra Islam ketika berhadapan dengan Barat (baca: modernitas). Atau apa yang dapat dilakukan oleh Islam dalam menata kembali persoalan rumah tangganya yang sedang statis. Benturan ini jelas tak bisa dihindari, alternatif yang harus dipilih adalah ortodoksi, westernisasi ataupun modernisasi. Pilihan-pilihan ini membutuhkan suatu sikap yang jumawa dengan konsekwensi-konssekwensi yang mengikutinya. Tentu persoalan ini sangat rumit, complicated, dan menarik. Terutama respon-respon yang diberikan oleh para pembaharu seperti Sayyid Ahmad Khan, Jamaluddin, Muhammad Abduh dan lainnya. Yang menarik adalah para pembaharu itu mempunyai visi dan misi yang tidak jauh berbeda dalam memberikan alternatif solusi bagi dunia Islam yang ketika itu dilanda kemacetan dan kemunduran. Yaitu menerima Barat dengan segala akibatnya dengan menginterpretasi kembali ajaran Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari persoalan ini Fazlur Rahman   seorang neo-modernis asal Pakistan menawarkan beberapa bentuk kontribusi yang penting, yaitu suatu reformasi kesadaran intelektual melalui sistem pendidikan. Dalam bukunya Islam &amp; Modernity: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Transformation of an Intellectual Tradition, Rahman menjelaskan tentang rumusan-rumusan metodologis yang dapat digunakan sebagai pendekatan alternatif dalam memahami pemikiran keislaman. Krisis metodologis yang melanda umat Islam tampaknya disadari oleh Rahman sebagai penyebab kemunduran pemikiran Islam. Karenanya alternatif metodologis dipandang oleh Rahman sebagai titik nadir penyelesaian krisis intelektualisme Islam. Rahman menyadari bahwa proyek ini memerlukan waktu yang panjang dan sarana penunjang.  Sarana penunjang yang dimaksud oleh Rahman adalah tiada lain sistem pendidikan Islam itu sendiri, aspek ini menurut Rahman harus terlebih dahulu dimodernisasi, yakni dengan membuatnya mampu menyokong produktivitas intelektual Islam dengan menaikkan standar-standar intelektualnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konstribusi Rahman ini, setidaknya mendiskripsikan bagaimana respon umat Islam ketika berhadapan dengan modernitas. Respon ini selanjutnya berimplikasi pada pencarian jati diri di tengah-tengah proses transformasi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan Islam dan modernitas (baca: barat) menyisakan agenda besar akan beberapa persoalan penting yang berkaitan dengan tradisi keilmuan, corak keberagamaan dan sistem pendidikan yang diambil. Persoalan-persoalan ini dikupas oleh Rahman dalam bahasa yang sederhana, tajam, dan mengena. Dengan mengemukakan data-data historis yang akurat, Rahman mencermati bahwa telah terjadi transformasi besar-besaran dalam tradisi keilmuan Islam ketika ia berhadapan dengan modernitas. Kemandekan dan kegagapan pemikiran karena kondisi kultural-intelektual yang diwariskan oleh abad pertengahan telah membuat umat Islam berjalan ditempat. Kondisi ini menjadi suatu peristiwa yang oleh Rahman disebut masa-masa romantisme dimana literatur-literatur yang ada hanya merupakan komentar-komentar ulang ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;commentary&lt;/span&gt;’ (syarh), atau ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;commentary on commentary&lt;/span&gt;’ (hãsyiyah) dari ulama sebelumnya. Situasi ini mengindikasikan tiadanya dinamisasi dalam tradisi pemikiran keilmuan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;taken for granted&lt;/span&gt;).  Buku dan literatur seperti inilah yang banyak dipakai oleh madrasah-madrasarah waktu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem pendidikan yang masih menggunakan kurikulum atau silabi tradisional ini menjadi problematis ketika berbenturan dengan modernitas Barat dengan segala tuntutannya. Banyak negara-negara seperti disebut di atas mengalami ambivalensi apakah tetep mempertahankan atau menerimanya. Apakah sistem pendidikan akan mengambil model Barat seutuhnya atau bagian-bagian tertentu saja. Rahman mencatat ada dua pertimbangan dalam penerimaan ini; (1) terbatas pada teknologi praktisnya, tidak pada pemikiran murni, (2) menerima baik terhadap teknologinya dan sekaligus intelektualnya.   Dalam menjawab persoalan ini, lahirlah para pemikiran sekaligus pembaharu Islam seperti; Sayyid Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali dari India, Jamaluddin al Afgani, Namik Kemal dari Turki dan Muhammad Abduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemikir ini hidup dalam rentang waktu yang sama, meski mereka tak pernah bertemu (kecuali al Afgani sama Abduh) terdapat gagasan yang tidak jauh beda mengenai penerimaannya terhadap sains dan penanaman semangat ilmiah Barat, yaitu; (1) Sains dan semangat ilmiah adalah tuntutan al Qur’an untuk mengkaji alam semesta, (2) karena semangat penyelidikan ilmiah tidak digalakkan maka terjadi kemacetan dan kemerosotan, (3) Apa yang dilakukan oleh Barat dengan semangat ilmiahnya merupakan semangat yang dipinjam dari tradisi Islam, sehingga mereka dapat menjajah negeri-negeri muslim, dan (4) dengan mengembangkan tradisi ilmiah ini, berarti kaum muslim telah menemukan kembali perintah al Qur’an yang terabaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumentasi yang diberikan oleh para pembaharu Islam ini membawa angin segar bagi terciptanya suatu kondisi psikologis-intelektual yang kontruktif. Dan lahirnya reformulasi sistem pendidikan yang bersifat modern dan pada waktu sama juga dijiwai oleh nilai-nilai Islam.  Sebagai follow upnya muncul pembaharuan pada sistem sekolah dasar dan perguruan tinggi. Dua lembaga ini dipenuhi dengan kurikulum yang padat dengan sains, seperti matematika, kimia, astronomi, kedokteran, filsafat dan sebagainya.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masuknya ilmu pengetahuan sekular ini tentu mempunyai akibat-akibat yang berdampak pada keimanan dan tradisi keilmuan. Sistem pendidikan lama yang orientasinya mempertahankan dan cenderung pada pemahaman ilmu agama an sich sementara sistem pendidikan baru lebih pada elaborasi ilmu agama dan ilmu umum, bahkan cenderung menghilangkan elemen agamanya.  Kata Rahman, dua tipe pendidikan itu keduanya sama-sama menderita kerugian karena tidak adanya integrasi timbal balik, tetapi yang lebih besar menerima kerugian itu adalah sistem pendidikan baru. Sikap Rahman ini sebenarnya menggambarkan suatu sikap intelektualnya dalam menyikapi persoalan Barat dan modernismenya itu. seperti yang nampak dalam proyek neo-modernismenya Islam yang ingin menutupi kelemahan-kelemahan pada tradisionalisme dan modernisme dengan mengembangkan suatu metodologi sistematis dan rekonstruksi Islam secara total dan tuntas serta setia pada akar-akar spiritualnya dan dapat menjawab kebutuhan-kebutuhan Islam modern secara cerdas dan bertanggungjawab.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha-usaha Rahman di atas adalah sebuah upaya membangun kesadaran bagaimana melihat diri (jati diri) umat Islam yang kian terpuruk dan gagap ketika berhadapan dengan Barat. Sehingga suatu systematic recontruction terhadap bangunan epistemologi keilmuan Islam tak dapat ditawar-tawar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM DAN POSMODERNITAS: &lt;br /&gt;Sebuah Usaha Mempertegas Jati Diri Islam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ala&lt;/span&gt; Akbar S. Ahmed&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmed melihat bahwa saat ini kita sedang memasuki fase khusus sejarah manusia, fase setelah modernisme, sehingga secara tentatif disebut ‘posmodernisme’, yang bagaimanapun juga tidak sepenuhnya terpisah dari periode sebelumnya. Posmodernisme  dengan demikian merupakan suatu proyek selanjutnya, dengan harapan dapat menciptakan suatu tata dunia baru yang lebih baik. Karena itu, posmodernisme diyakini sebagai solusi yang dapat memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan yang tak terselesaikan dari agenda modernisme. Ironisnya ‘era baru‘ ini penuh dengan ambiguitas; keimanan berhadapan dengan skeptisisme, tradisi dengan ikonoklasme, kemurnian dengan eklektisisme, persis seperti yang dikatakan oleh McEwan dalam acara The Late Show (TV BBC2, 7 Pebruari 1990) bahwa ‘kita hidup bukan di dunia yang memiliki citra jelas’, ia ‘meragukan terhadap meta-naratif’ , ‘membingungkan dan menyulitkan’.  Itulah ciri yang menandai era posmodernisme itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Ahmed, Jaman pascamodern pada tingkat sosiologis, ditandai oleh sejumlah ciri-ciri pokok, diantaranya : mempertanyakan, atau bahkan hilang kepercayaan pada proyek modernitas; bersemangat pluralisme; rasa skeptis yang meningkat terhadap ortodoksi-ortodoksi tradisional; menolak dunia sebagai totalitas yang universal, dan menolak kemungkinan bagi pemecahan akhir dan jawaban-jawaban tuntas atas persoalan-persoalan yang dihadapi umat manusia dan dunia .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pasca-modernisme sebagai suatu pemikiran di Barat dan bahkan mulai hilang kepercayaan pada proyek modernitas, maka bagi Islam pasca-modernisme juga berarti menggugat proyek modernisme Islam. Proyek modernisme Islam itu pada dasarnya keinginan untuk sejalan dengan atau bahkan mengambil unsur-unsur peradaban modern (Barat). Apa yang dilakukan adalah sintesis dan mencari harmoni antara peradaban Islam dan Barat. Contoh klasik yang menonjol dari proyek modernisme di dunia Islam adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh para modernitas seperti Syed Ahmad Khan, Muhammad Abduh, Ataturk, dan banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Ahmed, terma ‘modern’ diterjemahkan oleh para pemimpin muslim sebagai pendorong untuk mendapat pendidikan, tekhnologi dan industri Barat. Dan itu biasanya tidak dapat dipisahkan dari proyek modernisasi yang dilakukan pemerintah. Dan negara-negara muslim yang elite politiknya menoleh ke Uni  Soviet, maka modernisme juga mengandung di dalamnya sosialisme. Modernisme karena upaya-upaya politik untuk mendorong kaum muslim sejalan dengan semangat kapitalisme dan sosialisme. Modernisme itu merupakan upaya-upaya politik untuk mendorong sejalan dengan semangat kapitalisme dan juga sosialisme. Setelah kemerdekaan, di bawah Ayub Khan, Pakistan banyak bekerjasama dengan Amerika, dengan penasehat-penasehat ekonomi dari Harvard, untuk menerjemahkan modernitas bagi kaum muslim. Sementara modernitas versi Uni Soviet banyak diterjemahkan di sejumlah negara-negara muslim yang condong pada sosialisme. Misalnya pada zaman Gamel Abdul Nasser di Mesir, dan zaman Soekarno di Indonesia. Karena dalam prakteknya pemerintah yang merupakan agen utama dari proyek modernitas di negeri-negeri muslim. Dalam hubungannya dengan Islam, kata Ahmed, yang menjadi isu sentral bagi para modernis dan pemerintah-pemerintah modernis muslim adalah mensubordinasikan keyakinan keagamaan pada pemikiran modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi proyek modernitas di negeri-negeri muslim tersebut dipandang telah menimbulkan penyimpangan-penyimpangan. “Periode modern”, kata Ahmed, “telah  mendorong kaum muslim pada cul-de-sac”. Ini merupakan keadaan yang ditandai dalam dunia politik dengan munculnya diktator-diktator, korupsi, dan nepotisme; standar pendidikan yang rendah, kemandulan intelektual, penindasan atas kaum perempuan yang tetap berlangsung, dan ketimpangan pendapatan. Proyek modernitas di negeri-negeri muslim nampaknya tidak sebaik yang dijalankan di negeri-negeri asalnya, Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ muncul pertanyaan dikalangan kaum muslim, apakah Tuhan telah meninggalkan mereka. Tapi kaum muslim yang lain membalik pertanyaan itu, apakah Tuhan kaum muslim telah berpaling dari Tuhan. Yang terakhir ini, menurut Ahmed, banyak mewarnai kaum muslim di zaman pasca-modern ini. Maka pasca-modernisme masyarakat muslim dapat berarti perubahan atau pergeseran ke identitas etnis dan Islam sebagai lawan dari identitas asing yang diimpor atau identitas Barat. Ini suatu bentuk penolakan atas modernitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situlah zaman pasca-modern muslim dimulai, dan bagi Ahmed itu adalah kebangkitan Islam, yang oleh pengamat Barat sering disebut sebagai “fundamentalisme Islam”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MODERNITAS, POSMO, DAN PERADABAN YANG SALING BERBENTURAN:&lt;br /&gt;Di Manakah Identitas Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, Samuel P. Huntington, profesor ilmu Pemerintahan dan direktur Institute John M. Ulin untuk Studi-Studi Strategis Universitas Harvard (AS), membuat suatu pemetaan percaturan politik global dengan terjadinya sebuah ‘benturan peradaban besar’ yang menggantikan paradigma konflik nation state dan perang ideologi. Selanjutnya, Huntington memperkirakan bahwa di masa yang akan datang tidak ada lagi ‘peradaban universal’ yang ada adalah peradaban-peradaban dunia yang berbeda-beda yang menuntut masing-masing peradaban itu untuk belajar hidup berdampingan. Ada sekitar delapan beradapan besar yang dianggap penting oleh Huntington; Islam, Konfusius, Kristen Ortodoks-Slavia, Hindu, Buddha, Afrika, dan Amerika Latin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban-peradaban besar itu, terutama Islam dan Konfusius, tentu merupakan ‘musuh’ yang tangguh bagi Barat. Oleh karena itu kemunculan peradaban-keperadaban itu harus ditangani secara serius oleh Barat. Karena Barat sampai saat ini tak mau melepaskan hegemoni dan cengramannya terhadap peradaban yang lain. Apa yang menjadi proyek postmodernisme adalah upaya menggagalkan ambisi Barat itu karena postmodernisme menolak terhadap meta-naratif dari modernisme. Seperti yang dilontarkan oleh Anthony Giddens tentang modernisme: “Apakah modernitas sebuah proyek Barat?” dan ia menjawab “ya”.  Karena proyek modernisme inilah maka Habermas, sebagai corong dari modernisme, mengatakan bahwa posmodernitas adalah proyek yang belum selesai dari modernitas (uncomplete project)  Perdebatan secara teoritis dari modernitas dan postmodernisme berlangsung alot dan mengkontraskan secara hitam dan putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari perdebatan itu, satu kenyataan menarik dari fenomena ini adalah bahwa Sejarah yang telah kita warisi ini, adalah sejarah yang dominatif dan hegemonik. Seperti yang dikatakan oleh Harootunian yang mengutip Emmanuel Levinas, bahwa sejarah adalah ‘pembutaan terhadap yang lain’. Konsepsi ini mengimplementasikan suatu korespondensi ‘same’ dan ‘other’ yang berusaha menyingkirkan kelainan pada yang lain yang tidak sefaham atau satu ideologis dengannya. Apa yang dilakukan oleh ‘Barat’ terhadap ‘Timur’ persis seperti logika ini. Dan ‘Timur’ adalah ‘sesuatu yang lain’ bagi Barat. Barat di sini meminjam kata-kata James Baldwin, adalah ‘masa-silam-masa-kini-masa-depan sebuah ras, dan akan menjadi masa depan bagi ras atau penghuni dunia yang lain. Barat adalah sesuatu yang dengan demikian berarti menang, menaklukan, menenggelamkan, merasuk. Inilah suatu kenyataan yang diyakini sampai saat ini. Namun bersamaan dengan sejarah ‘sebagai pembutaan terhadap yang lain’ ini muncul fenomena-fenomena lain yang patut kita cermati; Munculnya tulisan Edward Said tentang Orientalisme yang mengungkapkan cara pandang Barat terhadap Timur (oriental) yang penuh dengan muatan ideologis, politis dan dependen. Dengan tulisan itu, Said telah mampu menunjukkan suatu cacat formal dari orientalisme: yakni memasang ke dalam Islam suatu sifat yang tunggal, dan mengatasi sejarah, dan dengan demikian menampilkan suatu esensi yang tak berubah dan tanpa konteks apapun. Said menunjukkan bahwa seraya seorang orientalis seperti von Grunebaum membawa praanggapan bahwa Islam adalah suatu fenomena kesatuan (a unitary phenomenon), karenanya Islam digambarkan sebagai ‘antimanusiawi’, tak mampu untuk berkembang, mengenali-diri dan menjadi objektif.  Said kemudian, memuji karya Clifford Geertz, Islam Observed, karena Geertz tidak melihat Islam sebagai suatu fenomena yang tunggal, transhistoris dan selamanya terpaku pada teks al Qur’an. Geertz berbicara dalam bentuk naratif, gambaran tentang Sunan Kalijaga dari Indonesia dan Sidi Lahsen Lyusi dari Maroko. Dengan kata lain, ‘Islam’ atau ‘Timur’ yang dipaparkanoleh Geertz bukanlah ‘Islam’ yang dalam kenyataan tidak pernah ada, dan hanya ada sebagai suatu Gestalt yang merupakan hasil konstruksi kaum Orientalis sendiri. Atas dasar ini, Said sebenarnya ingin mengatakan, bahwa ‘Islam’ yang dikontruksikan oleh kaum Orientalis adalah ‘Islam’ yang sudah dikuasai, dikerangkeng dan ditaklukan dalam kategori-kategori pengetahuan (yang pada hakekatnya adalah juga kekuasaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada titik inilah saya tidak tahu bagaimana ‘Islam’ atau ‘Barat’, ‘sejarah’ dan ‘peradaban’ muncul dalam kesadaran sebagai sebuah Gestalt: dan saya kira pada awalnya adalah suatu ‘impuls’ atau dorongan kognitif yang senantiasa mencoba mengidentifikasikan atau menangkap identitas, mencoba memperoleh kesan atau rumusan tentang kesamaan dari fenomena yang berbeda-beda. Pada saat kita mencoba mengacu kepada suatu ‘identitas’, sesungguhnya pada saat itu pula kita memilih untuk memunculkan hal-hal yang tak sesuai, yang lain —dan dengan demikian nampaklah suatu ‘keseluruhan’ yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana datangnya ‘impuls’ atau dorongan kognitif yang mengarah ke arah ‘identitas’ seperti itu, merupakan suatu persoalan tersendiri. Banyak dikatakan bahwa ia merupakan salah satu ciri hakiki pemikiran seperti yang ditunjukkan dalam filsafat ‘Barat’. Filsafat itu, dan dalam hal ini filsafat yang dikenal sejak Plato sampai sekarang dapat disebut sebagai upaya untuk menjinakkan ‘yang lain’ (the other). Namun dapat juga dikatakan  bahwa proses berpikir itu sendiri —tidak Cuma dalam filsafat, dan tidak cuma di ‘Barat’— merupakan suatu proyek penjinakan dan asimilasi terhadap ‘yang lain’ dan orang tak bisa untuk memilih untuk tidak demikian. Dalam kata-kata Theodore Adorno, “berpikir berarti mengidentifikasikan”. Artinya selama kita berpikir, kita tak bisa lepas dari merumuskan identitas-identitas, membentuk pengertian-pengertian dan kategori-kategori, membentuk serta menggunakan konsep. Membentuk dan menggunakan konsep berarti menguasai keanekaragaman dan carut marut fenomena di luar kesadaran, dan serentak dengan itu meletakkan mereka di dalam satu kurungan yang sama, dan membekukan mereka sampai terjadi kesamaan: suatu proses abstraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah menjadi penting melihat prediksi Huntington di atas, tentang benturan peradaban. Huntington, ketika ia menunjuk pada peradaban ‘Barat’ dan ‘Islam’, sebenarnya berbicara tentang satu himpunan yang kaku membeku. Huntington menyebutkan ‘bahasa’, ‘adat’, ‘agama‘, ‘sejarah’ dan ‘institusi’ sebagai unsur-unsur obyektif yang membentuk ‘peradaban’; di situpun ia membayangkan sifat homogen, atau setidaknya satu padu, dari tiap-tiap ‘elemen’ itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengherankan, bila bagi Huntington, ‘Barat’ (sebuah kata sentral dalam argumennya) juga dengan sendirinya merupakan suatu identitas tersendiri yang tak bergeming. Seperti dikatakan oleh Fouad Ajami, dalam mengomentasi analisis Huntington itu, “Barat itu sendiri tidak diperiksa dalam esai Huntington, Tidak ada retakan yang melintasinya. Tak ada suara multikulturalis yang didengar. Ia tertib dalam kuburannya sendiri”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, yang ingin saya kemukakan adalah bahwa konsep apa pun yang kita terima baik itu konsep tentang ‘Barat’, ‘Islam’, ‘peradaban, dan ‘sejarah’, intinya adalah persoalan identitas, yang sebenarnya suatu konstruksi pikiran, suatu abstraksi, dan sebab itu sebenarnya merupakan sesuatu yang tidak pas dengan lengkapnya pengalaman terhadap apa yang hendak dirumuskannya. Dan saya kira ini ada kaintannya dengan apa yang dikemukakan oleh Edward Said ketika ia membicarakan ramainya discourse tentang ‘identitas nasional’ di Eropa, suatu discourse yang jelas sangat bertaut dengan nasionalisme, dan pada gilirannya, dengan imperialisme Eropa:  Kesadaran akan ‘kebudayaan kami’, yang umumnya dianggap sebagai fenomena kesatuan, pada saat yang sama diperhadapkan kepada ‘kebudayaan mereka’. Dan proses homogenisasi ke dalam hal itu, yang menyingkirkan segala kelainan, pun pada gilirannya menjadi proses kolonisasi ke luar. Tidak mengherankan bahkan seorang Marx sekalipun melihat ada hal-hal yang progresif dalam kolonialisme Inggris di India, sebuah negeri yang bercorak ‘modus produksi Asiatik’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka masalahnya bukan lagi masalah proses kognitif, masalahnya bukan sekedar masalah perubahan episteme, bila kita ingin bebas dari tekanan, gencetan dan pembisuan itu. Bagi mereka yang merasa terjerat oleh sejarah, dan merasa bahwa sejarah itu terjerat dalam dirinya, langkah emansipasi memerlukan sesuatu yang lain. Maka disinilah kita membutuhkan suatu exotopi, seperti yang kemukakan oleh bakhtin, yaitu suatu dialog, bukan sintesis atau dialektika; sebab sintesis atau dialektika (dalam pengertian Hegelian dan Marxis) adalah sesuatu yang dapat termuat dalam satu subyek tunggal, dan mengatasi kontradiksi dalam suatu pandangan yang monologis. ‘Exotopi’ berbeda: pada dasarnya exotopilah yang kita lakukan ketika membaca sebuah teks dan mengakui integritas teks itu, tetapi sementara itu juga membubuhkan suatu suplemen ke sana, dan itu berarti menciptakan suatu dialog —yakni dialog yang merupakan suatu kelanjutan kreativitas.  Dialog ini dalam konteks postmodernisme adalah terjadinya relasi antar-teks. Teks bukan hanya menunjuk pada kata-kata yang terdapat dalam buku-buku atau naskah-naskah tertulis, tapi semua kenyataan ini. Islam, Barat, tas besar, sepatu, celana kain dan semua yang kita tangkap, adalah teks. Teks ini dalam epistemologi postmodern telah kehilangan pemiliknya, pengarang telah mati (author is dead),  dan kalaupun ada maka mereka telah mati. Maka munculnya identitas seperti ‘Barat’, ‘Islam’, ‘Timur’ dan sebagainya itu perlu dilakukan pemaknaan ulang terhadapnya. Karena identitas itu sebenarnya adalah teks juga maka intertekstualitas sangat diperlukan disini untuk menciptakan suatu relasi-relasi yang lebih menekankan suatu power sharing di antara peradaban-peradaban yang ada. Dan saya kira suatu yang layak juga dipertimbangkan adalah, apa yang dikatakan oleh Julia Kristiva tentang, ‘subyek-dalam-proses’. Subyek di sini bisa siapa saja, Islam, Barat, ataupun yang lain. Subyek di sini bukan saja subjek yang belum rampung, tetap
